Bertobat dan Diutus Membawa Damai ( 9 April 2026 )

Renungan hari ini dari bacaan Kisah Para Rasul 3:11-26; Lukas 24:35-48.
 “Karena itu sadarlah dan bertobatlah, supaya dosamu dihapuskan.” (Kis 3:19)

“Sementara mereka bercakap-cakap tentang hal-hal itu, Yesus tiba-tiba berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata kepada mereka, “Damai sejahtera bagi kamu!” (Luk. 24:36 )

Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering berada dalam posisi seperti orang banyak dalam Kisah Para Rasul: kita takjub melihat karya Tuhan, bahkan bersukacita atas mukjizat dan pertolongan-Nya, tetapi belum sungguh memahami makna terdalamnya. Kita mudah terpukau pada hasil -kesembuhan, keberhasilan, atau pertolongan nyata – namun sering lupa bahwa semuanya berasal dari Allah dan terarah pada misi keselamatan yang dikerjakan oleh Yesus.

Kedua ayat yang disebut di atas saling melengkapi. Di satu sisi, kita diajak untuk bertobat, dan di sisi lain, kita disapa oleh Kristus yang bangkit dengan damai sejahtera. Dua hal ini tidak dapat dipisahkan: pertobatan membuka hati kita kepada Tuhan, dan perjumpaan dengan Tuhan menghadirkan damai yang sejati.

Pertobatan bukan sekadar perasaan bersalah. Pertobatan adalah keberanian untuk berbalik arah, meninggalkan dosa dan kembali kepada Allah dengan iman yang penuh. Inilah yang dialami oleh Petrus. Ia yang pernah menyangkal Yesus tiga kali, kini setelah berjumpa dengan Kristus yang bangkit, mengalami transformasi yang luar biasa. Dengan penuh keberanian, ia berseru kepada orang banyak: “Bertobatlah!”

Perubahan dalam diri Petrus menunjukkan bahwa mukjizat terbesar bukanlah kesembuhan fisik, melainkan perubahan hati. Dari seorang yang takut menjadi seorang yang berani bersaksi; dari yang jatuh menjadi yang diutus. Pertobatan membuka pintu menuju hidup baru, hidup yang dipenuhi oleh rahmat dan tujuan ilahi.

Namun, pertobatan tidak berdiri sendiri. Injil Lukas menunjukkan kepada kita bahwa Yesus yang bangkit datang kepada para murid yang sedang diliputi ketakutan, kecemasan, dan rasa bersalah. Mereka telah meninggalkan Yesus dalam penderitaan-Nya. Mereka takut, bingung, dan merasa tidak layak. Dalam situasi seperti itu, Yesus tidak datang dengan teguran atau penghukuman. Ia justru berkata: “Damai sejahtera bagi kamu!”

Sapaan ini sangat dalam maknanya. Yesus tidak hanya menghibur, tetapi juga memulihkan. Ia menunjukkan bahwa kasih Allah selalu lebih besar daripada kegagalan manusia. Bahkan dalam keadaan kita yang paling rapuh, ketika kita ragu, takut, atau jatuh,Tuhan tetap hadir membawa damai.

Yesus bahkan menunjukkan luka-luka-Nya, bukan untuk mengingatkan kesalahan para murid, tetapi untuk menegaskan kesetiaan-Nya. Luka itu menjadi tanda kasih yang tidak pernah mundur, kasih yang tetap setia meskipun dikhianati. Dari luka itu lahirlah pengampunan, dan dari pengampunan lahirlah damai.

Tanpa pertobatan, hati kita akan tetap gelisah. Namun, ketika kita berani kembali kepada Tuhan, kita akan mengalami damai sejati, damai yang tidak tergantung pada situasi, melainkan lahir dari perjumpaan dengan Kristus yang hidup.

Pengalaman para murid juga adalah pengalaman kita. Kita pun bisa jatuh dalam kesalahan, melukai orang lain, atau bahkan menjauh dari Tuhan. Kita juga bisa menjadi seperti para murid yang takut dan menutup diri. Namun, kabar baiknya: Yesus tetap datang dan menyapa kita dengan damai.

Lebih dari itu, kita juga dipanggil untuk menjadi pembawa damai. Dunia kita hari ini masih penuh dengan perpecahan, permusuhan, dan kebencian. Sering kali, hal itu terjadi karena kita tidak memberi kesempatan bagi orang lain untuk berubah dan dipulihkan. Kita lebih mudah menghakimi daripada mengampuni.

Padahal, “syalom” yang dibawa oleh Kristus bukan sekadar ucapan damai, tetapi pemulihan yang utuh, pemulihan relasi dengan Allah dan sesama. Kita dipanggil untuk menghadirkan syalom itu dalam hidup kita: dengan memberi kesempatan kedua, dengan mengampuni, dengan merangkul kembali mereka yang pernah jatuh.

Masa Paskah mengingatkan kita bahwa tidak ada dosa yang terlalu besar untuk diampuni, dan tidak ada luka yang terlalu dalam untuk disembuhkan oleh kasih Kristus. Salib bukan tanda kekalahan, melainkan tanda kasih yang mempersatukan.

Karena itu, marilah kita tidak hanya mengalami kasih Tuhan, tetapi juga menjadi saksi-Nya. Seperti Petrus, mari kita berani berubah. Seperti para murid, mari kita membuka hati untuk menerima damai Kristus. Sebagai murid-murid-Nya, mari kita diutus untuk membawa damai itu kepada dunia.

Doa:
Tuhan Yesus, lunakkanlah hati kami, agar kami memiliki hati yang penuh kasih dan peduli seperti Engkau. Ajarlah kami untuk bertobat dengan sungguh, dan berani kembali kepada-Mu. Penuhilah hati kami dengan damai-Mu, agar kami mampu menjadi pembawa damai bagi sesama. Bimbinglah para pemimpin dunia agar dipenuhi hikmat-Mu, sehingga kasih dan kepedulian semakin nyata di dunia ini. Amin.

Penulis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *