| Renungan hari ini dari bacaan Galatia 4:22-24,26-27,31-5:1; Lukas 11:29-32. “Orang-orang Niniwe bertobat setelah mendengarkan pemberitaan Yunus” (Luk. 11:32). |
Injil hari ini mengisahkan orang banyak yang meminta tanda kepada Yesus. Mereka ingin melihat sesuatu yang luar biasa tetapi Yesus justru mengarahkan mereka kepada Yunus yang menjadi tanda bagi orang-orang Niniwe. Melalui pemberitaan Yunus, orang-orang Niniwe menyadari kesalahan mereka dan bertobat. Yesus ingin menunjukkan bahwa tanda dari Tuhan bukan hanya untuk dilihat melainkan untuk didengarkan dan ditanggapi melalui perubahan hidup.
Hal ini mengingatkan saya pada pengalaman ketika saya pernah mendapat teguran dari seseorang. Awalnya, saya merasa tidak nyaman karena menganggap apa yang saya lakukan sudah benar. Namun, setelah merenungkannya dengan tenang, saya mulai menyadari bahwa ada sikap dalam diri saya yang perlu diperbaiki. Dari pengalaman tersebut, saya belajar bahwa teguran tidak selalu bertujuan menyalahkan kita, tetapi bisa menjadi cara Tuhan mengingatkan kita agar menjadi pribadi yang lebih baik.
Pengalaman ini membantu saya memahami sikap orang-orang Niniwe yang mau mendengarkan pemberitaan Yunus dan bertobat. Dalam kehidupan sehari-hari, Tuhan dapat berbicara melalui Sabda-Nya, keluarga, teman, teguran bahkan pengalaman yang tidak menyenangkan. Namun, terkadang kita sulit menerima teguran karena merasa diri paling benar. Kita juga sering mengetahui kesalahan sendiri tetapi masih mempertahankan kebiasaan lama seperti menyimpan dendam, sulit meminta maaf atau mengabaikan doa. Padahal pertobatan dimulai ketika kita berani mengakui kesalahan dan berusaha memperbaiki diri.
Bacaan pertama dari Surat Paulus kepada Jemaat di Galatia juga mengingatkan kita tentang kebebasan yang diberikan Kristus. Paulus berkata, “Kristus telah memerdekakan kita.” Kebebasan ini bukan berarti kita boleh melakukan segala sesuatu sesuka hati melainkan kebebasan untuk meninggalkan hal-hal yang menjauhkan kita dari Tuhan. Paulus mengajak kita untuk berdiri teguh dan tidak kembali kepada kuk perhambaan. Artinya, kita diajak untuk tidak terus diperbudak oleh kebiasaan buruk, ego dan kebencian tetapi berani hidup sesuai dengan kehendak Tuhan. Kebebasan dalam Kristus hendaknya membantu kita menjadi pribadi yang lebih mengasihi dan menghargai sesama.
Karena itu, pertobatan dan kebebasan dalam Kristus saling berhubungan. Ketika kita mau bertobat, kita belajar meninggalkan kehidupan lama dan menjalani kehidupan baru bersama Kristus. Perubahan itu dapat dimulai dari hal sederhana seperti meminta maaf, mengampuni orang lain, menjaga perkataan, memperbaiki hubungan dengan keluarga serta menyediakan waktu untuk berdoa. Meskipun terlihat sederhana, tindakan tersebut menunjukkan bahwa kita sungguh-sungguh mau menanggapi panggilan Tuhan.
Orang-orang Niniwe mau bertobat setelah mendengarkan pemberitaan Yunus. Kita pun telah mendengarkan Sabda Tuhan hari ini. Maka, marilah kita bertanya kepada diri sendiri: apakah kita sungguh-sungguh mendengarkan panggilan Tuhan, dan perubahan apa yang perlu kita lakukan? Semoga kita memiliki hati yang terbuka untuk menerima teguran, berani meninggalkan kebiasaan buruk, dan hidup dalam kebebasan yang telah diberikan Kristus. Dengan demikian, kita tidak hanya mendengarkan Sabda Tuhan, tetapi juga mewujudkannya melalui pertobatan dan perubahan hidup setiap hari.
