| Renungan hari ini dari bacaan 2 Samuel 7: 4 – 17; Markus 4 : 1 – 20. “Dinastimu dan kerajaanmu akan teguh untuk selama-lamanya di hadapan-Ku, takhtamu akan kokoh untuk selama-lamanya.” (2Sam. 7:16) |
Raja Daud merasa gelisah. Ia tinggal di istana yang megah, sementara Tabut Tuhan masih berada di dalam kemah. Hatinya tergerak: “Aku harus membangun rumah bagi TUHAN.” Secara manusiawi, niat ini sangat luhur dan religius.
Namun, Allah melalui Nabi Natan memberikan jawaban yang mengejutkan. Allah tidak mengizinkan Daud membangun rumah bagi-Nya, melainkan Salomo. Bahkan Allah menegaskan: “Bukan engkau yang akan membangun rumah (bayit) bagi-Ku, tetapi Aku yang akan membangun rumah (bayit) bagimu.” (2Sam 7:11)
Di sini terdapat permainan kata yang sangat indah dalam bahasa Ibrani. Bayit berarti rumah, tetapi juga berarti dinasti atau keturunan. Daud ingin membangun bayit bagi Allah, tetapi Allah justru membangun bayit bagi Daud, sebuah dinasti yang akan bertahan terus dan akhirnya berpuncak pada Yesus Kristus, Mesias keturunan Daud.
Mengapa Allah menolak proyek religius Daud? Supaya tidak ada kesan bahwa Daud bisa “membeli” berkat Allah. Allah ingin menegaskan bahwa dinasti Daud adalah murni anugerah, bukan transaksi do ut des (“aku memberi supaya Engkau memberi).” Di sini kita belajar bahwa anugerah Allah selalu mendahului karya manusia, dan Allah tidak pernah bisa “dibeli” oleh proyek religius, seagung apa pun proyek itu.
Saya teringat suatu pengalaman pribadi. Suatu kali anak saya membelikan hadiah ulang tahun untuk saya dengan uang yang sebelumnya saya berikan kepadanya. Dengan penuh sukacita dan bangga, ia menyerahkan hadiah itu. Saya tersenyum, bukan karena hadiah itu sendiri, tetapi karena saya tahu bahwa kasihnya kepada saya tidak bergantung pada hadiah tersebut. Relasi kasih kami tidak didasarkan pada transaksi. Begitu pula relasi Allah dengan kita: kasih Allah tidak bergantung pada proyek dan jasa kita.
Allah mendirikan dinasti Daud bukan demi Daud sendiri, tetapi demi umat dan demi sejarah keselamatan. Daud bukan tujuan akhir, melainkan alat dalam rencana Allah. Anugerah selalu melahirkan perutusan. Daud dipanggil untuk memimpin umat ke dalam kebenaran.
Demikian pula kita. Kita dipanggil bukan hanya untuk menerima janji dan rahmat Allah, tetapi untuk memimpin orang lain kepada kebenaran. Namun, cara kita melakukannya bukan pertama-tama dengan kekuasaan atau proyek besar, melainkan dengan menjadi tanah yang baik bagi firman Allah. Tugas kita bukan menciptakan benih, karena benih adalah anugerah Allah, melainkan menyediakan tanah yang subur agar benih itu bertumbuh dan menghasilkan buah.
Dalam perumpamaan tentang penabur (Mrk 4:1–20), Yesus menyebutkan empat jenis tanah: tanah di pinggir jalan, tanah berbatu, tanah bersemak duri, dan tanah yang baik. Kita tentu dipanggil untuk menjadi tanah yang baik. Itu berarti: tidak membiarkan keinginan daging mengeraskan hati kita, membersihkan “semak duri” berupa keserakahan, ambisi, dan kekhawatiran, mendengarkan Firman dengan hati terbuka, tekun dalam doa dan studi Kitab Suci, serta melaksanakan Firman dalam kehidupan nyata. Jika hati kita menjadi tanah yang berkualitas demikian, benih Firman akan bertumbuh dan menghasilkan buah kasih, keadilan, kebenaran, dan sukacita yang kita bagikan kepada sesama.
Namun, ketika buah itu berlipat-lipat, kita tetap diajak untuk rendah hati seperti Daud. Bukan kita yang membangun bayit, melainkan Tuhanlah yang membangunnya. Buah-buah kehidupan rohani kita bukanlah prestasi yang membuat kita layak di hadapan Allah, melainkan tanda bahwa kita bersedia menerima anugerah-Nya dengan hati terbuka.
Anugerah mendahului usaha. Tugas kita adalah menjadi tanah yang subur bagi anugerah itu.
