| Renungan hari ini dari bacaan Yoh 20:1. 11-18. “Kata Yesus kepadanya: ‘Maria!’ Maria berpaling dan berkata kepada-Nya dalam bahasa Ibrani: ‘Rabuni!’, artinya Guru.” (Yohanes 20:16) |
Maria Magdalena datang ke kubur pada pagi hari ketika hari masih gelap. Kegelapan yang menyelimuti alam juga menggambarkan keadaan batinnya yang dipenuhi duka, kehilangan, dan kebingungan. Ia datang dengan kasih yang tulus kepada Yesus, tetapi yang ditemuinya justru kubur yang kosong. Dalam pandangannya, segala harapan seakan telah berakhir. Air matanya menjadi ungkapan cinta yang belum mampu menerima kenyataan. Pengalaman Maria mengingatkan kita bahwa dalam perjalanan hidup, tidak jarang kita juga berada dalam “kegelapan”, ketika doa-doa terasa tidak dijawab, harapan tampak sirna, dan kehadiran Tuhan seolah menghilang dari hidup kita.
Namun, Injil hari ini menunjukkan bahwa Allah tidak pernah meninggalkan mereka yang mencari-Nya dengan hati yang tulus. Di tengah tangisan Maria, Yesus hadir, meskipun pada awalnya ia tidak mengenali-Nya. Kesedihan telah membatasi pandangannya sehingga ia mengira Yesus hanyalah seorang penunggu taman. Sering kali hal yang sama terjadi dalam kehidupan kita. Ketika hati dipenuhi rasa kecewa, takut, atau putus asa, kita menjadi sulit mengenali cara Tuhan bekerja. Padahal, Tuhan tetap hadir melalui berbagai peristiwa, orang-orang di sekitar kita, maupun pengalaman hidup yang perlahan membangkitkan harapan baru.
Perjumpaan itu berubah secara mendalam ketika Yesus memanggil Maria dengan namanya: “Maria!” Satu sapaan sederhana itu membuka mata iman Maria sehingga ia segera mengenali Sang Guru. Hal ini memperlihatkan bahwa hubungan Allah dengan manusia bukanlah hubungan yang jauh dan impersonal. Tuhan mengenal setiap pribadi secara mendalam, mengetahui luka, pergumulan, dan kerinduan terdalam dalam hati kita. Ketika Tuhan memanggil nama kita, Ia mengundang kita untuk meninggalkan rasa takut dan kembali membangun relasi yang hidup dengan-Nya. Hanya mereka yang membuka hati terhadap suara Tuhan yang mampu melihat kehadiran-Nya di balik setiap peristiwa kehidupan.
Setelah Maria mengenali Yesus, ia tidak dibiarkan larut dalam sukacita pribadinya. Yesus segera mengutusnya untuk pergi kepada para murid dan mewartakan kabar kebangkitan. Dari seorang yang datang sambil menangis, Maria berubah menjadi saksi pertama kebangkitan Kristus. Perjumpaan dengan Tuhan selalu menghasilkan perutusan. Iman tidak berhenti pada pengalaman pribadi, tetapi harus diwujudkan dalam keberanian membawa harapan, menguatkan sesama, serta menjadi pembawa kabar sukacita di tengah dunia yang masih dipenuhi kecemasan, konflik, dan keputusasaan.
Renungan ini mengajak kita untuk bertanya kepada diri sendiri: apakah kita masih mampu mendengar Tuhan memanggil nama kita di tengah kesibukan dan berbagai persoalan hidup? Jangan biarkan kesedihan, kegagalan, atau luka masa lalu menutup mata iman kita terhadap kehadiran Kristus yang bangkit. Ia tetap datang menghampiri, mengenal kita secara pribadi, dan memanggil kita dengan penuh kasih. Ketika kita berani menjawab panggilan-Nya seperti Maria Magdalena, hidup kita pun akan diubah menjadi kesaksian yang menghadirkan harapan bagi banyak orang. Sebab, mereka yang sungguh mengalami Kristus yang bangkit tidak akan tinggal diam, melainkan akan pergi dan dengan sukacita berkata kepada dunia, “Aku telah melihat Tuhan!”
