JANGAN TAKUT YESUS TIDAK PERNAH MENOLAK KITA ( 2 November 2026 )

Renungan hari ini dari bacaan Makabe 12: 43-46, Yohanes 6: 37-40
“Semua yang diberikan Bapa kepada-Ku akan datang kepada-Ku, dan siapa saja yang datang kepada-Ku, ia tidak akan Kubuang.” (Yoh. 6:37)

Injil hari ini menyingkapkan hati Yesus yang sarat belas kasih dan keterbukaan tanpa syarat. Sabda-Nya tegas: Ia tidak akan menolak siapa pun yang mencari dan beriman kepada-Nya. Penerimaan Kristus tidak bersyarat pada saat hidup kita berjalan mulus atau ketika hati kita merasa suci. Justru di tengah kerapuhan, kelelahan batin, rasa bersalah atas dosa, hingga saat kita merasa tidak berharga, tangan-Nya tetap terbuka menyambut kita.

Sering kali rasa malu dan takut menghalangi langkah kita mendekat kepada Allah. Kita keliru menduga bahwa kesalahan dan dosa membuat Allah berpaling meninggalkan kita. Namun, sabda Yesus meluruskan prasangka batin tersebut: jangan pernah menjauh saat kita jatuh dan terluka. Kedatangan Kristus ke dunia murni untuk menunaikan kehendak Bapa yang mengutus-Nya, yaitu merengkuh keselamatan manusia agar tidak ada satu pun jiwa yang hilang atau binasa dalam keputusasaan (Yoh. 6:38–39).

Dalam realitas harian, tekanan hidup kerap mengikis daya tahan iman kita. Beban ekonomi, keretakan relasi keluarga, kegagalan studi atau karier, hingga konflik antarpribadi mudah membuat kita lelah dan meragukan perhatian Tuhan. Kita tergoda memendam sendiri beban tersebut dalam kepedihan tanpa membawanya ke dalam doa, seolah-olah kita harus menanti hidup menjadi sempurna atau masalah selesai terlebih dahulu sebelum layak menghadap-Nya. Padahal, justru saat hati remuk dan langkah terhuyung-huyung, itulah saat paling tepat untuk bersimpuh di kaki-Nya. Di dalam Dia, kita menemukan kelegaan dan kekuatan baru.

Kebenaran sabda ini terpatri nyata dalam pergulatan pribadi saya. Pernah ada masa ketika himpitan persoalan hidup terasa begitu menindih, hingga kata-kata tak sanggup terucap selain tetesan air mata. Rasa putus asa sempat membisikkan rasa tidak pantas, menumbuhkan ketakutan untuk mendekat kepada Tuhan. Namun, di titik nadir tersebut, rahmat-Nya bekerja. Melalui kehadiran orang-orang di sekitar yang tulus menguatkan, Tuhan menopang dan membangkitkan saya dari keterpurukan. Pengalaman diselamatkan itu menyadarkan saya secara mendalam: Tuhan tidak pernah membuang saya karena kelemahan masa lalu; Ia menerima saya apa adanya dan mengubah rasa takut menjadi keberanian iman untuk senantiasa berpaut kepada-Nya dalam setiap musim kehidupan.

Bagi kita semua yang percaya, mari menepis segala ketakutan untuk datang kepada Yesus. Kasih-Nya melampaui masa lalu dan kerapuhan kita. Bersama Dia, kita tidak berjalan sendirian; kita memiliki sandaran kokoh untuk bangkit dari kegagalan, tekun melangkah dalam pembaruan hidup, dan menatap janji keselamatan kekal yang telah disediakan-Nya. Amin.

Penulis
Bible Learning Loving The Truth
Paskalis Edwin I Nyoman Paska

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *