| Renungan hari ini dari bacaan 1Yohanes 5:5-13; Lukas 5:12-16. “Yesus mengulurkan tangan-Nya, menyentuh orang itu, dan berkata, “Aku mau, jadilah tahir.” Seketika itu juga penyakit kulit itu meninggalkan dia” (Luk. 5:13). |
Dalam tradisi orang Yahudi jika seseorang memiliki penyakit kulit yang menular atau menajiskan, ia tidak boleh berada dalam persekutuan umat Allah sampai dinyatakan tahir. Ia harus berteriak-teriak, “najis, najis!” agar tidak ada orang yang mendekat. Namun, apa yang dilakukan oleh si penderita penyakit kulit yang menajiskan dalam bacaan Injil hari ini ketika ia melihat Yesus?
Berita tentang kuasa menyembuhkan Yesus sudah ia dengar, karena tersiar di kalangan orang Yahudi. Orang ini percaya bahwa hanya Yesus seorang yang berkuasa untuk mentahirkan dirinya.
Ia memberanikan diri masuk kota untuk bertemu dengan Yesus. Dengan nekatnya ia menghampiri Yesus, bersujud, dan memohon kepada-Nya, “Tuan, jika Tuan mau, Tuan dapat mentahirkan aku.” (Luk. 5:12).
Tampak sekali bagaimana sikap dan permohonnya yang sangat menaruh pengharapan pada Yesus. Tetapi, ia tidak sama sekali memaksa. Ia menyerahkan sepenuhnya kepada kehendak Yesus.
Kenekatannya membuahkan hasil. Tanpa banyak bertanya, Yesus mengulurkan tangan-Nya, menyentuh dia, dan berkata, “Aku mau, jadilah tahir.” Seketika itu juga penyakit kulit itu meninggalkan dia (ay. 13).” Sentuhan tidak membuat Yesus menjadi Najis, sebaliknya sentuhan-Nya merupakan wujud pembebasannya. Orang itu dipulihkan baik secara fisik, sosial, psikis, maupun rohani.
Yesus melarang orang itu memberitahukan hal itu kepada siapa pun juga. Ia hanya memerintahkan orang itu: “Pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam, dan persembahkanlah untuk pentahiranmu persembahan seperti yang diperintahkan Musa, sebagai bukti bagi mereka (ay. 14).” Lengkaplah sudah pemulihan yang Yesus kerjakan dalam dirinya.
Yesus melakukan karya penyembuhan itu bukan untuk menjadi populer. Ia tidak butuh popularitas dan memang bukan itu tujuan pelayanan-Nya. Itulah sebabnya Yesus mengundurkan diri ke tempat-tempat yang terpencil dan berdoa (ay. 16), ketika orang banyak berbondong-bondong datang mencari Dia (ay. 15).
Bagaimana dengan kita? Apakah kita melayani Tuhan karena terdorong oleh belaskasihan kepada sesama atau karena kita ingin dikenal orang, ingin populer sebagai orang baik atau orang yang berkarunia? Mari kita berefleksi kembali di tahun yang baru ini, supaya pelayanan kita sungguh berkenan dihadapan-Nya. Tuhan Yesus Memberkati.
