PELAYANAN YANG LUAR BIASA ( 11 Juli 2026 )

Renungan hari ini dari bacaan Yesaya 6:1-8; Matius 10:24-33 “Janganlah takut terhadap mereka yang membunuh tubuh tetapi tidak berkuasa membunuh jiwa; takutlah terutama kepada Dia yang berkuasa membinasakan baik jiwa maupun tubuh di dalam neraka” (Mat. 10:28)

Sebelum Yesaya dipanggil menjadi nabi, ia mengalami perjumpaan yang mengubah hidupnya dengan kekudusan dan kemuliaan Allah. Rasa takjub akan hadirat Allah, yaitu takut akan Tuhan, bukanlah sekadar permulaan dari hikmat (Mzm. 111:10), melainkan juga permulaan dari pelayanan. Yehezkiel pun mengalami rasa takut akan Tuhan secara mendalam sebelum ia menjadi nabi (Yeh. 1:1 dst.). Sebelum memulai pelayanan-Nya di hadapan umum, Yesus mendengar suara Bapa dari langit dan mengalami Roh turun ke atas diri-Nya (Mat. 3:16-17). Bacaan pertama dari Kitab Yesaya hari ini menggambarkan dengan jelas akan hal tersebut: “… aku melihat Tuhan duduk di atas takhta yang tinggi dan menjulang, dan ujung jubah-Nya memenuhi Bait Suci” (Yes. 6:1).

Pada masa awal Gereja, “ketakutan yang penuh hormat melanda mereka semua, karena banyak mukjizat dan tanda ajaib dilakukan oleh para rasul” (Kis. 2:43). Rasul Petrus mengalami rasa takut akan Tuhan pada awal hubungannya dengan Tuhan dan “tersungkur di depan lutut Yesus sambil berkata, ‘Tinggalkanlah aku, ya Tuhan. Aku ini orang berdosa'” (Luk. 5:8). Dalam perjalanan menuju Damsyik, Rasul Paulus melihat kilatan cahaya yang tiba-tiba, jatuh ke tanah, dan menjadi buta selama tiga hari (Kis. 9:3 dst.). Demikianlah kehidupan Kristen dan pelayanannya bermula.

Dalam hidup, seringkali kita terjebak pada ketakutan yang tidak beralasan ketika mewartakan nama Tuhan. Menjadi pengikut Kristus memang penuh tantangan. Bahkan, Tuhan pun menegaskan bahwa jalan-Nya adalah jalan derita, sebagaimana dinyatakan dalam Bacaan Injil hari ini: “Janganlah kamu takut kepada mereka yang dapat membunuh tubuh, tetapi yang tidak berkuasa membunuh jiwa; takutlah terutama kepada Dia yang berkuasa membinasakan baik jiwa maupun tubuh di dalam neraka” (Mat. 10:28).

Kita perlu mengalami rasa takut akan Tuhan secara mendalam agar memiliki landasan yang kuat bagi pelayanan kita. Kita patut memuji dan mengucap syukur kepada Tuhan atas kasih dan hadirat-Nya yang telah kita alami. Kita perlu memohon agar Tuhan menyatakan hadirat-Nya kepada kita dengan cara yang baru dan jauh lebih mendalam. Kiranya kita terus “maju dalam takut akan Tuhan” (Kis. 9:31).

Penulis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *