Murid Yesus vs Dunia ( 9 Mei 2026 )

Renungan hari ini dari bacaan Kisah Para Rasul 16: 1-10; Yohanes 15: 18-21
“Jikalau dunia membenci kamu, ingatlah bahwa ia telah lebih dahulu membenci Aku daripada kamu” (Yoh. 15:18).

Injil Yohanes hari ini mengajak kita melihat sisi lain dari menjadi pengikut Kristus. Menjadi murid Yesus tidak selalu identik dengan kenyamanan dan penerimaan. Ada kalanya hidup sebagai pengikut Kristus justru menghadirkan penolakan, kesalahpahaman, bahkan kebencian. Karena itu, Yesus berkata, “Jika dunia membenci kamu, ingatlah bahwa ia telah lebih dahulu membenci Aku daripada kamu” (Yoh. 15:18).
Melalui perkataan ini, Yesus seolah ingin mengatakan kepada para murid-Nya: jangan terkejut apabila hidup dalam kebenaran tidak selalu diterima oleh dunia. Sabda ini bukan dimaksudkan untuk membuat kita takut atau pesimis, melainkan untuk menguatkan iman. Sejak awal, Yesus sudah menyiapkan hati para murid agar mereka tidak goyah ketika menghadapi kenyataan hidup yang tidak mudah.
Sering kali kita berpikir bahwa hidup beriman dan melayani Tuhan akan membuat segala sesuatu berjalan lancar. Namun, kenyataannya tidak selalu demikian. Dalam kehidupan sehari-hari, ketika kita berusaha hidup jujur, tulus, dan benar, justru bisa muncul berbagai tantangan. Saat kita menolak ikut dalam tindakan yang tidak benar di tempat kerja, kita mungkin dianggap tidak kompak. Ketika kita berpegang teguh pada nilai-nilai iman, orang lain bisa menganggap kita aneh, terlalu kaku, atau bahkan sok suci. Di situlah kita mulai memahami apa yang dimaksud Yesus tentang “dibenci dunia”.
Yesus juga mengatakan bahwa kita bukan berasal dari dunia. Artinya, identitas kita sebagai murid Kristus memang berbeda. Kita dipanggil untuk hidup dalam kasih, kebenaran, dan kesetiaan kepada Tuhan, bukan sekadar mengikuti arus dunia. Perbedaan inilah yang terkadang membuat kita tidak mudah diterima. Bahkan di dalam komunitas rohani pun, pengalaman penolakan bisa saja terjadi. Namun, justru di situlah letak kesaksian iman kita. Dunia dapat melihat bahwa ada sesuatu yang berbeda dalam cara hidup seorang murid Kristus.
Akan tetapi, kita juga perlu menyadari bahwa penolakan yang kita alami jangan sampai terjadi karena sikap kita sendiri yang kasar, sombong, atau merasa paling benar. Sebaliknya, sebagai murid Yesus kita dipanggil untuk tetap rendah hati, mengasihi, dan berbuat baik kepada semua orang. Yesus sendiri telah lebih dahulu mengalami penolakan. Ia tahu bagaimana rasanya disalahpahami, ditolak, bahkan disakiti. Maka setiap kali kita mengalami hal serupa karena iman kita kepada-Nya, sesungguhnya kita sedang berjalan bersama dan dipersatukan dengan Dia.
Lalu mengapa dunia membenci para pengikut Yesus? Sabda Tuhan berkata: “Tetapi semuanya itu akan mereka lakukan terhadap kamu karena nama-Ku, sebab mereka tidak mengenal Dia, yang telah mengutus Aku” (Yoh. 15:21). Banyak orang menolak kita bukan karena kita jahat, tetapi karena mereka belum sungguh mengenal Yesus dan belum mengalami kasih Allah. Karena itu, tugas kita bukan membalas kebencian dengan kebencian, melainkan menjadi sarana agar orang lain dapat mengenal Tuhan melalui hidup kita.
Kiranya Tuhan memberi kita kekuatan untuk tetap teguh dalam iman, hidup dalam kasih, dan tidak takut menghadapi penolakan. Dalam pertolongan Roh Kudus, semoga kita tetap setia berjalan bersama Kristus. Sebab yang terpenting bukanlah apakah dunia menerima kita, melainkan apakah kita tetap setia kepada Tuhan yang telah lebih dahulu mengasihi kita.
Tuhan Yesus memberkati.

Penulis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *