| Renungan hari ini dari bacaan Markus 6:33-44, 1 Yohanes 3:22.4:6. “Namun, jawab-Nya, “Kamu harus memberi mereka makan!” (Mrk. 6:37) |
Kebutuhan akan makanan mencakup aspek jasmani (tubuh) dan rohani (jiwa). Makanan jasmani adalah anugerah Tuhan untuk hidup sehat dan berkelanjutan, sementara makanan rohani (Firman Tuhan dan Ekaristi) adalah kebutuhan utama untuk hidup kekal.
Dalam Injil hari ini dikisahkan bahwa Murid-murid melihat kerumunan orang yang lelah, seperti domba tanpa gembala. Dari sebab itu, tergerak oleh belas kasihan Yesus menunjukkan empati mendalam terhadap kebutuhan fisik dan spiritual mereka. Dari lima roti dan dua ikan, Ia memberi makan lima ribu orang, bahkan tersisa 12 bakul. Apakah arti pemberian makan kepada 5000 orang ini? Ini adalah pemberian yang berlimpah yang merupakan tanda Kerajaan Allah, di mana kelimpahan ilahi mengatasi kekurangan duniawi.
Ketika Yesus meminta murid-murid-Nya memberi mereka makan, Ia mau melibatkan mereka dalam pelayanan. Kita pun dipanggil untuk menjadi saluran kasih dan pemeliharaan Allah bagi sesama, Yang sering kurang disadari ialah bahwa pemberian makanan ini adalah cerminan akan Yesus, sebagai Roti Hidup, yang memberi makan orang percaya. Kita, sebagai pengikut-Nya, diundang untuk menjadi roti bagi orang lain melalui tindakan kasih, persis seperti Yesus.
Renungan ini mengajak kita untuk peka terhadap kebutuhan orang di sekitar (seperti kerumunan yang lapar), dan menggunakan karunia kita (seperti “roti” kita) untuk melayani, dan membuktikan iman kita melalui kasih yang tulus, bukan hanya kata-kata. Hal ini sesuai dengan apa yang dikatakan Rasul Yohanes dalam bacaan kedua: seseorang memperoleh perkenanan Allah melalui hidup dalam ketaatan dan melakukan kehendak-Nya, yang mencakup kasih kepada sesama (1 Yoh. 3:23). Sebab, kesatuan dengan Kristus akan menghasilkan ketaatan. Tak dapat dipungkiri bahwa ketaan adalah buah dari hubungan yang intim dengan Allah.
Dalam Injil hari ini Yesus memberikan teladan iman dalam wujud belas kasih dengan memberi makan, sementara 1Yohanes 3:22 menunjukkan pedoman agar kita hidup selaras dengan kasih itu. Keduanya mengajarkan bahwa iman sejati bukan hanya soal kata-kata, tapi terwujud dalam tindakan belas kasihan dan kepedulian nyata terhadap sesama, seperti yang diajarkan dan dicontohkan Yesus.
Permasalahannya, bagaimana kita bisa mengalami kasih Tuhan dalam hidup sehari-hari? Bagaimana ketaatan kita pada perintah Tuhan mempengaruhi hubungan kita dengan-Nya? Ketaatan pada perintah Tuhan membuat doa kita didengar. Ketika kita taat, kita menunjukkan kepercayaan kita pada Tuhan.
Apakah aku sudah menunjukkan kasih seperti Yesus? Apakah aku taat pada perintah Tuhan? Bagaimana aku bisa menjadi saksi kasih Kristus?
Kita bisa meneladani belas kasih Yesus ketika memberi makan 5.000 orang. Kita dapat menunjukkan kasih dengan membantu tetangga, keluarga, atau teman yang membutuhkan, membantu korban bencana alam baik dengan materi ataupun mendoakan mereka secara khusus. Kita harus taat pada perintah Tuhan dengan cara berdoa setiap hari dan hidup sesuai ajaran Tuhan. Menjadi saksi kasih Kristus dengan setia pada kebenaran, tidak korupsi uang dan waktu, mau berbagi sukacita dan harapan dengan orang lain, tidak menjatuhkan orang lain, dan tidak mengambil hak orang lain.
Kita bisa memulai dengan hal-hal kecil, seperti membantu tetangga, berdoa untuk orang lain, atau berbagi makanan dengan mereka yang membutuhkan. Dengan melakukan ini, kita menunjukkan kasih Kristus dalam hidup kita. Dengan melakukan ini, kita menunjukkan kasih Kristus dalam hidup kita.
Semoga kasih Kristus mengubah hidup kita. Mari kita hidup dalam kasih dan taat pada perintah-Nya. Amin.
– *Santo Francis de Sales*: “Kita tidak bisa melakukan hal-hal besar, tapi kita bisa melakukan hal-hal kecil dengan kasih besar.”

satu Respon
Kita diajak untuk peka terhadap kebutuhan orang di sekitar (seperti kerumunan yang lapar, bencana alam dll), dan menggunakan karunia2 kita untuk melayani, dan membuktikan iman kita melalui kasih yang tulus, bukan hanya kata-kata.
Terimakasih sis Lucia W.