Allah yang Terus Bekerja dalam Kesederhanaan Hidup ( 18 Maret 2026 )

Renungan hari ini dari bacaan Yesaya 9:8–25; Yohanes 5:17–30
“Namun, Ia berkata kepada mereka, “Bapa-Ku bekerja sampai sekarang, dan Aku pun bekerja” (Yoh. 5:17).

Suatu pagi, saya melihat seorang nenek tua berjalan perlahan sambil mendorong gerobak kecilnya. Usianya mungkin sudah lebih dari tujuh puluh tahun. Langkahnya tidak lagi kuat, tetapi tetap mantap. Ia menjajakan gorengan hangat dan teh manis yang mengepul tipis di udara pagi. Senyumnya ramah, pelayanannya sabar, dan ketekunannya terasa menyejukkan hati. Ia tidak mengeluh, meskipun hari mulai panas dan tubuhnya renta. Ia terus bekerja.

Melihat itu, saya teringat akan sabda Yesus dalam Yohanes 5:17: “Bapa-Ku bekerja sampai sekarang, maka Aku pun bekerja juga.” Dalam kesederhanaannya, nenek itu seakan menjadi cermin kecil dari karya Allah yang terus berlangsung tanpa henti. Ia mengajarkan bahwa pekerjaan Allah tidak selalu hadir dalam hal besar dan spektakuler, tetapi juga dalam kesetiaan yang sederhana.

Sering kali kita sulit melihat bahwa Allah sedang bekerja dalam hidup kita. Kita cenderung mengaitkan karya Allah hanya dengan hal-hal yang “rohani” dan mencolok: doa yang panjang, mukjizat yang luar biasa, atau perayaan liturgi yang khidmat. Padahal, Injil hari ini mengajak kita untuk membuka mata: Allah juga bekerja dalam hal-hal kecil, dalam senyum, kesabaran, kejujuran, dan perhatian sederhana kepada sesama.

Mengapa kita kerap gagal melihatnya? Karena kita terbiasa mencari tanda-tanda besar. Kita ingin bukti yang jelas dan spektakuler, terutama ketika hidup terasa membingungkan. Akibatnya, kita menilai iman dari kejutan besar, bukan dari kesetiaan sehari-hari. Kita lupa bahwa Allah sering bekerja secara diam-diam: dalam ketenangan hati, dalam hikmat saat mengambil keputusan, dalam kekuatan untuk tetap bertahan, atau dalam perubahan hati yang perlahan.

Nabi Yesaya dalam bacaan pertama mengingatkan bahwa Allah hadir dalam sejarah umat-Nya, terutama melalui seruan akan keadilan dan pertobatan. Allah bekerja bukan hanya dalam ibadah, tetapi juga dalam bagaimana umat memperlakukan sesamanya, terutama yang lemah dan tertindas. Di sini kita melihat bahwa karya Allah selalu mengarah pada pembaruan hidup: keadilan, belas kasih, dan pertobatan hati.

Karena itu, kita dipanggil untuk menyelaraskan iman dengan tindakan. Iman tidak cukup diucapkan; iman harus terlihat. Seperti ditegaskan oleh Santo Fransiskus dari Assisi: “Mulailah dengan hal-hal sederhana dan biarkan kasih Allah bekerja.” Keselarasan antara iman dan perbuatan inilah yang membuat karya Allah menjadi nyata dalam dunia.

Apa artinya secara konkret?

Kita dapat mulai dari hal-hal kecil: menepati janji sederhana, membalas pesan dengan penuh perhatian, atau hadir tepat waktu. Kita belajar mendengarkan dengan sabar ketika orang lain berbicara, tetap ramah meski hati lelah, dan menahan diri dari amarah. Kita bisa membantu tetangga yang sakit, berbagi dengan yang membutuhkan, atau mendoakan seseorang sambil juga memberikan bantuan nyata. Dalam semua itu, kita sebenarnya sedang mengambil bagian dalam karya Allah.

Dokumen Gereja Gaudium et Spes, 23–24 menegaskan bahwa pekerjaan manusia adalah bagian dari martabat dan panggilan kita. Ketika dilakukan dalam kasih, pekerjaan sehari-hari menjadi sarana di mana karya Allah hadir dan dialami dunia. Dengan kata lain, hidup kita sendiri dapat menjadi tempat Allah berkarya.

Di tengah dunia yang sering menekankan efisiensi dan hasil besar, kita diingatkan untuk bertanya: apakah pekerjaan kita berakar pada doa dan hikmat? Apakah keputusan kita mencerminkan kasih Allah? Karena iman yang hidup tidak hanya terdengar dalam kata-kata, tetapi terlihat dalam tindakan: dalam kejujuran, keadilan, belas kasih, dan pelayanan.

Akhirnya, marilah kita belajar melihat jejak Allah dalam hidup sehari-hari. Doa menjadi jangkar yang meneguhkan kita, dan tindakan menjadi cahaya yang menerangi sekitar. Ketika iman dan perbuatan berjalan bersama, kita tidak hanya percaya kepada Allah yang bekerja, kita juga ikut ambil bagian dalam karya-Nya.

Mungkin, tanpa kita sadari, melalui hal-hal kecil yang kita lakukan dengan kasih, orang lain pun dapat melihat: Allah masih bekerja hari ini, di sini, melalui kita.

Penulis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *