Kasih yang Setia, Tidak Mudah Menyerah ( 14 Agustus 2026 )

Renungan hari ini dari bacaan Yehezkiel 16:1-15.60.63; Matius 19:3-12.
“Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia.” (Mat. 19:6).

Dalam bacaan Injil hari ini, Matius 19:3-12, orang-orang Farisi bertanya kepada Yesus tentang perceraian. Mereka ingin menguji Yesus dengan pertanyaan: “Apakah diperbolehkan orang menceraikan istrinya dengan alasan apa saja?” Yesus tidak terjebak pada perdebatan tentang boleh atau tidak boleh. Ia justru mengajak mereka kembali kepada maksud Allah sejak awal: perkawinan adalah sebuah kesatuan yang dibangun dalam kesetiaan dan kasih.

Yesus juga tidak sedang sekadar memberikan aturan tentang perkawinan. Ia mengembalikan manusia kepada rencana Allah sejak semula, yaitu hubungan yang dibangun dalam kasih dan kesetiaan.

Yesus berkata, “Apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia.” Perkataan ini tentu tidak mudah. Dalam kehidupan sekarang, kita melihat banyak keluarga menghadapi persoalan: komunikasi yang buruk, masalah ekonomi, perselingkuhan, perbedaan karakter, bahkan luka yang sudah berlangsung bertahun-tahun.

Namun, melalui bacaan Injil hari ini kita diingatkan  kembali bahwa kasih bukan hanya soal perasaan. Kasih juga merupakan keputusan untuk tetap setia, berusaha memahami, mengampuni, dan memperbaiki hubungan.

Dalam bacaan Yeh. 16 :1-15.60.63, Allah menggambarkan hubungan-Nya dengan umat Israel seperti hubungan kasih. Israel telah menerima kasih dan perhatian Allah, tetapi kemudian tidak setia dan meninggalkan Allah. Tuhan menunjukkan bagaimana umat-Nya yang telah meninggalkan Dia dan mengalami kehancuran karena ketidaksetiaan mereka. Namun, di balik teguran itu, kita melihat hati Allah yang tetap menghendaki umat-Nya kembali kepada-Nya.

Di sinilah kita menemukan pesan yang sangat penting: Allah adalah Allah yang setia, bahkan ketika manusia tidak setia.

Kehidupan keluarga pun demikian. Ketika hubungan mengalami masalah, kita sering lebih mudah melihat kesalahan pasangan daripada melihat kekurangan diri sendiri. Kita bertanya, “Mengapa dia tidak berubah?” Barangkali Tuhan justru mengajak kita bertanya, “Apa yang dapat saya lakukan untuk memperbaiki hubungan ini?”

Kedua bacaan mengingatkan kita bahwa, Jangan membangun hubungan hanya berdasarkan apa yang kita rasakan hari ini. Kasih sejati membutuhkan kesetiaan, pengampunan, dan kemauan untuk terus memperjuangkannya.

“Allah adalah Allah yang setia; karena itu, kita pun dipanggil untuk belajar setia, tidak mudah menyerah, dan memiliki hati yang mau mengampuni serta memulihkan hubungan.”

Marilah kita bertanya kepada diri sendiri: Apakah saya masih mau memperjuangkan hubungan yang Tuhan percayakan kepada saya? Ataukah saya terlalu cepat menyerah ketika menghadapi kesulitan?

Kiranya Tuhan memberi kita hati yang setia, sabar, dan penuh kasih, sehingga melalui hidup kita, orang lain dapat merasakan bahwa kasih sejati bukanlah kasih yang mudah menyerah. Tuhan Yesus Memberkati.

Penulis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *