| Renungan hari ini dari bacaan Yeremia 28:1–17; Matius 14:22–36.”Lalu kata nabi Yeremia kepada nabi Hananya: ‘Dengarkanlah, hai Hananya! TUHAN tidak mengutus engkau, tetapi engkau telah membuat bangsa ini percaya kepada dusta.'” (Yer. 28:15). |
Sabda Tuhan hari ini mengajak kita merenungkan pentingnya menggunakan perkataan dengan hikmat dan kebenaran. Dalam bacaan pertama, Nabi Yeremia menegur Hananya, seorang nabi yang mengaku menyampaikan pesan Tuhan, padahal sebenarnya Tuhan tidak pernah mengutusnya.
Hananya bernubuat bahwa bangsa Yehuda akan segera dibebaskan dari penjajahan Babel dan segala keadaan akan kembali pulih dalam waktu singkat. Nubuat itu terdengar menenangkan dan memberi harapan. Namun, sesungguhnya pesan tersebut bukan berasal dari Tuhan. Hananya hanya mengatakan apa yang ingin didengar orang banyak, sehingga bangsa itu berharap kepada sesuatu yang tidak benar.
Peristiwa ini terjadi ketika Yehuda sedang mengalami masa yang sangat sulit. Mereka hidup di bawah kekuasaan Babel. Banyak orang merasa sedih, takut, dan mendambakan kebebasan secepat mungkin.
Di tengah situasi itu muncul dua suara yang sangat berbeda. Hananya berkata, “Tidak lama lagi semuanya akan selesai.” Sebaliknya, Nabi Yeremia menyampaikan pesan yang jauh lebih berat untuk diterima: “Kalian harus bertobat dan bersabar, sebab pembuangan ini memang diizinkan Tuhan.”
Tentu tidak sulit menebak suara mana yang lebih disukai. Kebanyakan orang lebih senang mendengar Hananya karena pesannya memberi kenyamanan dan harapan instan. Padahal Tuhan tidak mencari kata-kata yang sekadar menyenangkan telinga manusia. Tuhan menghendaki kebenaran yang membawa keselamatan, sekalipun kebenaran itu terasa pahit untuk didengar.
Berbicara mengenai berita yang tidak pasti dan bernada palsu, ada sebuah kisah sederhana yang dapat menjadi pelajaran. Di sebuah rumah bekerja seorang pramuwisma yang dikenal rajin, disiplin, dan rapi dalam menjalankan tugasnya. Karena itu, majikannya sangat menyukainya. Namun, ia mempunyai satu kebiasaan buruk. Setiap kali ditanya sesuatu, ia sering memberikan informasi yang belum tentu benar. Ia senang menyampaikan kabar yang tidak jelas sumbernya agar menjadi bahan pembicaraan orang-orang di sekitarnya.
Suatu hari ia berkata kepada majikannya, “Bu, tetangga sebelah bilang Ibu tidak disukai warga.” Padahal ia tidak pernah mendengar perkataan itu. Kenyataannya, hubungan sang majikan dengan para tetangga baik-baik saja.
Keesokan harinya ia berkata kepada petugas pengirim paket, “Pak, paketnya hilang ya? Jangan-jangan sudah dibuka lalu dijual isinya.” Padahal kenyataannya paket tersebut masih berada di pos satpam.
Lama-kelamaan semua kebohongan itu terbongkar. Orang-orang akhirnya mengetahui bahwa di balik penampilannya yang baik, ia justru menjadi penyebar berita bohong yang menimbulkan keresahan dan ketidaknyamanan bagi banyak orang. Kepercayaan yang telah dibangun bertahun-tahun pun akhirnya hilang karena lidah yang tidak berhikmat.
Kisah sederhana ini mengingatkan kita pada peringatan Tuhan melalui Nabi Yeremia. Kebenaran memang tidak selalu terdengar menyenangkan, tetapi tetap harus disampaikan. Sebaliknya, kebohongan sering kali terdengar indah karena sesuai dengan keinginan manusia. Akibatnya, berita-berita yang tidak jelas kebenarannya justru mudah dipercaya, disebarkan, dan menjadi konsumsi banyak orang.
Sabda Tuhan hari ini mengajak kita untuk memiliki hikmat dalam setiap perkataan. Jangan mudah percaya kepada setiap berita yang kita dengar. Jangan pula terburu-buru menyebarkan informasi yang belum jelas kebenarannya. Sebaliknya, marilah kita belajar meminta hikmat dari Tuhan agar setiap perkataan yang keluar dari mulut kita membawa damai, membangun sesama, dan memancarkan kebenaran.
Semoga kita semua menjadi pribadi-pribadi yang semakin dewasa dalam iman, sehingga mampu membedakan mana yang benar dan mana yang menyesatkan. Kiranya setiap perkataan yang kita ucapkan selalu mencerminkan hikmat yang berasal dari Tuhan.
Ya Tuhan Yang Mahabijaksana, Sabda-Mu hari ini mengajar kami untuk menjadi pribadi yang berhikmat. Ajarlah kami agar tidak mudah percaya pada setiap berita, tidak mudah menyebarkan informasi yang belum tentu benar, dan senantiasa menjadi pembawa kebenaran, damai, serta pengharapan bagi sesama. Amin.
