Berani Percaya Tanpa Menuntut Tanda ( 20 Juli 2026 )

Renungan hari ini dari bacaan Mat 14:38-42. “Tetapi kepada mereka tidak akan diberikan tanda selain tanda nabi Yunus.” (Matius 12:39b)

Dalam kehidupan sehari-hari, tidak sedikit orang yang menginginkan bukti nyata sebelum bersedia percaya kepada Tuhan. Kita sering berkata, “Kalau Tuhan benar mengasihiku, mengapa doaku belum dijawab?” atau “Kalau Tuhan sungguh hadir, mengapa hidupku masih dipenuhi persoalan?” Sikap seperti inilah yang tampak dalam Injil hari ini. Beberapa ahli Taurat dan orang Farisi datang kepada Yesus dengan permintaan agar Ia menunjukkan suatu tanda. Sekilas permintaan itu tampak wajar, tetapi sesungguhnya mereka bukan mencari kebenaran, melainkan mencari alasan untuk tidak percaya. Mereka telah menyaksikan berbagai mukjizat Yesus, mendengar ajaran-Nya, bahkan melihat orang sakit disembuhkan. Namun, hati mereka tetap tertutup karena iman mereka bergantung pada tanda-tanda lahiriah, bukan pada keterbukaan hati terhadap karya Allah.

Yesus kemudian menjawab dengan tegas bahwa kepada angkatan yang jahat dan tidak setia itu tidak akan diberikan tanda selain tanda nabi Yunus. Tanda Yunus bukan sekadar kisah tentang seorang nabi yang berada di dalam perut ikan selama tiga hari tiga malam, melainkan sebuah lambang yang menunjuk kepada misteri wafat, pemakaman, dan kebangkitan Kristus. Melalui kebangkitan-Nya, Yesus memberikan tanda terbesar bahwa Allah sungguh mengasihi manusia dan berkuasa atas dosa serta maut. Ironisnya, banyak orang justru terus mencari mukjizat yang spektakuler, padahal tanda keselamatan yang paling agung telah dinyatakan dalam diri Kristus. Salib dan kebangkitan-Nya menjadi bukti kasih Allah yang tidak pernah dapat dilampaui oleh tanda apa pun. Persoalannya bukan karena Tuhan kurang memberi tanda, melainkan karena hati manusia sering kali enggan menerima tanda yang telah diberikan.

Yesus kemudian membandingkan generasi itu dengan orang-orang Niniwe. Penduduk Niniwe hanya mendengar pewartaan Yunus yang sederhana, namun mereka segera bertobat dan mengubah hidupnya. Sebaliknya, orang-orang pada zaman Yesus melihat Sang Mesias sendiri hadir di tengah mereka, tetapi tetap menolak untuk percaya. Demikian pula Ratu dari Selatan rela menempuh perjalanan yang sangat jauh hanya untuk mendengarkan hikmat Salomo. Kini, Pribadi yang jauh lebih agung daripada Yunus maupun Salomo berdiri di hadapan mereka, tetapi mereka tetap menutup hati. Perbandingan ini menjadi cermin bagi kehidupan kita. Kita memiliki Kitab Suci, sakramen-sakramen, Gereja, komunitas iman, bahkan pengalaman penyelenggaraan Tuhan setiap hari. Namun, apakah semua rahmat itu sungguh membuat kita semakin bertobat, atau justru kita menjadi terbiasa sehingga kehilangan rasa syukur dan kekaguman akan karya Allah?

Sering kali kita tanpa sadar memiliki sikap yang sama seperti orang Farisi. Kita baru percaya ketika memperoleh kesembuhan, keberhasilan, pekerjaan yang baik, atau jalan keluar dari persoalan hidup. Ketika semuanya berjalan sesuai harapan, kita memuji Tuhan. Namun saat doa terasa belum dijawab, kita mulai meragukan penyertaan-Nya. Padahal iman sejati bukanlah iman yang lahir karena melihat tanda-tanda yang luar biasa, melainkan iman yang tetap bertahan meskipun belum memahami seluruh rencana Allah. Tuhan sebenarnya terus memberikan tanda kasih-Nya melalui hal-hal sederhana: kesehatan yang masih kita miliki, keluarga yang mendampingi, kesempatan untuk bertobat, kekuatan menghadapi pencobaan, serta damai yang hadir di tengah kesulitan. Orang yang memiliki hati yang peka akan mampu melihat bahwa setiap hari Tuhan sedang bekerja, meskipun tidak selalu dengan cara yang spektakuler.

Injil hari ini mengundang kita untuk membangun iman yang dewasa, yaitu iman yang tidak terus-menerus menuntut bukti dari Tuhan, tetapi belajar mempercayakan hidup kepada-Nya. Tanda terbesar telah diberikan melalui Yesus Kristus yang wafat dan bangkit demi keselamatan kita. Karena itu, pertanyaan yang perlu kita renungkan bukan lagi, “Tuhan, tanda apa lagi yang akan Engkau berikan kepadaku?” melainkan, “Apakah hatiku sudah cukup terbuka untuk mengenali tanda kasih-Mu yang setiap hari hadir dalam hidupku?” Semoga kita tidak menjadi seperti orang Farisi yang selalu mencari mukjizat tetapi gagal mengenali Sang Mesias. Sebaliknya, marilah kita meneladani orang-orang Niniwe yang segera bertobat ketika mendengar firman Tuhan, sehingga hidup kita semakin dipenuhi iman, harapan, dan kasih yang berakar pada Kristus, tanda keselamatan sejati bagi seluruh dunia.

Penulis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *