| Renungan hari ini dari bacaan 1 Korintus 10:14-22a; Lukas 6:43-49. “Karena itu, Saudara-saudaraku yang terkasih, jauhilah penyembahan berhala” (1Kor. 10:14). |
Krisis iman tidak selalu berarti orang tidak pergi ke Gereja. Ada lho yang masih datang ke misa, membuat tanda salib, dan berdoa sebelum tidur, tetapi hatinya merasa kering dan Tuhan terasa jauh. Ketika banyak masalah datang dan doa-doa pun tidak kunjung terjawab, mulai muncul rasa curiga, “Tuhan, Engkau di mana?” Ada juga yang merasa yakin bahwa ia bisa mengatasi semuanya dengan kekuatannya sendiri, dengan uangnya, jabatannya, atau berbagai hal lain yang dimilikinya. Iman akhirnya sebatas diucapkan saja dan perlahan kehilangan akar dalam hati. Kalau seperti ini, pertanyaannya adalah: apakah iman kita sungguh berakar dalam Kristus?
Dalam Injil Lukas, Yesus menggunakan ilustrasi yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari, yaitu tentang pohon dan buah. Pohon yang baik tentu menghasilkan buah yang baik. Demikian juga kehidupan iman. Bukan hanya apa yang kita katakan tentang iman, tetapi apa yang tampak dalam hidup kita. Orang lain dapat merasakannya melalui cara kita berbicara, mengambil keputusan, merespons masalah, dan memperlakukan sesama. Jika Kristus sungguh menjadi akar hidup kita, pasti akan ada buah-buah kebaikan yang muncul: kesabaran, kejujuran, kemurahan hati, kemampuan mengampuni, dan keberanian untuk berbuat benar.
Yesus kemudian berbicara tentang orang yang membangun rumah. Jangan hanya menaruh rumah di atas tanah, tetapi menggali dasar dan meletakkan fondasi yang kuat. Demikian juga dengan iman. Iman yang benar harus berakar pada Kristus. Tidak cukup hanya mendengar Sabda Tuhan. Sabda perlu berdampak pada hidup kita, menyentuh cara kita berpikir, cara kita menanggapi persoalan, dan bagaimana kita bertindak.
Jika berakar dalam Kristus, tentu kita masih bisa kecewa, bisa gagal, mengalami persoalan keluarga, menghadapi pekerjaan yang terus menjadi perjuangan, bahkan mengalami saat-saat ketika Tuhan terasa diam. Namun, ketika hidup berada dalam pergumulan, kita tahu kepada siapa kita harus berpegang. Kita tidak mudah kehilangan arah karena hidup kita mempunyai dasar dan fondasi yang kuat.
Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Korintus juga mengingatkan mereka supaya tidak membagi hati. Ketika kita mengambil bagian dalam cawan dan roti, kita menyatakan persekutuan dengan Kristus. Karena itu, Ekaristi bukan hanya sesuatu yang kita lakukan dan kemudian selesai ketika misa berakhir. Persekutuan dengan Kristus seharusnya terbawa dalam kehidupan sehari-hari. Kristus yang kita terima dalam Ekaristi harus hadir pula dalam cara kita berbicara, bekerja, mengambil keputusan, dan memperlakukan orang lain.
Berhala zaman sekarang tidak selalu berarti menyembah atau percaya pada patung. Bentuknya bisa sangat dekat dengan kehidupan kita: uang, gengsi, pekerjaan, keinginan untuk dipuji, haus akan validasi, atau keinginan untuk selalu dianggap benar. Semuanya dapat menjadi berhala ketika mendapat tempat yang lebih besar daripada Tuhan. Karena itu, berakar dalam Kristus juga berarti berani memeriksa kembali apa yang sesungguhnya menjadi pusat hidup kita.
Bagaimana kita bisa berakar dalam Kristus?
Pertama, kembali pada Firman Tuhan. Tidak cukup hanya membaca Firman Tuhan. Kita perlu memilih satu hal untuk dilakukan. Misalnya, tersenyum atau siap mendengarkan orang yang ada di dekat kita dengan tulus. Kalau Firman Tuhan mengajak kita untuk mengampuni, mulailah membuka hati dan membuang rasa dendam. Kalau Firman mengajak kita untuk mengasihi, kita dapat mulai mempraktikkannya dalam hal-hal sederhana. Di tengah sulitnya ekonomi, misalnya, kita bisa berkorban dengan menyisihkan sedikit gula atau beras untuk orang yang membutuhkan.
Kedua, periksa buah hidup kita. Apakah keluarga dapat merasakan damai dari kehadiran kita? Apakah kata-kata kita menentramkan? Apakah kehadiran kita membuat orang lain merasa diterima dan dihargai? Dengan beriman, seharusnya kita menjadi semakin lembut, jujur, dan peduli kepada sesama. Buah kehidupan kita menjadi salah satu tanda apakah akar iman kita sungguh berada dalam Kristus.
Berakar dalam Kristus berarti membiarkan diri percaya pada penyelenggaraan Ilahi-Nya. Kita masuk dalam doa, bukan hanya untuk mencari jawaban atas semua masalah, tetapi untuk semakin dekat dengan Kristus. Dengan demikian, Kristus tidak hanya kita bawa ke dalam gereja, tetapi juga kita bawa sampai ke rumah, tempat kerja, dalam setiap pengambilan keputusan, dan dalam cara kita memperlakukan sesama.
Mari kita mulai dari hal-hal kecil: lebih sabar dengan keluarga, berani meminta maaf lebih dulu, tidak mudah menghakimi, dan bersedia menyediakan waktu untuk Tuhan di tengah kesibukan.
Jika Kristus menjadi akar hidup kita, buahnya akan bisa dirasakan oleh orang-orang di sekitar kita. Kita tidak hanya ingin terlihat baik, tetapi karena hidup kita perlahan-lahan sedang diubah oleh-Nya.

satu Respon
The VIP treatment here is actually legit. Better rewards and more exclusive events than other sites I have used. Join 2q88vip for the best perks.