Menjadi Keluarga Yesus ( 21 Juli 2026 )

Renungan hari ini dari bacaan Mika 7:14-15.18-20; Matius 12:46-50. “Gembalakanlah umat-Mu dengan tongkat-Mu, kawanan domba milik-Mu sendiri” (Mi. 7:14).

Perikop pertama hari ini (Mi. 7:14-15, 18-20) merupakan doa yang indah tentang pemulihan dan permohonan akan belas kasih Allah. Nabi Mikha mengajak umat untuk kembali berharap kepada Tuhan yang setia mengampuni, memulihkan, dan menggembalakan umat-Nya. Doa ini tetap relevan bagi kita semua, terlebih di zaman sekarang ketika begitu banyak orang merindukan damai, pengampunan, dan arah hidup yang benar. Pada bagian akhir renungan ini, kita pun akan kembali mendoakan doa Mikha tersebut.

Perikop Injil (Mat. 12:46-50) menampilkan sebuah peristiwa yang sederhana, tetapi sarat makna. Bagian ini berada di antara kisah tentang kembalinya roh jahat (Mat. 12:43-45) dan perumpamaan tentang penabur (Mat. 13:1-23). Ketika Yesus sedang mengajar orang banyak, ibu dan saudara-saudara-Nya datang dan ingin bertemu dengan-Nya. Seseorang menyampaikan hal itu kepada Yesus. Namun, Yesus menjawab dengan cara yang mengejutkan, “Inilah ibu-Ku dan saudara-saudara-Ku… Siapa pun yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di surga, dialah saudara-Ku laki-laki, saudara-Ku perempuan, dan ibu-Ku.”
Saat membaca perikop ini berulang-ulang, saya membayangkan Matius yang menuliskannya. Ia bukan sekadar seorang penulis, tetapi saksi mata yang telah mengikuti perjalanan Yesus: sejak dipanggil menjadi murid, menyaksikan mukjizat-mukjizat-Nya, menemani perjalanan pewartaan-Nya, mengalami peristiwa Getsemani, penyaliban, kematian, hingga kebangkitan-Nya. Ketika pada masa tuanya ia menulis Injil, mungkin kenangan akan hari itu kembali hadir dengan begitu jelas dalam ingatannya: Yesus sedang berbicara kepada orang banyak, lalu datanglah kabar bahwa ibu dan saudara-saudara-Nya berada di luar. Saat itulah Yesus memperluas makna keluarga, bukan lagi berdasarkan hubungan darah, melainkan berdasarkan ketaatan kepada kehendak Bapa.

Lalu saya mencoba membaca perikop ini dari sudut pandang seorang anak. Siapakah saudara? Siapakah ibu? Bagi seorang anak, baik di desa maupun di kota, saudara biasanya adalah mereka yang memiliki hubungan darah atau teman bermain sehari-hari. Belum ada penghayatan yang mendalam tentang Bapa di surga. Bahkan, di kota-kota besar, tidak sedikit anak yang merasa lebih dekat kepada pengasuhnya daripada kepada ibunya sendiri yang harus bekerja dari pagi hingga malam. Dunia seorang anak memang masih dibangun oleh relasi yang sangat konkret.
Karena itu, saya membayangkan bahwa perkataan Yesus ini terutama ditujukan kepada orang-orang yang sudah dewasa dalam iman. Yesus mengajak mereka melampaui ikatan keluarga biologis menuju keluarga Allah, yakni persekutuan orang-orang yang hidup menurut kehendak Bapa.

Pertanyaannya kemudian menjadi sangat pribadi bagi kita. Jika hari ini kita mendengar perkataan Yesus itu secara langsung, bagaimana respons kita? Apakah kita termasuk saudara laki-laki, saudara perempuan, atau bahkan ibu Yesus? Dengan gaya hidup kita sekarang, dengan prioritas-prioritas hidup kita, dengan cara kita memperlakukan sesama, sudahkah kita sungguh menjadi keluarga Yesus?
Semakin sering saya membaca kembali perikop ini, semakin kuat pula saya diingatkan tentang kualitas relasi di dalam jemaat dan komunitas-komunitas Kristiani masa kini. Bahkan ketika saya berada di komunitas-komunitas doa dan devosi, pertanyaan ini terasa menggugah hati. Saya masih mengingat ketika pertama kali menjadi anggota dewan paroki, bagaimana anggota-anggota senior menyambut saya. Saya juga teringat pernah menggoda seorang teman yang menjadi pejabat di sebuah universitas Kristen di Sumatera Utara: apakah kampus itu sungguh telah memancarkan warna Kristiani dalam kehidupan sehari-hari?

Pertanyaan yang sama juga layak kita ajukan kepada diri kita sendiri. Apakah komunitas-komunitas di gereja dan paroki kita sungguh menjadi tanda kehadiran Yesus? Apakah relasi yang kita bangun mencerminkan kasih, penerimaan, dan semangat sebagai satu keluarga Allah?
Kiranya sabda Yesus hari ini tidak berhenti sebagai bahan permenungan, tetapi menjadi cermin untuk melihat kembali kualitas hidup dan relasi kita. Menjadi keluarga Yesus bukanlah soal status atau keanggotaan dalam suatu komunitas, melainkan soal kesediaan melakukan kehendak Bapa setiap hari.

Maka, bersama Nabi Mikha, marilah kita berdoa:
“Gembalakanlah umat-Mu dengan tongkat-Mu, kawanan domba milik-Mu sendiri. Siapakah seperti Engkau, ya Allah, yang mengampuni dosa, yang memaafkan sisa umat milik-Nya sendiri, yang tidak bertahan dalam murka-Nya untuk selama-lamanya, melainkan berkenan menunjukkan kasih setia? Kiranya Engkau kembali menyayangi kami, menghapuskan kesalahan-kesalahan kami, dan melemparkan segala dosa kami ke dasar laut yang dalam.” (Mi. 7:14.18-19). Amin.

Penulis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *