| Renungan hari ini dari bacaan 2Tesalonika 2:1-3a, 13b-17; Matius 23:23-36 “Yang terpenting dalam hukum Taurat, yaitu: keadilan, belas kasihan dan kesetiaan” (Mat. 23:23) |
“Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik!”
“Hai pemimpin-pemimpin buta!” “Hai kamu ular-ular, hai kamu keturunan ular beludak!”
Kata-kata Yesus dalam Injil hari ini terdengar sangat keras. Sepintas kita mungkin bertanya: Di manakah kelemahlembutan, kesabaran, kasih dan kebaikan Yesus? Apakah Yesus sedang kehilangan penguasaan diri?
Tidak. Yesus tidak sedang meledak karena ego-Nya terluka. Ia tidak marah karena merasa dihina, dirugikan, atau karena kehendak-Nya tidak dituruti. Yesus sedang membuka kebenaran.
Ia mengecam para pemimpin agama yang sangat teliti terhadap hal-hal lahiriah, tetapi justru melupakan perkara yang terutama dalam hukum Taurat: keadilan, belas kasihan dan kesetiaan. Mereka tampak saleh di hadapan manusia, tetapi kehidupan mereka tidak membawa orang semakin dekat kepada Allah. Karena itu, kemarahan Yesus bukanlah kemarahan yang lahir dari kebencian. Kemarahan Yesus adalah ketegasan kasih.
Ia berani mengatakan kebenaran karena kepalsuan dapat menyesatkan dan melukai banyak orang.
Lalu, Bagaimana dengan Kemarahanku? Di sinilah sabda Tuhan hari ini menjadi sangat dekat dengan hidupku.
Aku pun dapat marah ketika pekerjaan tidak dilakukan dengan benar, ketika hasil tidak sesuai target, ketika orang lain lambat, tidak disiplin, atau tidak melakukan sesuatu seperti yang kuharapkan.
Kadang-kadang memang ada sesuatu yang salah dan harus diperbaiki. Namun, persoalannya bukan hanya: “Apakah aku mempunyai alasan untuk marah?” Ada pertanyaan yang lebih dalam:“Dari mana kemarahanku berasal?”
Apakah aku marah demi kebenaran dan kebaikan orang lain? Atau karena egoku terganggu? Karena keinginanku tidak terpenuhi? Karena aku merasa tidak dihargai, dikecewakan, dipersulit, atau tidak didengarkan? Pertanyaan ini penting karena tidak setiap kemarahan yang mempunyai alasan otomatis menjadi kemarahan yang benar.
Tegas, tetapi Tidak Melukai.
Yesus mengajarkanku bahwa membela kebenaran tidak sama dengan kehilangan penguasaan diri. Aku boleh tegas. Aku boleh mengatakan bahwa sesuatu itu salah. Aku boleh meminta pekerjaan diperbaiki. Aku boleh menegur ketika ada sesuatu yang tidak benar. Tetapi, aku tidak harus meledak-ledak, melukai, merendahkan, atau mempermalukan seseorang.
Di sinilah aku belajar bahwa kebenaran dan kasih tidak boleh dipisahkan. Kebenaran tanpa kasih dapat menjadi kekerasan. Tetapi, kasih tanpa kebenaran dapat membiarkan kesalahan terus berlangsung. Kristus menunjukkan keduanya: kasih yang berani mengatakan kebenaran dan kebenaran yang bertujuan menyelamatkan.
Karena itu, ketika amarah mulai muncul dalam diriku, aku perlu berhenti sejenak dan bertanya: “Apakah yang sedang kubela: kebenaran Tuhan atau egoku sendiri?” Pertanyaan ini tidak selalu mudah dijawab. Sebab, terkadang aku merasa sedang membela kebenaran, padahal sebenarnya aku sedang membela harga diriku sendiri.
Kebenaran Harus Mengubah Diriku.
Bacaan dari Surat Kedua kepada Jemaat di Tesalonika mengajak kita untuk tetap berdiri teguh dalam kebenaran yang telah kita terima. Tetapi kebenaran itu pertama-tama bukanlah sesuatu yang hanya boleh dituntut dari orang lain. Kebenaran harus mengubah diriku sendiri.
Aku tidak dapat terus-menerus menuntut orang lain untuk benar, sementara aku sendiri dikuasai oleh kemarahan. Aku tidak dapat berbicara tentang kasih, tetapi melukai orang lain dengan kata-kataku. Aku tidak dapat membela kebenaran, tetapi kehilangan penguasaan diri. Maka mencintai kebenaran berarti juga membiarkan kebenaran Tuhan menyentuh dan membentuk hatiku.
Aku belajar untuk bertanya bukan hanya: “Apakah dia salah?” tetapi juga: “Bagaimana aku menyampaikan kebenaran itu dengan kasih?” Bukan hanya: “Apa yang harus diperbaiki dari orang lain?” tetapi juga: “Apa yang harus Tuhan ubah dalam diriku?”
Tuhan mengajarkanku hari ini bahwa amarah tidak selalu salah, tetapi amarah harus diuji. Ada kemarahan yang lahir dari ego atau dari luka pribadi. Tetapi, ada juga ketegasan yang lahir dari kasih dan kepedulian terhadap kebenaran.
Semoga aku mampu membedakan semuanya itu. Ketika aku harus menegur, ajarlah aku menegur tanpa merendahkan. Ketika aku harus mengatakan sesuatu yang salah, ajarlah aku mengatakannya tanpa kebencian. Ketika aku harus tegas, ajarlah aku tetap menguasai diri. Dan ketika aku merasa marah, bantulah aku melihat lebih dalam: Apakah aku sedang memperjuangkan kebenaran, atau sebenarnya sedang memperjuangkan egoku sendiri?
Tuhan, ajarlah aku mencintai kebenaran, bukan hanya menuntut kebenaran dari orang lain. Ubahlah kemarahanku menjadi ketegasan yang penuh kasih.
Tuhan Yesus, Engkau berani mengatakan kebenaran, namun tidak dikuasai oleh ego dan kebencian.
Saat aku kecewa dan marah, jagalah perkataan dan tindakanku.
Ajarlah aku tegas tanpa melukai, mengoreksi tanpa merendahkan,
dan mengatakan kebenaran dengan kasih.
Ubahlah hatiku agar semakin menyerupai hati-Mu.
Amin.
