| Rrenungan hari ini dari bacaan 1 Korintus 1:1–9; Matius 24:42–51 “Berbahagialah hamba yang didapati tuannya melakukan tugasnya itu, ketika tuannya itu datang” (Mat. 24:46). |
Paulus mengawali suratnya bukan dengan teguran, melainkan dengan ucapan syukur. Jemaat Korintus memang memiliki banyak persoalan, tetapi Paulus terlebih dahulu mengingatkan bahwa mereka adalah orang-orang yang telah dikuduskan dalam Kristus dan dipanggil menjadi umat-Nya.
Paulus berkata bahwa jemaat telah diperkaya dalam segala hal oleh Kristus. Apa yang kita miliki – kemampuan, kesempatan, kesehatan, pekerjaan, keluarga, bahkan iman – pada akhirnya merupakan anugerah Tuhan. Karena itu, kita tidak perlu membanggakan diri seolah-olah semuanya berasal dari kekuatan kita sendiri.
Jemaat Korintus bukan jemaat yang sempurna. Mereka memiliki konflik dan kelemahan. Namun, Paulus tetap menyebut mereka sebagai orang-orang yang dipanggil Allah. Ini mengingatkan kita bahwa Tuhan tidak menunggu kita menjadi sempurna untuk bekerja dalam hidup kita. Ia membentuk kita sedikit demi sedikit.
Ayat 8 memberikan pengharapan bahwa Tuhan akan meneguhkan umat-Nya sampai kesudahannya. Kita mungkin merasa iman kita lemah, mudah jatuh, atau tidak sanggup menghadapi persoalan. Tetapi, keselamatan kita tidak bergantung semata-mata pada kekuatan kita; Allah yang memanggil kita adalah Allah yang setia.
Ayat 9 menegaskan bahwa kita dipanggil untuk hidup dalam persekutuan dengan Yesus Kristus. Kekristenan bukan hanya soal menjalankan aturan agama, tetapi membangun hubungan yang nyata dengan Kristus dan membiarkan hidup kita semakin menyerupai Dia.
Karena kita tidak tahu kapan waktunya tiba, Tuhan berfirman agar kita selalu berjaga-jaga dan siap sedia menantikan kedatangan-Nya yang tidak terduga (Mat. 24:42–51). Berjaga-jaga bukan berarti duduk diam atau hidup dalam ketakutan, melainkan tetap setia melakukan kewajiban yang diberikan Tuhan setiap hari.
Matius menggambarkan hamba yang baik sebagai orang yang tetap menjalankan tugasnya ketika tuannya pergi. Ia tidak berkata, “Karena tuanku belum datang, saya bebas melakukan apa saja.” Sebaliknya, ia tetap setia sampai tuannya datang.
Demikian juga dalam 1 Korintus 1:5–7, Tuhan telah memperkaya kita dengan berbagai karunia. Karunia itu diberikan supaya dipakai dalam kehidupan dan pelayanan, sambil menantikan Kristus.
Maka, kita perlu bertanya kepada diri sendiri: Apakah saya sedang menjadi hamba yang bijaksana dengan berbuat baik, atau hamba yang menyepelekan waktu karena merasa Tuhan masih lama datang?
Berjaga-jaga dapat kita lakukan secara nyata: menjalankan pekerjaan dengan jujur, melaksanakan tanggung jawab dengan setia, menggunakan kemampuan untuk melayani, mengasihi keluarga dan sesama, serta menjauhi sikap serakah dan egois. Kita tidak perlu menunggu sesuatu yang besar untuk menunjukkan kesetiaan. Kesetiaan justru dimulai dari hal-hal kecil yang kita lakukan setiap hari.
Kedua bacaan mengajak kita untuk tidak hidup sembarangan karena kita sedang menantikan kedatangan Kristus. Kita dipanggil untuk setia, dan Allah sendiri yang meneguhkan kita supaya mampu tetap setia.
Jadi, bukan karena kita hebat, melainkan karena Allah yang setia bekerja dalam diri kita.
Karena kita sedang menantikan Tuhan, janganlah hidup dengan lengah. Gunakan karunia yang Tuhan berikan dan tetaplah setia melakukan kehendak-Nya, sebab ketika Tuhan datang, Ia ingin mendapati kita sedang menjalankan tugas kita.
