Mencari Kristus, Bukan Mencari Kursi ( 31 Oktober 2026 )

Renungan dari bacaan Filipi 1:8–26; Lukas 14:1. 7–11.
“Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.” (Lukas 14:11)

Seorang pria diundang ke pesta pernikahan rekan kerjanya. Merasa paling dekat dengan pimpinan, ia langsung duduk di meja VIP barisan depan yang sebenarnya diperuntukkan bagi direksi. Beberapa menit kemudian, panitia memintanya pindah ke meja belakang dekat dapur. Seluruh ruangan menyaksikannya, ia malu luar biasa. Seandainya sejak awal ia memilih duduk di belakang, tuan pesta sendiri yang akan mengantarnya ke depan dengan penuh hormat.

Ilustrasi ini menggambarkan peristiwa dalam Injil hari ini. Yesus diundang ke rumah seorang pemimpin Farisi pada hari Sabat (Luk. 14:1). Para tamu yang hadir saling berebut tempat kehormatan karena posisi duduk melambangkan status sosial. Fenomena serupa juga dijumpai Paulus di Filipi: ada orang yang mewartakan Kristus dengan tulus, namun ada pula yang bermotif dengki dan mencari popularitas demi kepentingan diri (Fil. 1:15).

Akar masalahnya adalah loving self, not the truth, mencintai pujian, bukan kebenaran. Kita ingin selalu dilihat, diakui, dan berada di depan. Inilah kesombongan rohani. Di zaman personal branding ini, pelayanan pun kerap tergelincir menjadi ajang mencari panggung. Kita berdoa, melayani, atau membuat konten rohani bukan agar Kristus dikenal, melainkan agar diri kita dipuji. Akibatnya timbul iri hati, perpecahan, dan kelelahan batin karena yang kita buru bukanlah Kristus, melainkan kursi kehormatan.

Menanggapi hal itu, Yesus menyampaikan perumpamaan yang mendalam: “Janganlah duduk di tempat kehormatan… duduklah di tempat yang paling rendah” (Luk. 14:8, 10). Puncaknya ditegaskan dalam Lukas 14:11: “Barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.” Inilah hukum Kerajaan Allah: jalan untuk naik adalah jalan turun.

Yesus tidak sekadar mengajarkan tata krama perjamuan, melainkan kebenaran diri kita di hadapan Allah. Di hadapan-Nya, kita bukanlah siapa-siapa. Kesadaran inilah yang memerdekakan kita dari kecemasan berlebihan, ketakutan, rasa bersalah, dan kepura-puraan. Seperti ditegaskan St. Teresa dari Avila: “Kerendahan hati adalah kebenaran.” Senada dengannya, St. Agustinus berpesan: “Apakah engkau ingin menjadi besar? Mulailah dengan menjadi kecil.”

Hubungan antara Lukas 14 dan Filipi 1 adalah perpaduan antara ajaran dan pelakunya. Jika Lukas 14 menyerukan “rendahkanlah dirimu”, maka Filipi 1 menampilkan Paulus yang menghidupinya secara nyata. Dari balik penjara yang hina, Paulus melepaskan gengsi dan berkata: “Bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan” (Flp. 1:21). Paulus merindukan jemaat dengan kasih mesra Kristus (Flp. 1:8). Keduanya bermuara pada satu prinsip: Kristus harus makin bertambah, dan aku harus makin berkurang.

Hal ini selaras dengan ajaran Gereja: Kerendahan hati adalah dasar doa yang benar (KGK 2559). Sabda bahagia mengingatkan bahwa Tuhan meninggikan orang yang rendah hati di hadapan Allah (KGK 2546). Kesombongan adalah awal mula segala dosa, sedangkan kerendahan hati membuka pintu rahmat (KGK 1947).

Kita dapat melatih diri agar menjadi rendah hati melalui langkah konkret berikut ini: Pertama, Praktik Tempat Terakhir: Pilihlah menjadi yang terakhir dilayani atau berbicara, tetapi jadilah yang pertama dalam melayani. Kedua, ujian motivasi: Sebelum berbicara, mengunggah sesuatu, atau melayani, tanyalah ke dalam hati: “Apakah ini demi kemuliaan Kristus atau demi egoku?” Ketiga, doa harian: Jadikan Filipi 1:21 doa pribadi: “Tuhan, hidupku adalah Kristus.”

Orang yang meninggikan diri sibuk mempertahankan kursinya agar tidak direbut orang. Orang yang rendah hati sibuk menjaga agar Kristus tetap bertakhta di hatinya. Kursi duniawi pada akhirnya akan ditinggalkan, namun tempat di hati Yesus kekal selamanya.

Di penghujung bulan Oktober ini, mari jujur berkata: “Tuhan, selama ini aku sibuk mencari kursiku sendiri; hari ini aku hanya mencari Engkau.” Pilihlah tempat yang rendah, dan biarkan Tuhan sendiri yang mengangkat kita seturut kehendak-Nya.

Amin. Berkah Dalem.

Penulis
Priscilla Lucia Widjaja
Paskalis Edwin I Nyoman Paska

satu Respon

  1. Orang yang meninggikan diri sibuk mempertahankan kursinya agar tidak direbut orang. Orang yang rendah hati sibuk menjaga agar Kristus tetap bertakhta di hatinya.
    Thank you sis Lucia, ……

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *