Bonekkah Aku? ( 11 April 2026 )

Renungan hari ini dari bacaan Kis 4:13-21; Markus 16:9-15.

Bonek (bondho nekat) merupakan ciri pendukung dan penyemangat klub sepakbola Persebaya yang mempunyai loyalitas dan totalitas dalam mendukung Persebaya. Ini merupakan kelompok pendukung klub sepakbola terbesar di Indonesia. Ciri loyalitas dan totalitas mereka membuat istilah ini popular.

Apakah kita juga bonek-nya Yesus? Membaca Injil hari ini (Mrk. 16:9-15) membuat kita dapat membayangkan pergulatan Yesus sebelum meninggalkan murid-murid-Nya. Lha…. Kita yang cucu ke sekian angkatan itu bagaimana? Apakah kita boneknya Yesus?

Kedua perikop (Kis. 4:13-21 dan Mrk. 16:9-15) dari sisi kronologis zaman dulu idealnya dibaca terbalik urutannya. Kita perlu membaca perikop Injil Mrk. 16:9-15 terlebih dahulu, lalu Kis. 4:13-21.

Dalam perikop Injil, Markus menulis pengalaman iman Petrus di kota Roma untuk umat yang berlatarbelakang non-Yahudi. Bayangkanlah Petrus tua menceritakan kisah yang menggetarkan hidupnya, pengalaman kebangkitan Yesus gurunya. Kita duduk bersama kelompok umat perdana mendengarkan kisah iman ini. Kita dapat mendengarkan getaran haru suara Petrus, bahkan bisa mengamati air mata turun dari kerutan wajah yang berjenggot putih.

Dari ingatannya Petrus menceritakan pengalaman Maria Magdalena yang melihat Yesus yang bangkit. Menceritakan pengalaman ini bagi Petrus sama dengan membuka kerapuhan para murid-murid perdana. Manusia bangkit dari kematian pada zaman Petrus maupun pada zaman kita dewasa ini adalah peristiwa yang langka. Mustahil terjadi. Kalau zaman ini, semua jenazah pasti disuntik formalin, sehingga yang mati suri saja pasti akan langsung mati tanpa ada kesempatan bangkit. Dengan demikian kebangkitan orang ‘mati’ dijamin tidak mungkin terjadi.

Bersama Petrus tua di kota Roma, bayangkanlah Petrus mendengarkan Maria Magdalena mewartakan kebangkitan Yesus kepada para pengikut Yesus yang berduka. Mereka sudah lupa pesan-pesan Yesus mengenai kebangkitan. Mereka terhenyak, tidak percaya. Masa setelah Kristus wafat di kayu salib sementara para murid lari, memang masa kelam, gelap gulita bagi para murid. Mereka mengalami masa krisis terdalam dalam hidup mereka. Mana mungkin mereka percaya Yesus bangkit?

Yesus tidak hanya menjumpai Maria Magdalena. Setelah kebangkitan-Nya Yesus juga berjumpa dengan murid-murid lainnya (Mrk. 16:12). Bagi yang sudah akrab akan ingat yang dimaksud Markus ini adalah kedua murid yang ke Emmaus.

Ada kondisi tidak percaya. Tidak percaya pada pewartaan dan kesaksian seorang perempuan yang pernah disembuhkan oleh Yesus dan dua orang murid lain (laki-laki). Zaman ini pun walaupun sudah ikut ibadat, sudah belajar Kitab Suci masih ada ketidakpercayaan. Kalau percaya saja tidak, bagaimana bisa loyal dan totalitas? Bagaimana bisa jadi bonek Yesus?

Bersama Petrus tua, bayangkanlah perjumpaan Yesus dengan para murid. Yesus perlu turun tangan langsung berjumpa dengan kesebelas murid (Mrk 16:14). Yesus mencela ketidakpercayaan dan kedegilan hati. Para murid tidak percaya kesaksian orang lain. Bagian ini khas orang Yahudi yang keras kepala, para murid hanya percaya kesaksian yang dialami sendiri, berjumpa sendiri dengan Yesus. Apakah kita juga seperti para murid? Marilah memeriksa diri sendiri, bagaimana relasiku dengan Yesus? Bagaimana perjumpaan pribadiku dengan Yesus? Apakah yang dipesankan Yesus dalam perjumpaanku itu? Apakah kita menjadi loyal dan totalitas seperti para Bonek? Para bonek saja bisa sampai seperti itu, yang lebih besar daripada perkumpulan Persebaya ada bersama kita, bahkan sudah menebus dosa-dosa kita.

Bersama renungan Petrus tua, kita mendengarkan Yesus berkata kepada Petrus dan teman-temannya: “Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk (Mrk. 16:15). Ini formulasi baru, menegaskan keselamatan dari Tuhan tidak untuk disimpan sendiri. Tidak senang sendiri. Pesan ini membangkitkan para murid dari masa kelam untuk menuntaskan pesan para nabi sebelum Yesus, untuk mewartakan keselamatan dari Allah untuk semua orang. Apakah kita disemangati oleh semangat yang sama itu? Menjadi bonek mewartakan kabar gembira keselamatan dari Allah?

Membaca tulisan Lukas dalam Kis. 4:13-21, kita menyaksikan dampak semangat berkobar yang tumbuh pada murid-murid pertama. “Ketika sidang itu melihat keberanian Petrus dan Yohanes dan mengetahui bahwa keduanya orang biasa yang tidak terpelajar, heranlah mereka; dan mereka mengenal keduanya sebagai pengikut Yesus.” (Kis. 4:13).

Siapa pun kita, saya yakin lebih hebat dari Petrus dan Yohanes, karena kita sudah menggunakan gawai, bahkan menjadi andalan 24 jam sehari, 7 hari seminggu. Apakah ketika di depan orang banyak dalam kehidupan sehari-hari, apalagi dalam ruang sidang kita bisa membuat orang-orang terpukau lebih daripada kehadiran Petrus dan Yohanes? Para bonek membuat penonton pendukung klub sepakbola lain terpukau dan menyusut nyalinya. Apakah kita lebih bonek daripada boneknya Persebaya? Bolehkah giliran kita menjadi andalan Kristus dalam mewartakan kabar gembira?

Dari tulisan Lukas pada Kis 4:13-21, kita menjadi tahu bahwa sudah di zaman dulu persekongkolan jahat itu ada. Zaman ini juga ada, baik di dalam keluarga, masyarakat, negara, dunia, bahkan di dalam lembaga gereja sendiri (bdk. Kis. 4:14-17). Bagi yang berusia empat puluhan mungkin masih ingat salah satu akal rezim Orde Baru, membungkam orang-orang yang kritis, yang mewartakan kebenaran. Zaman kini, kita berhadapan dengan buzzer-buzzer yang sudah dibayar mahal untuk memberitakan kabar bohong, untuk menenggelamkan kabar baik. Bila mau jadi bonek zaman ini, kita juga perlu menguasai cara lebih jitu mengemban tugas yang diberikan Yesus kepada para murid-Nya.

Yesus, kobarkanlah lagi semangat kami, agar menjadi bonek-bonek-Mu, menunjukkan dengan hidup kami, loyal, total, dan cerdik mewartakan kabar keselamatan dari-Mu.

Penulis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *