Renungan dari bacaan : Kis 5 : 27b-32.40b-41 dan Yoh 21 : 1 – 19 Petrus dan rasul-rasul itu menjawab, “Kita harus lebih taat kepada Allah daripada kepada manusia” (Kis. 5:29). |
Bacaan pertama hari ini mengisahkan tentang keberanian dan kegigihan para rasul. Mereka berani bersaksi tentang Yesus sekalipun harus mengalami penyiksaan dan penganiayaan oleh orang Yahudi. Bahkan mereka semakin berani bersaksi di hadapan Imam Agung Mahkamah Agama Yahudi. Hal ini membuat orang-orang Yahudi sangat marah dan akhirnya mereka memukuli para rasul dan melarang mereka bersaksi.
Ayat ini memperlihatkan Para Rasul yang mengalami penganiayaan karena berani menyatakan kebenaran. Mereka tetap tegar dan menerima hukuman rajam tersebut dengan sukarela. Sebab, mereka taat dan setia pada kehendak Allah sebagaimana ditegaskan dalam Kis. 5:29: “Kita harus lebih taat kepada Allah dari pada kepada manusia”.
Saat merenungkan ayat ini, Tuhan mengingatkan saya akan pengalaman mengajar mahasiswa di kelas. Saya pernah mengalami hal yang sama di kampus tempat saya mengajar. Salah seorang mahasiswi mempertanyakan kepada saya mengapa nilainya lebih rendah dari teman-temannya yang lain. Padahal saya memberi nilai demikian karena memang dia sendiri sering absen dan tidak hadir dalam perkuliahan. Mahasiswi tadi malah marah-marah dan mengadukan saya kepada Kaprodi saya dan menuntut supaya saya dipecat dan tidak diberikan jam mengajar lagi di semester berikutnya. Saya pun segera menemui Kaprodi dan menjelaskan duduk perkara yang sebenarnya. Puji Tuhan, akhirnya permasalahan ini bisa diselesaikan dengan baik dan saya tetap dipercaya mengajar di semester berikutnya.
Saya harus tetap percaya kepada Tuhan apa pun kendala, masalah, tantangan, gangguan, dan hambatan yang terjadi dalam tugas dan tanggung jawab saya sebagai dosen. Saya harus memiliki integritas yang kokoh dan tidak mudah terpengaruh hal-hal buruk di lingkungan tempat saya bekerja dan mengabdi. Saya harus percaya percaya bahwa Tuhan senantiasa menuntun dan memimpin saya dalam pekerjaan dan pengabdian sebagai dosen.
Lewat peristiwa ini saya belajar bahwa saya harus berani menyatakan kebenaran di mana pun saya berada. Hal ini berlaku juga dalam pekerjaan dan pengabdian saya sebagai dosen. Saya harus berani menyatakan kebenaran kepada setiap mahasiswa yang saya ajar ketika mahasiswa yang bersangkutan melakukan kesalahan. Bahkan sekalipun dengan risiko jam mengajar saya hilang atau dikurangi jika mahasiswa yang bersangkutan punya bekingan orang dalam atau oknum pejabat/petinggi di kampus tempat saya mengajar. Memang tidak mudah untuk bisa melakukan ini, tetapi saya tidak akan menyerah dan tetap berusaha melakukannya. Saya percaya Tuhan pasti memandang saya sekalipun dunia menolak dan tidak memandang saya.
Lewat pengalaman ini saya sadar bahwa saya perlu meneladani keberanian Stefanus. Sekalipun banyak tantangan dan ujian yang menghadang, saya tidak boleh putus asa, kecewa, dan marah, apalagi dendam kepada mereka yang berusaha menyingkirkan saya. Saya harus tetap berdoa dan berserah pada Tuhan. Karena Tuhan pasti berikan yang lebih baik untuk saya, lebih dari yang hilang.
Pesan Tuhan hari ini sungguh menguatkan dan meneguhkan kita semua untuk tidak putus asa ketika kita kehilangan segalanya dalam hidup kita karena berani menyatakan kebenaran. Tetap lakukan yang terbaik sesuai kapasitas kita dan selebihnya kita serahkan semua masalah dan pergumulan hidup kita ke dalam Tangan Tuhan. Maka kita akan melihat pertolongan Tuhan yang luar biasa bekerjadalam hidup kita. Hal ini dinyatakan oleh Tuhan Yesus dalam Injil hari ini. “Maka kata Yesus kepada mereka: “Tebarkanlah jalamu di sebelah kanan perahu, maka akan kamu peroleh.” Lalu mereka menebarkannya dan mereka tidak dapat menariknya lagi karena banyaknya ikan” (Yoh 21:6).
Mari kita sama-sama berusaha untuk meneladani para rasul agar kita boleh mengalami Kasih Tuhan yang sungguh nyata dan memampukan kita berani membela kebenaran dan keadilan bagi sesama, terutama mereka yang tertindas. Dan kita pun boleh mengalami kehadiran Tuhan secara nyata dalam hidup kita lewat semua ini. Amin.
Penulis


2 Responses
Terimakasih renungannya bro Karl. Memang kita harus berani jadi saksiNya apapun resikonya. Mewartakan kebenaran firman Tuhan, butuh iman yang kuat dan kekuatan daripada Tuhan….🙏
Inggih,matur nuwun atas komennya,Mbak. Berkah Dalem! 🙏😇