JANGAN HANYA TAHU, NAMUN HIDUPILAH ( 15 Oktober 2026 )

Renungan hari ini dari bacaan Efesus 1:1–10; Lukas 11:47–54.
“Celakalah kamu, Ahli-ahli Taurat, sebab kamu telah mengambil kunci pengetahuan; kamu sendiri tidak masuk ke dalam dan orang yang berusaha untuk masuk ke dalam kamu halang-halangi” (Luk. 11:52)

Injil hari ini memperlihatkan Yesus yang dengan tegas menegur para ahli Taurat dan orang-orang Farisi. Mereka adalah orang-orang yang mengenal hukum Taurat dan memahami banyak hal tentang kehidupan keagamaan. Mereka memiliki pengetahuan tentang Allah dan kehendak-Nya. Namun, persoalannya bukan terletak pada kurangnya pengetahuan. Persoalannya adalah bahwa pengetahuan itu tidak membawa mereka semakin dekat kepada Allah.

Yesus bahkan mengatakan bahwa mereka telah mengambil “kunci pengetahuan”. Kunci seharusnya digunakan untuk membuka pintu agar seseorang dapat masuk. Namun, mereka justru tidak masuk dan bahkan menghalangi orang lain yang ingin masuk. Dengan kata lain, mereka mengetahui jalan menuju Allah, tetapi kehidupan mereka sendiri tidak sungguh-sungguh berjalan di jalan tersebut.

Teguran Yesus ini menjadi sangat relevan bagi kehidupan kita. Sebab, terkadang kita juga dapat mengalami hal yang sama. Kita mengetahui banyak hal tentang iman. Kita tahu bagaimana seharusnya berdoa, bagaimana seharusnya mengasihi, bagaimana seharusnya mengampuni, bagaimana seharusnya melayani, dan bagaimana seharusnya menjadi seorang murid Kristus. Tetapi, mengetahui belum tentu berarti menjalankannya.

Kita bisa mengetahui bahwa mengampuni itu penting, tetapi tetap menyimpan dendam. Kita tahu bahwa membantu sesama adalah bagian dari iman, tetapi kita masih memilih untuk tidak peduli. Kita tahu bahwa Tuhan menghendaki kita hidup dalam kasih, tetapi dalam kehidupan sehari-hari kita masih mudah marah, menghakimi, dan menyakiti orang lain.

Di sinilah bacaan pertama dari Surat Rasul Paulus kepada jemaat di Efesus memberikan sebuah pengingat yang indah. Paulus mengatakan bahwa Allah telah memilih kita di dalam Kristus sebelum dunia dijadikan. Kita telah menerima kasih karunia dan penebusan melalui Kristus. Semua itu merupakan bagian dari rencana kasih Allah bagi manusia.

Artinya, kehidupan sebagai orang beriman tidak dimulai dari usaha kita untuk menjadi sempurna. Semuanya berawal dari Allah yang terlebih dahulu mengasihi dan memilih kita. Allah mempunyai kehendak agar hidup kita semakin serupa dengan kehendak-Nya dan membawa kita kepada persatuan dengan Kristus. Karena itu, iman bukan hanya tentang seberapa banyak kita mengetahui tentang Tuhan. Iman juga berbicara tentang bagaimana pengetahuan itu mengubah kehidupan kita.

Teguran Yesus dalam Injil hari ini bukan hanya ditujukan kepada para ahli Taurat pada zaman dahulu melainkan juga bagi kita dewasa ini. Jangan sampai kita hanya menjadi orang yang mengetahui banyak hal tentang Allah, tetapi tidak sungguh-sungguh mengenal dan mengalami kasih-Nya dalam kehidupan. Jangan sampai sikap, perkataan, atau tindakan kita, sebagai seorang pelayan, membuat orang lain justru menjauh dari Tuhan.

Hari ini kita diajak untuk membuka kembali “kunci pengetahuan” yang telah Tuhan berikan kepada kita. Jangan sampai kunci itu hanya kita pegang, tetapi tidak pernah kita gunakan untuk membuka pintu menuju kehidupan yang lebih dekat dengan Allah. Pengetahuan tentang iman hendaknya membawa kita kepada pertobatan. Pertobatan membawa kita kepada perubahan hidup, dan perubahan hidup membuat kita mampu menjadi jalan bagi orang lain untuk semakin mengenal kasih Allah.

Penulis
Bible Learning Loving The Truth

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *