Akulah Roti Hidup (8 Mei 2025)

Renungan dari Bacaan : Kis 8: 26-40 dan  Injil Yohanes 6:41-51
Akulah roti hidup  yang telah turun dari sorga. Jikalau seorang makan dari roti ini, ia akan hidup selama-lamanya, dan roti yang Kuberikan itu ialah daging-Ku, yang akan Kuberikan untuk hidup dunia. (Yoh 6 : 51)

Orang percaya kepada Yesus bukan karena ia yang memilih untuk percaya, melainkan karena Bapa yang memilih dia untuk percaya. Seperti apa yang terjadi dengan Filipus yang berangkat menemui seorang Etiopia, seorang sida-sida, pembesar dan kepala perbendaharaan Sri Kandake, ratu negeri Etiopia, yang sedang melakukan perjalanan menuju ke Yerusalem untuk beribadah. Sida-sida itu menjadi percaya dan dibaptis karena Bapa yang menariknya melalui Filipus yang diutusnya untuk memberitakan injil Yesus. Orang yang dipilih Bapa akan datang kepada Yesus dan percaya bahwa Dialah roti hidup yang turun dari surga.

Sulit sekali pemimpin-pemimpin agama orang Yahudi menerima fakta bahwa Yesus berasal dari surga dan bukan dari dunia. Ia juga menyapa Allah sebagai Bapa-Nya, sebab mereka mengenal orang tua-Nya.

Jika kita hidup di zaman itu, mungkin kita juga tidak  akan percaya bahwa Yesus berasal dari surga karena Yesus hidup sebagai manusia di dunia ini sama seperti manusia pada umumnya.

Setiap orang yang telah dipilih Bapa untuk percaya kepada Yesus adalah orang yang menerima ajaran Bapa di dalam hatinya, yaitu ajaran firman Tuhan yang didengar dan dipahami. Keyakinan kepada Yesus memberi makna bahwa seseorang sudah sampai pada tahap dipuaskan oleh Roti Hidup. Roti kehidupan yang diberikan Bapa bukan seperti roti manna yang di padang gurun pada waktu bangsa Israel menerimanya.

“Akulah roti hidupyang telah turun dari surga. Jikalau seorang makan dari roti ini, ia akan hidup selama-lamanya, dan roti yang Kuberikan itu ialah daging-Ku, yang akan Kuberikan untuk hidup dunia.”

Yesus menyatakan dirinya “Akulah roti hidup” yang telah Ia buktikan dengan tubuh-Nya yang Ia kurbankan untuk memberi hidup yang kekal bagi mereka yang percaya kepada-Nya.

Dalam Ekaristi kita mengimani menyambut Tubuh dan Darah-Nya sebagai anugerah keselamatan dari hukuman kekal. Sakramen ini mengingatkan kita pada pengorbanan-Nya dikayu salib. Mengambil bagian dalam Ekaristi berarti kita menyegarkan iman kita dan mengucap syukur atas pengorbanan Yesus yang telah menyelamatkan kita dari dosa.

Kasih Bapalah yang memilih kita untuk percaya kepada Yesus, supaya kita diselamatkan. Tuhan Yesus memberkati.

Penulis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *