Dari Ragu menjadi Percaya ( 12 April 2026 )

Renungan hari ini dari bacaan Kisah Para Rasul 2:42-47; Yohanes 20:19-31
Tujuan: menyadari Tuhan hadir ditengah ketakutan dan keraguan kita
“Kata Yesus kepadanya, ‘Karena engkau telah melihat Aku, maka engkau percaya. Berbahagialah orang yang tidak melihat, namun percaya’” (Yoh. 20;29).

Pernahkah kita merasa takut atau ragu dalam hidup? Seperti para murid yang mengunci diri karena takut, atau seperti Tomas yang tidak percaya sebelum melihat.

Seringkali kita juga seperti itu, bukan? Kita mengunci pintu hati kita rapat-rapat karena trauma, kegagalan, atau rasa takut akan masa depan yang membuat kita ragu dan tidak percaya pada Tuhan.

Ada dua suasana hati yang sangat manusiawi yaitu takut dan ragu. Para murid saat itu sedang bersembunyi di dalam ruangan yang terkunci. Mereka takut ditangkap, takut mengalami nasib yang sama seperti Yesus. Dalam kondisi seperti itu, tiba-tiba Yesus hadir di tengah mereka dan berkata, “Damai bagi kamu!” Yesus tidak datang dengan teguran, tidak menyalahkan mereka karena lari atau bersembunyi. Ia justru membawa damai dan menghembusi mereka dan berkata “Terimalah Roh Kudus.”

Kemudian ada Tomas yang ragu dan tidak langsung percaya sebelum melihat dan menyentuh sendiri. Banyak dari kita mungkin mirip Tomas: ingin bukti, ingin kepastian. Tetapi, Yesus tidak marah pada Tomas. Ia justru datang lagi dan memberi kesempatan Tomas untuk percaya, sehingga Tomas yang ragu pun akhirnya sampai pada pengakuan iman: “Ya Tuhanku dan Allahku!” (Yoh. 20:28).

Yesus berkata kepada Tomas, “Karena engkau telah melihat Aku, maka engkau percaya. Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya” (Yoh. 20:29).  Ayat ini berbicara tentang kita sekarang. Kita tidak melihat Yesus secara langsung, tetapi kita diajak untuk percaya melalui pengalaman hidup, melalui firman, dan melalui kehadiran-Nya dalam keseharian.

Perjumpaan para murid dan Yesus tidak hanya membawa kedamaian. Yesus menunjukkan luka di tangan dan lambung-Nya. Luka itu bukan disembunyikan, tapi justru diperlihatkan. Artinya, kebangkitan tidak menghapus luka, tetapi memberi makna baru. Begitu juga dalam hidup kita, ada luka, kegagalan, dan pengalaman pahit tidak hilang begitu saja, tetapi bisa menjadi jalan kita untuk memahami kasih Tuhan lebih dalam.

Kisah Para Rasul 2:42-47 menunjukkan “buah” dari apa yang terjadi setelah para murid mengalami perjumpaan dengan Yesus dan menerima Roh Kudus. Mereka berubah total. Tidak lagi hidup dalam ketakutan, tetapi justru hidup dalam kebersamaan, keberanian, dan sukacita.

Mereka tekun dalam pengajaran, persekutuan, memecahkan roti, dan berdoa. Mereka saling berbagi, tidak ada yang berkekurangan. Ini bukan sesuatu yang dibuat-buat, tetapi lahir dari hati yang sudah disentuh oleh Tuhan.

Iman tidak berhenti pada pengalaman pribadi saja. Tidak cukup hanya “percaya dalam hati”. Iman yang sejati akan terlihat dalam cara kita hidup, cara kita memperlakukan orang lain, cara kita berbagi, dan cara kita membangun kebersamaan.

Mari kita membuka hati, menerima damai Tuhan dan mewujudkan iman kita dalam kasih yang nyata dalam keseharian di mana pun kita berada. Tuhan Yesus Memberkati.

Penulis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *