Mengikut Yesus tetapi tidak mengenal Kristus ( 8 April 2026 )

Renungan hari ini dari bacaan Kisah Para Rasul 3:1-10; Lukas 24:13-35.
Waktu Ia duduk makan dengan mereka, Ia mengambil roti, mengucap berkat, lalu memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada mereka. Ketika itu terbukalah mata mereka dan merekapun mengenal Dia (Luk. 24:30-3

Setelah Yesus disalib, mati dan dikuburkan, para pengikut-Nya kehilangan harapan. Mengapa demikian? Karena mereka tidak mengerti bahwa Yesus akan bangkit, mereka lupa walaupun Yesus pernah mengatakannya.

Mereka menjadi murid Yesus, dan mendengar pengajaran-Nya, tetapi mereka tidak memahami semua pesan-Nya, dan pola pikir mereka belum berubah dari konsep mereka yang lama. Mereka masih berharap bahwa Yesus akan menjadi raja mesias yang menaklukkan penjajahan Romawi, raja yang bangkit berperang bagi mereka dan mendirikan pemerintah di Yerusalem seperti Daud dahulu.

Begitulah konsep yang umumnya dipegang orang Yahudi zaman itu tentang mesias: seorang penakluk yang membebaskan orang Yahudi, mengalahkan musuh-musuh mereka dan membawa kejayaan dan kesejahteraan bagi bangsa mereka.

Oleh karena itu mereka pikir harapan mereka sudah sirna, karena Yesus sudah mati. Mereka kembali ke kehidupan mereka yang dulu. Masing-masing mereka ketakutan dan menyelamatkan diri mereka sendiri. Masing-masing kembali ke kampung halamannya dan kepada pekerjaan mereka sebelumnya.

Dikisahkan oleh Lukas (Luk.24:13-35) ada dua orang dari antara para pengikut-Nya yang sedang berjalan meninggalkan kota Yerusalem, salah seorang bernama Kleopas (Luk. 24:18). Lukas tidak menyebutkan nama orang yang berjalan bersama Kleopas, tapi mungkin saja itu adalah istrinya. Jika ditelusuri Kleopas adalah suami dari Maria, saudara Maria ibu Yesus (Yoh. 19:25), orang tua dari Yakobus (Mrk. 15:40). Jadi Kleopas dan istrinya masih memiliki hubungan keluarga dengan Yesus, dan sangat mungkin mereka mengenal Yesus sejak kecil, karena murid-murid Yesus berasal dari daerah Galilea.

Namun, pengenalan secara fisik sekian lama itu tidak membuat mereka mengenal kedalaman pikiran dan perasaan Yesus: apa tujuan hidup-Nya, bahkan inti pengajaran-Nya, karena konsep dan harapan yang lama masih teguh mereka pegang. Mereka harus melepaskan pemahaman yang lama dulu, baru mereka bisa memahami pengajaran Yesus.

Yesus hadir dalam perjalanan mereka dari Yerusalem menuju ke Emaus. Di perjalanan itu mereka bercakap-cakap mungkin sebuah percakapan tentang kekecewaan dan kesedihan mereka akan kematian Yesus. Dan Yesus bergabung dalam perjalanan dan percakapan mereka. Yesus menegur kebodohan dan kelambanan cara pikir mereka yang terbelenggu oleh konsep mesias dunia ini (Luk. 24:25). Lalu Yesus menjelaskan dengan dasar kitab suci dan nubuat para nabi, tentang tujuan kedatangan mesias yang sesungguhnya (Luk. 24:26-27). Akhirnya secara perlahan mereka mulai memahami apa yang kitab suci katakan tentang Yesus. Namun, dalam percakapan dan perjalanan itu mereka masih belum juga mengenali, bahwa Yesus sendirilah yang sedang berjalan dan mengajar mereka.

Kemudian mereka sampai di sebuah penginapan, mereka masuk dan mereka mengajak Yesus makan bersama, dan ketika Yesus berdoa, terbukalah mata mereka dan mereka mengenali Yesus.

Banyak orang Kristen seperti Kleopas ini. Sudah lama menjadi Kristen, bahkan mungkin Kristen “sejak lahir,” atau sudah lama menjadi anggota gereja, dan rajin mengikuti pendalaman Alkitab, tetapi masih memiliki konsep yang salah tentang Yesus. Masih berpikir bahwa Tuhan itu tugasnya memberkati, menjagai, menyembuhkan, membuat hidup umat-Nya di dunia ini aman, nyaman dan sejahtera. Sehingga ketika hidup tidak berjalan seperti yang diharapkan, ketika badai datang menerpa, kita tidak bisa melihat bahwa itu juga bagian dari rencana dan berkat Tuhan dalam hidup ini.

Jika Yesus hanya datang untuk menjadi juruselamat duniawi (sakit sembuh, mujizat, meredakan badai, membangkitkan orang mati, menyediakan makanan, kebutuhan jasmani) maka Dia tidak perlu disalib. Karena sebelum disalib pun Ia telah melakukan hal-hal itu. Tapi Yesus datang lebih dari sekedar itu, Dia datang untuk memberikan hidup yang kekal, karena itu Dia perlu mati disalib untuk menebus dosa kita.

Yesus memperhatikan keadaan kekal kita lebih daripada kehidupan kita yang sementara di dunia ini. Tetapi sering kali kita berpikir sebaliknya, lebih memperhatikan hidup kita di dunia ini, dan tidak memikirkan kehidupan kekal yang akan datang. Karena itu kita perlu membuka hati dan pikiran kita, memahami apa yang Alkitab ajarkan, dan melepaskan segala konsep duniawi kita, agar kita memahami maksud Allah dalam hidup kita: yaitu agar kita memindahkan hati kita dari dunia ini ke dunia yang akan datang, tidak berfokus hanya kepada berkat jasmani tapi lebih mengutamakan berkat rohani; agar jiwa kita diubahkan, kedagingan kita semakin dimatikan, karakter kita semakin didewasakan, sehingga keselamatan kekal itu menjadi milik yang pasti.

Namun seringkali kita seperti Kleopas; setelah kita ikut pendalaman Alkitab dan memahami rencana-Nya dalam hidup kita, sering kali kita belum juga menemukan Dia. Maka Yesus mengajak kita untuk “makan semeja dengan Dia.” Menemukan pribadi-Nya tidak cukup dengan nalar dan logika belaka. Tetapi juga kita harus duduk dan berdiam diri di hadapan-Nya. Menikmati hadirat-Nya dalam ruang doa, baru kita dapat bertemu secara pribadi dengan Dia.

Mari kita tanggalkan segala konsep pemikiran dunia ini tentang Tuhan, dan tekun mencari Dia dengan hati yang tulus tanpa agenda pribadi, serta mencari wajah-Nya dalam keheningan doa, niscaya kita akan menemukan harta yang kekal: mengenal dan dikenal Yesus.

Penulis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *