| Renungan hari ini dari bacaan 1 Korintus 15:1–11 dan Lukas 7:36–50. |
Hari ini kita berjumpa dengan dua orang yang memiliki masa lalu yang tidak sempurna: seorang perempuan berdosa dan Paulus.
Perempuan itu datang kepada Yesus dengan air mata. Ia tidak membawa pembelaan. Ia tidak membawa alasan. Ia tidak datang untuk membuktikan bahwa dirinya baik. Ia hanya membawa hati yang hancur, penyesalan, dan kerinduan untuk diampuni.
Orang-orang melihat dosanya.
Tetapi Yesus melihat hatinya.
Simon melihat seorang perempuan yang tidak layak. Yesus melihat seorang anak yang sedang pulang.
Betapa sering kita juga seperti Simon. Kita mudah melihat kesalahan orang lain, mengingat masa lalunya, lalu memberi cap seolah-olah kita lebih baik darinya.
Padahal, kita sendiri datang kepada Tuhan dengan membawa begitu banyak kekurangan.
Paulus pun memiliki masa lalu yang kelam. Ia pernah menganiaya para pengikut Kristus. Namun, perjumpaannya dengan Kristus mengubah seluruh hidupnya.
Karena itu, Paulus berkata:
“Karena kasih karunia Allah aku adalah sebagaimana aku ada sekarang.”
Paulus sadar bahwa hidupnya bukan karena ia hebat. Bukan karena ia selalu benar. Melainkan karena kasih karunia Tuhan tidak pernah menyerah kepadanya.
Bukankah demikian juga dengan kita?
Ada kesalahan yang masih kita sesali. Ada kata-kata yang pernah melukai orang lain. Ada dosa yang terus kita perjuangkan. Ada luka yang belum sembuh. Ada orang yang sampai hari ini belum mampu kita ampuni.
Tetapi, dengarkanlah ini baik-baik:
Tuhan tidak datang untuk mempermalukan kita. Tuhan datang untuk memulihkan kita.
Yesus berkata kepada perempuan itu:
“Dosamu telah diampuni… Imanmu telah menyelamatkan engkau; pergilah dengan damai.”
Seolah-olah Yesus berkata kepada kita:
“Aku tahu siapa dirimu. Aku tahu kelemahanmu. Aku tahu masa lalumu. Aku tahu air mata yang tidak pernah dilihat orang lain. Tetapi Aku tetap mengasihimu.”
“Jangan terus hidup sebagai tawanan masa lalu. Bangkitlah. Pergilah dengan damai.”
Tuhan sudah all out untuk kita. Ia tidak menahan kasih-Nya. Ia tidak menghitung apakah kita pantas atau tidak. Ia memberikan diri-Nya sampai ke salib, supaya kita tahu bahwa kasih-Nya lebih besar daripada dosa dan kegagalan kita.
Lalu pertanyaannya:
Apakah kita sudah menjadi cermin Tuhan dan perpanjangan kasih-Nya?
Mari kita jujur menatap diri.
Ketika teman sedang membutuhkan waktu kita, membutuhkan telinga untuk mendengar, atau membutuhkan senyuman yang menenangkan apakah kita hadir? Atau kita terlalu sibuk dengan urusan sendiri?
Ketika di gereja ada seseorang datang terlambat, mungkin karena sedang bergumul dengan persoalan berat di rumah—apakah kita memberinya tempat? Atau justru memandangnya dengan sinis?
Ketika berada di kendaraan umum, di jalan, atau sedang mengantre apakah kita rela mendahulukan mereka yang lebih membutuhkan: lansia, ibu hamil, orang sakit, atau mereka yang kelelahan?
Kadang kita ingin melakukan sesuatu yang besar untuk Tuhan. Padahal, Tuhan mungkin hanya meminta kita melakukan sesuatu yang sederhana:
Satu senyuman. Satu waktu untuk mendengar. Satu perhatian. Satu tempat yang kita berikan. Satu kesempatan. Satu pengampunan.
Karena kasih yang besar sering kali hadir melalui tindakan kecil yang dilakukan dengan hati yang tulus.
Kita telah begitu banyak diampuni. Maka, marilah kita belajar mengampuni.
Kita telah begitu banyak dikasihi. Maka, marilah kita belajar mengasihi.
Kita telah diterima meskipun tidak sempurna. Maka, marilah kita belajar menerima sesama.
Jangan sampai setelah menerima kasih Tuhan, kita malah membawa penghakiman.
Biarlah orang yang bertemu dengan kita juga merasakan bahwa Tuhan itu baik.
Doa
“Tuhan, terima kasih karena Engkau tidak pernah menyerah kepadaku. Jadikanlah hidupku cermin kasih-Mu. Ajarlah aku menjadi tangan-Mu yang menolong, telinga-Mu yang mendengarkan, dan hati-Mu yang mengampuni.”
Sebab, Yesus telah berkata:
“Imanmu telah menyelamatkan engkau; pergilah dengan damai.”
Jangan biarkan kasih Tuhan berhenti di dalam diri kita. Karena kita telah menerima kasih yang begitu besar, biarlah melalui hidup kita, kasih itu terus mengalir.
Amin.
