| Renungan hari ini dari bacaan Efesus 5:21-23, Lukas 13:18-21 “Rendahkanlah dirimu seorang kepada yang lain di dalam takut akan Kristus” (Ef. 5:21) |
Pernikahan bukan sekadar hubungan antara dua orang yang saling mencintai, tetapi juga relasi yang perlu dibangun berdasarkan nilai-nilai yang diajarkan Kristus. Namun, dalam kehidupan sehari-hari, hubungan suami-istri dapat berubah menjadi perebutan kekuasaan; suami ingin dihormati, sedangkan istri ingin dicintai. Keduanya dapat terjebak dalam keinginan untuk menang, hingga lupa bahwa pernikahan seharusnya menjadi tempat untuk keduanya bertumbuh dewasa dalam kasih.
Dalam Efesus 5:21–23, rasul Paulus memberikan nasihat tentang kehidupan pernikahan. Paulus memulainya dengan sebuah prinsip penting, “rendahkanlah dirimu seorang kepada yang lain di dalam takut akan Kristus” (Ef. 5:21). Baru setelah itu, Paulus berbicara tentang ketundukan istri kepada suami dan kedudukan suami sebagai kepala istri.
Urutan ini mengingatkan kita bahwa relasi pernikahan Kristen tidak boleh dibangun hanya berdasarkan kedudukan atau hak, tetapi harus berpusat pada Kristus.
Efesus 5:21 mengajarkan bahwa orang percaya dipanggil untuk merendahkan diri seorang kepada yang lain karena hormat kepada Kristus. Prinsip ini juga berlaku dalam pernikahan. Baik suami maupun istri harus menyadari bahwa mereka sama-sama harus tunduk kepada Allah.
Orang yang tunduk kepada Allah tidak akan menjadikan kepentingan pribadi sebagai ukuran utama dalam mengambil keputusan, tetapi mempertimbangkan perasaan Allah dalam setiap sikap hati dan tingkah lakunya. Karena itu, baik suami maupun istri perlu memperkarakan setiap keputusan, pendapat, pemikiran, dan perasaan mereka masing-masing apakah berkenan kepada Allah atau tidak.
Hubungan yang berpusat pada Kristus bukan berarti tidak pernah mengalami konflik. Perbedaannya terletak pada cara pasangan menghadapi konflik tersebut. Pasangan yang sama-sama tunduk kepada Kristus, tidak akan berusaha mengalahkan satu sama lain, tetapi berusaha menemukan jalan yang benar dengan kasih dan kerendahan hati. Jadi, baik suami maupun istri, keduanya harus mampu mengakui kesalahan, meminta maaf, dan mencari penyelesaian yang baik ketika terjadi perbedaan.
Selanjutnya (Ef. 5:22) Paulus meminta istri untuk tunduk kepada suaminya seperti kepada Tuhan. Perintah ini tidak boleh dipisahkan dari ayat 21. Jadi perintah ketertundukan istri kepada suami ini tidak boleh disalahgunakan untuk membenarkan suami berlaku sesuka hati kepada istri atau menuntut ketaatan tanpa batas. Sebab, sebelum istri tunduk kepada suaminya, baik suami maupun istri harus terlebih dahulu hidup dalam ketertundukan kepada Kristus, inilah batasan yang ditentukan oleh Paulus sebelumnya.
Jadi suami pun berada di bawah otoritas Tuhan, dan istri tetap memiliki tanggung jawab moral untuk membedakan mana yang benar dan yang salah, menyampaikan keberatan, serta menolak tindakan yang bertentangan dengan kehendak Tuhan.
Selanjutnya rasul Paulus menyatakan bahwa suami adalah kepala istri, sebagaimana Kristus adalah kepala jemaat dan penyelamat tubuh (Ef. 5:23). Gambaran ini perlu dipahami dalam terang teladan Kristus, yang mengasihi jemaat dan menyerahkan diri bagi mereka.
Kristus tidak menggunakan kedudukan-Nya secara egois atau semena-mena, sebaliknya Ia rela mengorbankan diri-Nya demi keselamatan jemaat. Dengan demikian, kepemimpinan suami dalam pernikahan tidak seharusnya dipahami sebagai hak untuk menguasai, melainkan sebagai tanggung jawab yang harus dijalankan dengan kasih dan pengorbanan.
Ini bukan berarti suami harus sempurna. Namun, ia perlu bersedia terus dibentuk dalam Kristus. Ia harus berani memeriksa dirinya sendiri: apakah perkataan dan tindakannya membangun keluarganya, atau justru melukai orang-orang yang dipercayakan kepadanya?
Istri diperintahkan untuk menghormati suaminya(Ef. 5:22). Menghormati suami berarti menghargai dirinya sebagai pasangan hidup, mendengarkan pendapatnya, menyampaikan perbedaan dengan cara yang membangun bukan merendahkan, dan mendukungnya dalam menjalankan tanggung jawab keluarga. Penghormatan bukan berarti istri harus selalu setuju atau menganggap suami tidak pernah salah. Sebaliknya, penghormatan yang dewasa tetap memberi ruang bagi kejujuran, teguran yang bijaksana, dan dialog yang sehat. Relasi pernikahan akan bertumbuh ketika suami dan istri tidak saling merendahkan, melainkan berusaha memahami dan membangun satu sama lain.
Baik suami, maupun istri dipanggil untuk terus bertumbuh dalam Kristus. Karena kedewasaan rohani tidak hanya terlihat dari kesetiaan beribadah atau pelayanan di gereja, tetapi juga dari karakter yang semakin mencerminkan kasih, kesabaran, penguasaan diri, dan kebijaksanaan dalam kehidupan sehari-hari. Istri tidak seharusnya menggantungkan seluruh pertumbuhan rohaninya pada suami, demikian juga sebaliknya. Masing-masing orang bertanggung jawab kepada Tuhan atas iman dan kehidupannya sendiri. Ketika suami dan istri sama-sama bertumbuh dalam Kristus, mereka dapat saling menguatkan, saling mengoreksi dengan kasih, dan bersama-sama membangun pernikahan yang semakin mencerminkan kehendak Tuhan.
Karena itu, janganlah kita hanya bertanya, “Apakah pasangan saya sudah melakukan kewajibannya?” Melainkan marilah kita juga bertanya, “Apakah dalam pernikahan ini perilaku saya telah mencerminkan Kristus?”
