Turut Serta Menghadirkan Kerajaan Allah di Muka Bumi ( 18 Juni 2026 )

Renungan hari ini dari bacaan Sirakh 48:1-14; Matius 6: 6-15 “Ada tertulis bahwa engkau disiapkan supaya pada waktunya meredakan kemurkaan sebelum meletus, dan mengembalikan hati paa bapa kepada anak-anaknya serta memulihkan suku-suku Yakub” (Sir.48:10).

Firman hari ini sangat menarik bagi saya. Terus terang, ini kali pertama saya membaca Kitab Sirakh secara lebih mendalam. Karena itu, izinkan saya membagikan pemahaman sederhana yang saya peroleh. Semoga renungan ini menjadi berkat bagi kita semua. Amin.
Dalam beberapa hari terakhir, kita belajar banyak tentang prinsip-prinsip kehidupan melalui pelayanan Nabi Elia. Ketika mendengar nama Elia, apa yang terlintas dalam pikiran kita?
Elia adalah seorang abdi Allah, seorang nabi yang menjadi “kepanjangan tangan” Tuhan untuk menyampaikan pesan-pesan-Nya kepada manusia. Kitab Sirakh menggambarkannya sebagai pribadi yang perkataannya laksana obor yang menyala (Sir. 48:1). Hidupnya dipakai Tuhan secara luar biasa. Melalui dirinya, Tuhan mengizinkan berbagai mukjizat terjadi demi menolong manusia dan membawa mereka kembali kepada keselamatan.
Elia berdoa dengan sungguh-sungguh agar bangsa-bangsa bertobat dan kembali kepada Allah yang hidup. Karena ketaatannya, kuasa Tuhan dinyatakan. Firman Tuhan mengatakan bahwa melalui sabda Allah, Elia menutup langit dan menurunkan api dari surga (Sir. 48:3). Semua itu menunjukkan bahwa Allah bekerja melalui orang yang percaya dan taat kepada-Nya.
Tidak hanya menjadi alat mukjizat bagi orang lain, Elia sendiri mengalami karya Allah yang luar biasa. Ia diangkat ke surga dalam pusaran api dengan kereta dan kuda-kuda berapi (Sir. 48:9). Kehidupannya menjadi kesaksian bahwa tidak ada yang mustahil bagi Tuhan.
Menariknya, kehidupan Nabi Elia sangat selaras dengan prinsip-prinsip yang diajarkan Yesus dalam Doa Bapa Kami (Mat. 6:6-15). Elia adalah seorang yang hidup dalam relasi yang intim dengan Allah. Ia mendengar suara Tuhan di Gunung Sinai dan Gunung Horeb (Sir. 48:7). Ia menyediakan waktu khusus untuk berdiam di hadapan Tuhan, mendengarkan firman-Nya, dan memahami kehendak-Nya.
Demikian pula Tuhan Yesus mengajarkan kepada kita pentingnya doa pribadi: “Jika engkau berdoa, masuklah ke dalam kamarmu, tutuplah pintu dan berdoalah kepada Bapamu yang ada di tempat tersembunyi” (Mat. 6:6). Allah tidak mencari banyak kata-kata, melainkan hati yang datang dengan tulus kepada-Nya. Betapa bersyukurnya kita karena diberi hak istimewa untuk berdoa kapan saja dan di mana saja.
Dalam Doa Bapa Kami kita berdoa: “Dikuduskanlah nama-Mu, datanglah kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di surga.” Elia adalah contoh nyata seseorang yang hidup untuk menghadirkan kehendak Allah di bumi. Ia percaya sepenuhnya kepada Tuhan, hidup dalam kebenaran, dan menjadi perantara agar banyak orang kembali kepada Allah. Dengan kata lain, ia turut menghadirkan Kerajaan Allah di tengah kehidupan manusia.
Dari firman hari ini, kita belajar beberapa hal yang indah. Bagi Allah tidak ada yang mustahil. Ia sangat mengasihi manusia dan bangsa-bangsa. Ia menghendaki pertobatan setiap orang. Yang luar biasa, Allah berkenan melibatkan kita dalam karya keselamatan-Nya.
Karena itu, bagian kita adalah mendengarkan suara-Nya melalui firman, memahami kehendak-Nya, dan hidup dalam ketaatan. Ketika kita berdoa, mengampuni, mengasihi, melayani, dan membagikan kabar baik kepada sesama, sesungguhnya kita sedang ikut menghadirkan Kerajaan Allah di muka bumi.
Terima kasih Tuhan untuk teladan hidup Nabi Elia yang mengajarkan ketaatan dan keberanian. Terima kasih untuk Doa Bapa Kami yang mengajarkan kami cara berdoa yang benar. Tolonglah kami agar tetap setia mendengarkan suara-Mu, melakukan kehendak-Mu, dan mengambil bagian dalam karya-Mu yang agung dan ajaib.
Dalam nama Bapa dan Putra dan Roh Kudus. Amin.

Penulis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *