Ditebus oleh Darah Kristus ( 27 Mei 2026 )

Renungan hari ini dari bacaan 1 Petrus 1:18-25; Markus 10: 32-45 “Melalui Dialah kamu percaya kepada Allah yang telah membangkitkan Dia dari antara orang mati dan yang telah memuliakan-Nya, sehingga imanmu dan pengharapanmu tertuju kepada Allah” (1Ptr. 1:21).

Ada cerita dari seorang remaja yang pernah mempertanyakan: “Apakah benar Yesus itu Tuhan? Apakah benar Yesus itu Almasih yang menebus dosa manusia? Kalau iya, mengapa Yesus mati, bahkan disalibkan? Mengapa Yesus tidak menyelamatkan diri-Nya sendiri? Bagaimana Yesus akan menyelamatkan manusia?” Pertanyaan-pertanyaan yang penuh kegalauan itu pada akhirnya dijawab sendiri oleh Tuhan, ketika remaja itu mengalami pertolongan Tuhan dan percaya kepada ketuhanan Kristus Yesus. Amin. Terpujilah Tuhan.

Lalu bagaimana dengan kita?

Darah Kristus sudah menebus kehidupan kita yang lama kepada kehidupan yang baru. Penebusan itu bukan dibayar dengan kekayaan, uang, atau harta, tetapi melalui pengorbanan Yesus sendiri: darah-Nya yang kudus, yang dicurahkan melalui wafat-Nya di kayu salib.

Cara hidup kita yang lama adalah cara hidup yang sia-sia: mengikuti keinginan sendiri, pikiran sendiri, serta menjalani hidup berdasarkan rencana diri sendiri tanpa mengandalkan Tuhan. Kalau kita mengingat perjalanan hidup kita, pasti ada masa-masa di mana kita melakukan keputusan-keputusan yang bodoh, yang mungkin sekarang membuat kita malu. Semua itu terjadi karena hidup didasarkan pada ego, kemauan diri sendiri, dan prinsip hidup yang membingungkan serta keliru. Itu membuktikan betapa lemah dan tidak berdayanya manusia tanpa Tuhan.

Namun, syukur kepada Tuhan, Yesus sendiri yang datang memperjuangkan dan menebus kita.

Juruselamat dunia yang tidak berbuat dosa justru diolok-olok, diludahi, disesah, dan akhirnya dibunuh dalam keadaan-Nya sebagai manusia. Bahkan setelah semua penderitaan itu, prajurit masih menikam lambung-Nya dengan tombak. Seolah-olah dosa manusia tidak pernah puas menyakiti Dia. Itulah gambaran manusia yang tidak mengenal Allah: hidup di dalam dosa dan dikuasai kegelapan.

Tetapi, melalui darah-Nya yang kudus, seperti darah anak domba yang tak bercacat, Yesus menebus dosa umat manusia. Betapa berharganya kita di mata Tuhan.

Setiap pribadi pasti memiliki kisah bagaimana Kristus menyelamatkan hidupnya. Ada yang mengalami perjumpaan dengan kuasa Yesus hanya dalam satu momen lalu langsung percaya. Ada juga yang melalui proses panjang bertahun-tahun. Namun, Tuhan tidak pernah berhenti memanggil dan menolong manusia untuk mengerti kasih-Nya. Ia tidak bosan. Ia begitu setia menanti manusia berdosa datang bertobat. Ia setia menunggu dan memproses hidup kita, supaya kita diselamatkan dari hukuman maut dan menerima hidup yang kekal bersama-Nya.

Ayat 21 menekankan bahwa Allah sendiri yang memampukan kita percaya kepada Yesus Kristus. Ketika kita mengaku dalam hati, melalui perkataan dan perbuatan, lalu mengundang Dia menjadi Raja yang mengendalikan hidup kita dengan berkata, “Ya Tuhan Yesus, aku percaya kepada-Mu, ubahkanlah hidupku,” maka iman dan pengharapan kita akan terus diperbarui dan dibimbing untuk hidup tertuju kepada Allah.

Karena itu, marilah kita tidak lagi hidup untuk diri sendiri, tetapi belajar mengandalkan Tuhan dalam setiap keputusan, hidup dalam pertobatan, dan bersyukur atas kasih-Nya yang begitu besar. Seperti janji-Nya dalam Injil Markus 10:45: “Karena Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.”

Terpujilah Tuhan. Ya dan Amin.

Penulis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *