| Renungan hari ini dari bacaan Yehezkiel 18:1-10. 13b. 30-32 & Matius 19:13-15 “Bertobatlah… dan biarkan anak-anak itu datang kepada-Ku.” |
Hari ini kita diingatkan kembali akan satu kebenaran yang begitu indah: kita semua adalah anak-anak yang dikasihi Bapa. Kita diciptakan menurut gambar dan rupa-Nya. Karena itu, apa pun yang pernah kita lakukan, sejauh apa pun kita pernah tersesat, kasih Bapa tidak pernah berhenti mencari dan menantikan kita.
Mungkin kita pernah jatuh dalam dosa, membuat kesalahan, mengecewakan orang lain, bahkan merasa begitu malu sehingga kita takut kembali menatap Tuhan. Kita mungkin merasa tidak layak, terlalu jauh, atau terlalu sering mengulangi kesalahan yang sama.
Namun, hari ini Tuhan berkata kepada kita, “Bertobatlah… supaya kamu hidup.”
Bapa tidak menunggu kita menjadi sempurna untuk datang kepada-Nya. Ia menunggu kita datang dengan hati yang mau kembali. Kita boleh datang membawa luka, air mata, kelemahan, penyesalan, dan seluruh masa lalu kita. Bapa tidak ingin mempermalukan kita. Ia ingin menyembuhkan dan memulihkan kita.
Dalam Injil, Yesus berkata, “Biarkanlah anak-anak itu datang kepada-Ku.” Seorang anak datang kepada bapanya dengan percaya. Ia tidak sibuk menghitung apakah dirinya pantas dicintai. Ia hanya tahu bahwa di dalam pelukan bapanya ada tempat yang aman.
Demikian pula kita dipanggil untuk datang kepada Bapa. Kita tidak perlu menunggu menjadi baik terlebih dahulu. Datanglah sekarang. Pulanglah sekarang. Sebab pertobatan bukan tentang membuktikan bahwa kita sudah sempurna, melainkan tentang berani membuka hati dan membiarkan kasih Allah mengubah hidup kita.
Apa pun dosa masa lalu kita, jangan terus tinggal di sana. Masa lalu adalah bagian dari perjalanan kita, tetapi bukan akhir dari kisah kita bersama Allah.
Hari ini masih ada kesempatan untuk bertobat. Masih ada kesempatan untuk mengampuni. Masih ada kesempatan untuk memperbaiki yang rusak. Masih ada kesempatan untuk memulai kembali.
Mungkin langkah kita masih gemetar. Mungkin hati kita masih penuh luka. Tetapi, jangan takut. Ketika kita melangkah pulang, Bapa tidak membiarkan kita berjalan sendirian. Ada pelukan yang menanti. Pelukan yang tidak datang untuk menghukum, tetapi untuk menguatkan. Pelukan yang tidak mengungkit masa lalu, tetapi membuka masa depan. Pelukan yang berbisik dalam hati kita: “Engkau tetap anak-Ku. Engkau tetap Kukasihi.”
Hari ini, marilah kita berhenti berlari dari Bapa. Jangan lagi bersembunyi di balik rasa malu, rasa bersalah, atau ketakutan. Belajarlah menjadi seperti anak kecil: rendah hati, sederhana, percaya, dan berani bersandar sepenuhnya kepada-Nya.
Sejauh apa pun kita pernah pergi, kita boleh pulang. Sebesar apa pun dosa kita, belas kasih Bapa jauh lebih besar. Sesering apa pun kita jatuh, tangan-Nya tetap terulur. Bapa tidak pernah menutup pintu bagi anak yang sungguh ingin kembali.
Mari kita pulang. Pulang ke dalam pelukan Bapa. Pulang kepada kasih yang tidak pernah meninggalkan. Pulang kepada hati Bapa yang sejak awal selalu menantikan kita.
Bapa, terimalah kami kembali. Ampunilah kami, sembuhkanlah luka kami, dan perbaruilah hidup kami. Ajarlah kami percaya bahwa kami tetap anak-anak-Mu, tetap dikasihi, dan tetap berharga di mata-Mu.
Kami pulang, Bapa. Peluklah kami dengan kasih-Mu. Dan jangan biarkan kami takut untuk pulang lagi. Amin.
