| Renungan hari ini dari bacaan Kisah Para Rasul 2 :1-11; Yohanes 20: 19-23. “Damai sejahtera bagi kamu! Sama seperti Bapa mengutus Aku, sekarang Aku juga mengutus kamu” (Yoh. 20:21). |
Para murid sedang berada dalam ketakutan. Pintu tempat mereka berkumpul terkunci rapat karena takut kepada orang-orang Yahudi. Hati mereka gelisah, bingung, dan kehilangan arah setelah Yesus wafat. Namun, pada malam di tengah suasana itu, Yesus tiba-tiba hadir dan berdiri di tengah mereka sambil berkata, “Damai sejahtera bagi kamu” (Yoh. 20: 19). Sapaan itu sederhana, tetapi sangat menguatkan. Yesus tidak datang untuk menghakimi murid-murid yang lari meninggalkan-Nya. Ia datang membawa damai, pengampunan, dan harapan baru.
Lalu Yesus menunjukkan tangan dan lambung-Nya kepada murid-murid-Nya. Mereka bersuka cita melihat Tuhan (ay. 20). Luka-luka itu menjadi bukti bahwa kasih-Nya nyata dan pengorbanan-Nya sungguh untuk menyelamatkan manusia. Setelah itu Yesus menghembusi mereka dan berkata, “Terimalah Roh Kudus.” Dari murid-murid yang takut, mereka diubah menjadi pribadi yang berani dan siap diutus. Misi murid-murid adalah melanjutkan misi yang telah Yesus terima dari Bapa-Nya.
Peristiwa ini berkaitan erat dengan bacaan pertama dari Kisah Para Rasul 2:1-11, yaitu peristiwa Pentakosta. Saat para rasul berkumpul, turunlah Roh Kudus dalam rupa lidah-lidah api. Mereka yang sebelumnya takut kini menjadi berani mewartakan kabar keselamatan. Bahkan banyak orang dari berbagai bangsa mendengar pewartaan itu dalam bahasa mereka masing-masing. Roh Kudus mempersatukan banyak orang yang berbeda latar belakang.
Keadaan hati murid-murid saat itu, juga sering kita alami dalam kehidupan sehari-hari. Banyak orang hidup seperti para murid yang mengunci pintu hati. Karena rasa takut menghadapi masa depan, takut gagal, takut ditolak, takut sakit, atau takut menghadapi masalah keluarga dan pekerjaan. Kadang hati kita juga terasa “terkunci” karena kecewa, luka batin, atau dosa. Namun, Yesus tetap datang menembus pintu hati yang tertutup itu. Ia tidak menunggu kita sempurna. Ia datang membawa damai dan berkata, “Damai sejahtera bagi kamu.”
Roh Kudus yang sama juga bekerja dalam hidup kita saat ini. Roh Kudus memberi kekuatan ketika hati kita lemah, memberi penghiburan saat sedih, dan memberi keberanian untuk tetap hidup benar di tengah dunia yang tidak mudah. Kadang kita berpikir bahwa pewartaan hanya tugas imam, biarawan, atau pelayan Gereja. Padahal setiap orang Kristiani dipanggil menjadi pewarta lewat hidup sehari-hari: lewat kesabaran, kejujuran, pengampunan, perhatian kepada sesama, dan kata-kata yang membangun iman.
Peristiwa Pentakosta mengajarkan bahwa Tuhan dapat memakai siapa saja. Para rasul hanyalah orang biasa, tetapi ketika dipenuhi Roh Kudus, mereka mampu melakukan hal-hal luar biasa. Demikian juga kita. Tuhan tidak mencari orang yang sempurna, tetapi Ia akan menyempurnakan orang yang mau membuka hati untuk dipimpin Roh-Nya.
Roh Kudus mengubah hati yang tertutup menjadi terbuka, hati yang takut menjadi penuh keberanian, dan hati yang bingung menjadi penuh keyakinan.
Biarlah damai Tuhan tinggal dalam hidup kita, sehingga melalui perkataan dan tindakan kita, orang lain juga dapat merasakan kasih dan kehadiran Tuhan.
