TAMPAK BERIMAN DAN HIDUP DALAM IMAN ( 9 November 2026 )

Renungan hari ini dari bacaan Yehezkiel 47:1-2. 8-9. 12; Yohanes 2:13-22.
“Rombak Bait Allah ini, dan dalam tiga hari Aku akan mendirikannya kembali.” (Yoh. 2:19)

Bacaan hari ini mengajak kita merenungkan kehadiran Allah yang membawa kehidupan. Dalam bacaan pertama, Nabi Yehezkiel melihat air yang mengalir dari Bait Allah dan membawa kehidupan bagi segala sesuatu yang dilaluinya. Air itu menjadi tanda bahwa Allah sanggup memulihkan dan menyuburkan kehidupan manusia. Sementara itu, dalam Injil, Yesus membersihkan Bait Allah yang telah dipenuhi para pedagang. Ia mengingatkan bahwa rumah Bapa-Nya bukan tempat untuk mencari keuntungan, melainkan tempat perjumpaan dengan Allah. Kedua bacaan ini mengajak kita bertanya: apakah hidup kita sungguh memberi ruang bagi Allah?

Kita bisa rajin berdoa, mengikuti misa, dan aktif dalam pelayanan, tetapi masih mudah menyakiti orang lain, marah ketika keinginan tidak terpenuhi, atau sulit mengakui kesalahan sendiri. Kita sering ingin orang lain berubah, tetapi lupa membenahi diri. Kita ingin dimengerti, tetapi belum tentu mau memahami orang lain. Di sinilah tindakan Yesus membersihkan Bait Allah menjadi teguran bagi kita. Jangan sampai kita begitu sibuk melakukan kegiatan keagamaan, tetapi hati kita semakin jauh dari Tuhan. Sebab, kedekatan dengan Allah seharusnya tampak dalam cara kita memperlakukan sesama. Lalu, apa yang dapat kita lakukan? Pertobatan bisa dimulai dari hal-hal sederhana. Jika kita menyakiti seseorang, beranilah meminta maaf. Jika terbiasa membicarakan keburukan orang lain, belajarlah menjaga perkataan. Jika menyimpan dendam, mulailah membuka hati untuk mengampuni. Jika melayani demi pujian, belajarlah melayani dengan tulus. Kita juga perlu menyediakan waktu untuk berdoa dan membaca Kitab Suci, bukan sekadar sebagai rutinitas, melainkan sebagai kesempatan untuk mendengarkan Tuhan.

Perubahan memang tidak selalu mudah. Namun, Injil mengingatkan kita akan Yesus yang berbicara tentang Bait Allah yang akan dibangun kembali dalam tiga hari. Penginjil Yohanes menjelaskan bahwa yang dimaksudkan Yesus adalah tubuh-Nya sendiri. Perkataan ini menunjuk pada wafat dan kebangkitan-Nya. Melalui Kristus, kita memperoleh harapan untuk bangkit dan memulai kembali. Kita tidak harus terus tinggal dalam kesalahan, tetapi perlu bersedia bertobat dan mengambil langkah nyata untuk berubah.

Bacaan pertama pun mengingatkan bahwa air yang mengalir dari Bait Allah membawa kehidupan. Demikian juga, iman kita seharusnya membawa kebaikan bagi orang lain. Kehadiran kita hendaknya menguatkan, bukan melukai, mendamaikan, bukan memperkeruh keadaan. Maka, marilah kita bertanya kepada diri sendiri: apa yang perlu saya bersihkan dari hati saya agar Tuhan mendapat tempat yang lebih besar dalam hidup saya? Jangan hanya menuntut orang lain berubah. Mulailah dari diri sendiri, melalui satu sikap yang diperbaiki dan satu kebaikan yang sungguh dilakukan. Semoga Tuhan membarui hati kita sehingga iman tidak hanya tampak dalam doa dan pelayanan, tetapi juga menghasilkan buah kasih yang dapat dirasakan oleh sesama. Amin.

Penulis
Bible Learning Loving The Truth
Paskalis Edwin I Nyoman Paska

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *