| Renungan hari ini dari bacaan 1Kor 9:16-19.22b-27; Mzm 84:3.4.5-6.12; Luk 6:39-42 “Keluarkanlah dahulu balok dari matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan selumbar itu dari mata saudaramu” (Luk.6:42) |
Keluarkanlah dahulu balok dari matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan selumbar itu dari mata saudaramu” (Luk. 6:42)
Kita hidup di dunia yang sangat mudah menilai orang lain. Melalui media sosial maupun percakapan sehari-hari, kita cepat melihat kekurangan sesama, tetapi sering sulit melihat kelemahan diri sendiri.
Yesus menggunakan gambaran yang sangat tajam tentang “selumbar dan balok” untuk menegur kecenderungan manusia ini. Bahkan Ia mengingatkan bahwa orang buta tidak mungkin menuntun orang buta.
Kita dipanggil bukan hanya untuk menyuarakan kebenaran, tetapi terlebih dahulu membiarkan diri kita diperiksa, ditegur, dan diubah oleh kebenaran itu sendiri.
Dari Kebutaan Menuju Penglihatan Rohani
Yesus bertanya, “Dapatkah orang buta menuntun orang buta?” (Luk. 6:39). Kita tidak dapat menuntun orang kepada kebenaran apabila kita sendiri tidak mau dibentuk oleh kebenaran.
Karena itu, sebelum membuka Kitab Suci untuk mengajar atau menegur sesama, aku perlu membiarkan Firman Tuhan menjadi cermin bagi diriku sendiri. Sebagai pelayan Sabda, aku bukan orang yang sudah sempurna, melainkan seorang murid yang terus belajar menjadi seperti Sang Guru.
Selumbar Orang Lain, Balok dalam Diriku
Betapa mudahnya aku melihat “selumbar” di mata orang lain, sementara “balok” dalam diriku sendiri sering tidak kusadari. Balok itu dapat berupa ego, kesombongan rohani, keinginan mendapat pujian, kecemburuan, kemarahan, atau keinginan untuk selalu merasa benar. Semua itu dapat melukai relasi dalam keluarga, pekerjaan, pelayanan, dan komunitas.
Yesus menyebut sikap mengoreksi orang lain tanpa terlebih dahulu bercermin sebagai kemunafikan. Sabda-Nya keras, tetapi bukan untuk mempermalukan. Ia ingin menyembuhkan penglihatanku, supaya aku mampu melihat diriku dan sesamaku dengan jernih.
Mazmur mengingatkan, “Berbahagialah manusia yang kekuatannya di dalam Engkau.” Dalam perjalanan iman, termasuk ketika melewati “Lembah Baka”, kekuatanku bukanlah karena merasa lebih benar daripada orang lain, melainkan karena aku terus berjalan bersama Tuhan.
Mengoreksi sebagai Hamba, Bukan Hakim
Yesus tidak mengatakan bahwa kita boleh membiarkan sesama tetap berada dalam kesalahan. Ia berkata, “Keluarkanlah dahulu balok dari matamu.” Kata “dahulu” sangat penting. Aku harus terlebih dahulu memeriksa dan membenahi diriku di hadapan Tuhan agar dapat melihat dengan jernih ketika menolong sesama.
Di sinilah teladan Rasul Paulus menjadi sangat indah. Walaupun bebas, ia memilih “menjadikan dirinya hamba dari semua orang” supaya dapat memenangkan sebanyak mungkin orang (1Kor. 9:19).
Maka tujuan koreksi bukanlah membuktikan bahwa aku benar dan engkau salah, melainkan menolong saudara kembali kepada kebenaran. Teguran yang benar lahir dari kasih seorang hamba, bukan kesombongan seorang hakim.
Koreksi sejati tidak dimulai dari telunjuk yang menunjuk orang lain, tetapi dari hati yang berani berlutut di hadapan Tuhan. Sebelum melihat selumbar sesamaku, aku perlu bertanya: balok apa yang masih menghalangi penglihatanku?
Biarlah Roh Kudus terus membuka mataku, membersihkan hatiku, dan membentukku menjadi murid yang semakin menyerupai Sang Guru. Dengan demikian, ketika aku harus menegur atau menolong sesama, aku melakukannya bukan untuk menghakimi, tetapi sebagai hamba yang mengasihi dan ingin membawa sesama semakin dekat kepada Kristus.
Saat membaca Kitab Suci hari ini, apakah aku mencari Firman untuk melihat “selumbar” orang lain, atau membiarkan Firman membongkar “balok” dalam diriku sendiri?
Ketika aku menegur seseorang, apakah teguranku lahir dari hati seorang hamba yang mengasihi, atau dari ego seorang hakim yang merasa paling benar?
Tuhan Yesus, bukalah mataku untuk melihat diriku dengan jujur. Singkirkan balok kesombongan dan ego dari hatiku. Ajarlah aku menegur bukan sebagai hakim, tetapi sebagai hamba-Mu yang mengasihi. Amin.
