BENIH MATI AGAR TUNAS TUMBUH DAN HIDUP ( 19 September 2026 )

Renungan hari ini dari bacaan “Hai orang bodoh! Apa yang engkau sendiri taburkan, tidak akan tumbuh dan
hidup, kalau ia tidak mati dahulu.” (1 Kor 15:36)

Jika kita mempunyai hobi bertanam, kita dapat mengamati dan menikmati setiap proses pertumbuhan tanaman. Dari benih yang kecil ditanam, setelah beberapa waktu benih tersebut terbelah dan kulitnya terkelupas. Dari dalam benih tumbuh tunas yang sangat kecil. Semakin lama tunas tersebut semakin besar, batang dan daunnya tumbuh, sementara akarnya semakin kuat. Benih yang dahulu menopangnya akhirnya tidak tampak lagi karena sudah berubah bentuk menjadi tunas dan menjadi tanaman yang hidup.

Benih tersebut harus mati terlebih dahulu agar tunas baru dapat tumbuh dan hidup, yang kelak menjadi tanaman yang rimbun, berbunga dan berbuah lebat.

Rasul Paulus menggunakan gambaran ini ketika menjawab keraguan jemaat di Korintus tentang kebangkitan orang mati. Mereka bertanya, “Bagaimanakah orang mati dibangkitkan? Dan dengan tubuh apakah mereka akan datang?” (1Kor. 15:35). Paulus menjelaskan bahwa sebagaimana benih yang ditaburkan harus mengalami perubahan sebelum menjadi tanaman, demikian pula manusia yang mati akan mengalami perubahan dalam kebangkitan.

Benih yang ditaburkan tidak tetap dalam bentuknya semula. Ia mengalami proses perubahan sehingga kehidupan baru muncul. Demikian pula tubuh manusia yang mati tidak akan tetap dalam keadaan duniawinya. Allah yang memberikan kehidupan kepada benih juga berkuasa membangkitkan manusia. Yang ditaburkan adalah tubuh alamiah, tetapi yang dibangkitkan adalah tubuh rohaniah (1Kor. 15:44).

Manusia pertama, Adam, menjadi makhluk yang hidup. Kita berasal dari Adam dan mengenakan tubuh duniawi yang berasal dari bumi. Namun, Kristus, Adam yang kedua, menjadi Roh yang menghidupkan. Ia adalah kebangkitan dan hidup (Yoh. 11:25). Karena itu, orang yang menjadi milik Kristus mempunyai pengharapan akan kehidupan baru. Sebagaimana kita telah memakai rupa manusia duniawi, demikian pula kelak kita akan memakai rupa manusia sorgawi (1 Kor. 15:49).

Firman Tuhan dalam Lukas 8:4–15 membawa kita kepada gambaran benih yang lain. Benih adalah Firman Allah, sedangkan tanah menggambarkan hati manusia. Ada benih yang jatuh di pinggir jalan, di tanah berbatu, di tengah semak duri, dan ada yang jatuh di tanah yang baik. Benih yang jatuh di tanah yang baik adalah mereka yang mendengar firman, menyimpannya dalam hati yang baik, dan menghasilkan buah dalam ketekunan (Luk. 8:15).

Maka, kita dipanggil untuk menjadi tanah yang subur, tempat Firman Allah dapat tumbuh dan berakar. Firman tidak cukup hanya didengar, tetapi harus diwujudkan dalam kehidupan.

Kadang-kadang sesuatu dalam diri kita juga harus “mati” terlebih dahulu agar kehidupan baru dapat tumbuh: kesombongan harus mati agar kerendahan hati tumbuh; kebencian harus mati agar kasih hidup; egoisme harus mati agar kepedulian kepada sesama bertumbuh.

Seperti benih yang harus mati untuk menghasilkan kehidupan baru, demikian pula kita dipanggil untuk meninggalkan manusia lama dan bertumbuh menjadi manusia baru di dalam Kristus.

DOA

Tuhan Yesus Kristus, berikanlah kami hikmat, agar menjadi tanah yang subur bagi Firman-Mu. Biarlah Firman-Mu tumbuh dan berakar di dalam hati kami, menjadi pohon yang rimbun dan menghasilkan buah dalam kehidupan kami. Tolonglah kami untuk mematikan segala sesuatu yang tidak berkenan kepada-Mu, agar kehidupan baru di dalam Kristus dapat tumbuh dan berbuah, dengan pertolongan Roh Kudus.

Tuhan Yesus memberkati. Amin.

Disusun di Semarang, 15 September 2026

Penulis
Bible Learning Loving The Truth

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *