| Renungan hari ini dari bacaan Zakharia 9:9-10; Matius 11:25-30. “Jiwamu akan mendapat kelegaan” (Mat. 11:29) |
Ketika membaca bacaan pertama (Zak. 9:9-10), membacanya berulang-ulang, kita seakan mendengar suara Nabi Zakharia tentang masa depan, yang bagi kita sekarang telah menjadi masa lampau. Nabi itu memberikan gambaran yang menenangkan kepada orang-orang yang baru pulang dari pembuangan dan sedang membangun kembali Yerusalem. Seorang raja yang adil, jaya, lemah lembut, menunggang seekor keledai, dan memberitakan damai.
Gambaran itu sungguh menenteramkan hati. Itulah gambaran tentang Yesus yang kita kenal sekarang. Ketika membaca Injil, memang demikianlah wajah Yesus yang kita jumpai. Namun, apakah semuanya itu masih relevan bagi kita pada zaman ini, terutama di Indonesia saat ini? Adil, jaya, lemah lembut, dan memberitakan damai – bukankah ini yang didambakan oleh banyak orang yang hidup dalam kecemasan dan kesusahan?
Selaras dengan bacaan pertama, Injil Matius 11:25-30 menampilkan ajakan Sang Juruselamat. Perikop ini merupakan kelanjutan dari pengajaran Yesus sebelumnya, setelah kecaman-Nya terhadap beberapa kota dan pembicaraan mengenai Yohanes Pembaptis.
Bacaan ini menegaskan siapa sasaran pengajaran Yesus: orang-orang kecil (Mat. 11:25). Siapakah yang akhirnya mengenal Yesus? Apakah para bijak dan cendekia? Para profesor, kalau memakai istilah zaman sekarang? Ternyata tidak sesederhana itu. Mengenal Yesus memerlukan penyingkapan dari Allah sendiri.
Pertanyaan itu pun menjadi sangat pribadi: apakah aku sungguh mengenal Allah? Mengenal Yesus? Apakah hanya dengan otak, atau juga melalui penghayatan hidup dan gaya hidup sehari-hari? Pertanyaan-pertanyaan ini tetap aktual bagi siapa pun yang mengaku sebagai pengikut Kristus.
Lebih jauh lagi, sebagai warga Indonesia, pertanyaan ini pun menjadi sangat relevan dalam terang sila pertama Pancasila. Apakah kita sungguh mengenal Allah? Terutama mereka yang memegang kekuasaan dan mengambil keputusan bagi banyak orang, apakah mereka sungguh mengenal Allah yang lemah lembut, adil, dan mencintai damai?
Kepada para pengikut-Nya yang letih lesu dan berbeban berat, Yesus menjanjikan kelegaan. Namun, kelegaan itu bukan berarti beban diangkat dan dihilangkan begitu saja. Beban itu tetap harus dipikul. Yang berubah adalah cara menanggungnya: bersama Yesus yang lemah lembut dan rendah hati. Kesadaran bahwa kita berjalan bersama-Nya membuat jiwa memperoleh kelegaan. Itulah janji-Nya (Mat. 11:29).
Di tengah perjuangan hidup seorang pengikut Kristus, bacaan hari ini sungguh menjadi penghiburan dan peneguhan.
Saya teringat berbagai program nasional yang sedang ramai dibicarakan: MBG, KMP, dan PSN. Bagi mereka yang mendambakan kesejahteraan bagi orang kecil dan kaum miskin, berbagai kenyataan yang muncul sering kali terasa menyesakkan. Seolah-olah para pengambil keputusan begitu jauh dari pelaksanaan nilai-nilai Pancasila. Pancasila terasa tidak relevan, padahal ia merupakan warisan luhur bangsa Indonesia.
Kadang muncul perasaan bahwa Tuhan begitu jauh, atau seakan menjauh dari negeri ini, ketika korupsi, penindasan, dan perampasan hak terus terjadi. Namun, justru di tengah pengalaman seperti itulah pesan-pesan hari ini menghadirkan harapan.
Kita semua dipanggil untuk memantulkan pesan itu dalam hidup kita masing-masing. Kita tidak harus memulai dengan langkah besar. Kita diundang untuk melangkah dengan satu tindakan sederhana yang dapat melegakan sesama. Ayo.
Yesusku, tidak mudah menemukan wajah-Mu dalam kondisi Indonesia saat ini. Namun, pesan dan janji-Mu tetap melegakan kami. Dampingilah kami agar berani melangkah secara sederhana, menampilkan wajah-Mu yang lemah lembut dan rendah hati dengan meneladaninya. Amin.
