| Renungan hari ini dari bacaan Efesus 4:32- 5:8; Lukas 13:10–13. “Lalu Ia meletakkan tangan-Nya atas perempuan itu, dan seketika itu juga tegaklah perempuan itu, dan memuliakan Allah” (Luk. 13:13). |
Apakah yang Anda rasakan ketika membaca perikop Bacaan Pertama (Ef. 4:32–5:8) dan Bacaan Injil (Luk. 13:10–13)? Pertanyaan reflektif tersebut merupakan pertanyaan aktual yang muncul saat kita merenungkan sabda hari ini. Bagaimana kedua bacaan ini menuntun kita untuk memuliakan Allah di zaman sekarang?
Ketika membaca perikop Efesus, saya merasa perlu melihat kembali latar belakang surat ini. Kota Efesus, yang kini berada di Turki dan menjadi situs warisan dunia UNESCO, pernah menjadi tempat Paulus melayani selama 3 tahun (Kis. 19:1–11). Di sana Paulus membaptis (Kis. 19:5), menumpangkan tangan (Kis. 19:6), berbicara dan berdebat (Kis. 19:8), mengajar di ruang kuliah Tiranus (Kis. 19:9–10), serta mengadakan mukjizat luar biasa (Kis. 19:11–12).
Surat ini diyakini ditulis Paulus saat berada di dalam penjara di Roma, sekitar 6 tahun setelah ia meninggalkan mereka. Apakah sudah terbayang apa yang membuat Paulus mau-maunya menulis surat dari balik jeruji besi? Menimbang bagian ini, saya teringat pengalaman sejarah yang lebih dekat di Indonesia: bagaimana Tan Malaka atau Soekarno tetap menulis surat perjuangan dari pengasingan/penjara, atau Arswendo Atmowiloto yang menulis novelnya dari lembaga pemasyarakatan.
Berbeda dengan Surat Galatia atau Korintus, Surat Efesus ditulis bukan terutama untuk menegur jemaat atau menyelesaikan sengketa doktrin tertentu. Paulus ingin menguraikan rencana abadi Allah bagi gereja serta mempersatukan seluruh umat manusia di dalam Kristus, sebuah pengajaran iman lanjutan yang sangat mendalam.
Dalam Ef. 4:32–5:8, Paulus mengingatkan kembali pokok-pokok praktis hidup beriman: Menaruh keramahan dan saling mengampuni (Ef. 4:32), menjadi penurut-penurut Allah dan hidup di dalam kasih (Ef. 5:1–2), menjauhkan percabulan, rupa-rupa kecemaran, atau keserakahan (Ef. 5:3), menghindari perkataan kotor, kosong, atau sembrono, dan menggantinya dengan ucapan syukur (Ef. 5:4).
Paulus menegaskan bahwa masa lalu jemaat adalah kegelapan, sehingga kini mereka dipanggil untuk hidup sebagai anak-anak terang di dalam Tuhan (Ef. 5:8). Inilah cara memuliakan Allah menurut warta Paulus. Sungguh luar biasa: di tengah keterbatasan ruang penjara di Roma, ia masih sempat-sempatnya memikirkan sesama dan menyusun pengajaran yang menguatkan.
Perikop Lukas 13:10–13 merupakan penggalan dari rangkaian pengajaran Yesus mengenai pembebasan, biji sesawi, dan ragi. Melalui kisah ini, Yesus memperlihatkan apa yang sesungguhnya esensial untuk kita lakukan hingga hari ini.
Ketika dihadapkan pada pilihan antara membebaskan manusia dari penderitaan atau ketaatan kaku pada aturan hukum, Yesus memberi teladan konkret melalui tindakan-Nya. Membayangkan suasana rumah ibadat pada hari Sabat kala itu (Luk. 13:10), ingatan saya berkelebat pada suasana peribadatan di dalam gereja saat ini. Situasinya terasa sangat berbeda: suasana sekarang kerap satu arah dan minim dialog. Apakah perjumpaan yang hidup seperti itu juga menjadi panggilan kita di zaman ini? Rasanya situasi hidup seperti di perikop Lukas lebih mudah dirasakan dalam perjumpaan komunitas-komunitas kecil yang saling mendengarkan.
Membayangkan diri berada di posisi perempuan yang dirasuk roh selama 18 tahun hingga bungkuk dan tak mampu berdiri tegak (Luk. 13:11), sungguh terasa berat sekali beban hidup itu. Namun, ketika Yesus memanggil dan bersabda bahwa penyakit itu telah sembuh, kelegaan yang luar biasa tentu membuat siapa pun, termasuk saya, serta-merta memuliakan Allah, persis seperti yang dialami perempuan tersebut (Luk. 13:13).
Imajinasi dan penghayatan tersebut membawa saya menengok kembali peziarahan hidup pribadi: pengalaman-pengalaman ketika Tuhan hadir dan membebaskan saya dari rupa-rupa himpitan penderitaan. Kesadaran akan pembebasan cuma-cuma itulah yang menjadi panggilan mendasar untuk memuliakan Allah seumur hidup.
“Ya Allah, hidupku adalah panggilan untuk memuliakan-Mu setiap hari, atas segala pembebasan yang telah kualami, terutama pembebasan dari belenggu dosa yang memisahkanku dari hadirat-Mu. Amin.”
