Berani Tampil Beda ( 11 Juli 2025 )

Renungan hari ini dari bacaan Kitab Kejadian 46:1-7. 28-30 dan Injil Matius 10:16-23
”Lihat, Aku mengutus kamu seperti domba ke tengah-tengah serigala, sebab itu hendaklah kamu cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati”(Matius 10:16).

Pernahkah kita merasa seolah-olah hidup ini seperti berjalan sendirian melawan arus? Ketika kita memilih untuk jujur, tidak ikut menyontek, tidak terlibat dalam gosip, tidak ikut korupsi, atau menolak ikut “main belakang,” justru di situlah kita terlihat aneh dan bahkan dianggap mengganggu, dan tidak jarang kita dianggap sebagai “orang antik” atau “manusia langka”. Begitulah sebutan yang diberikanuntuk mengejek dan mencemoohkan kita. Dunia memandang berbeda bukan sebagai kekuatan atau kelebihan yang kita miliki, melainkan sebagai kelemahan kita. Tetapi, Yesus justru memanggil kita untuk tetap berani tampil beda, hidup dalam kebenaran dan ketaatan, walaupun artinya kita akan menjadi seperti “domba di tengah-tengah serigala.” Di sinilah kita merasa seperti berjalan melawan arus, karena memilih kebenaran di tengah lingkungan yang mungkin memandang kejujuran kita justru sebagai kelemahan.

Dalam Matius 10:16, Yesus berkata, “Lihat, Aku mengutus kamu seperti domba ke tengah-tengah serigala.” Domba itu lemah dan lembut, tidak punya cakar atau taring. Bayangkan seekor domba yang lemah dan lembut, serta polos, harus berjalan di antara gerombolan serigala yang lapar. Tentu, domba itu harus sangat berhati-hati! Para serigala itu bukan hanya pemangsa, tetapi juga ahli dalam tipu daya, menyamar, atau memanfaatkan kelengahan. Mereka melambangkan kemunafikan, kebohongan, atau kejahatan yang sering kita temui di dunia ini.

Tetapi Yesus tidak membiarkan kita, tanpa perlengkapan. Ia menambahkan, “hendaklah kamu cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati.”Artinya, kita dipanggil untuk tetap menjaga hati yang bersih dan tidak membalas kejahatan dengan kejahatan, namun juga dituntut untuk bijaksana dalam bersikap, tahu kapan harus bicara, kapan harus bertindak, dan kapan sebaiknya diam.

Contoh sederhananya, di lingkungan kerja, kita mungkin sering bertemu dengan orang-orang yang pandai berkata-kata manis di depan, tetapi diam-diam menyebarkan gosip atau menjatuhkan orang lain. Jika kita tidak cerdik, kita bisa dengan mudah terjebak dalam intrik mereka, ikut-ikutan menyebarkan informasi yang salah, atau bahkan menjadi korban fitnah. Inilah situasi di mana kita perlu menjadi cerdik seperti ular: waspada, tidak mudah percaya begitu saja pada tampilan luar, dan bijak dalam memilih siapa yang bisa dipercaya atau informasi apa yang harus diterima serta disaring kebenarannya. Kecerdikan ini bukan berarti kita menjadi licik, tetapi kita menjadi pintar melindungi diri dan tidak mudah dimanfaatkan.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita ini bisa memilih untuk tidak membalas fitnah dengan fitnah, atau kejahatan dengan kejahatan, atau kebohongan dengan kebohongan, dan sebagainya. Saat kita bekerja di lingkungan yang penuh dengan intrik serta persaingan yang tidak sehat, kita bisa bersikap seperti ular yang cerdik, tidak mudah dipancing, tidak sembrono dan mawas diri. Tetapi, kita juga harus tetap menjadi seperti merpati yang tulus, tidak menyimpan dendam, tidak culas dan tidak bermain dua muka. Ini memang bukan hal yang mudah, dan Yesus tidak pernah menjanjikan bahwa hidup itu akan selalu mudah, mulus dan tenang.

Bahkan Yesus berkata, “Tetapi waspadalah terhadap semua orang; karena ada yang akan menyerahkan kamu kepada majelis agama dan mereka akan menyesah kamu di rumah ibadatnya. Dan karena Aku, kamu akan digiring ke muka penguasa-penguasa dan raja-raja sebagai suatu kesaksian bagi mereka dan bagi orang-orang yang tidak mengenal Allah”(Matius 10:17-18).

Saat kita menolak kompromi, mungkin kita akan dikucilkan atau diremehkan. Namun, Yesus menguatkan: “Roh Bapamu; Dia yang akan berkata-kata di dalam kamu.” Kita tidak akan dibiarkan sendiri. Di saat kita merasa buntu, takut, atau lelah, Tuhan sendiri yang akan menyertai dan memberi hikmat kepada kita.

Dunia sering kali mengajak kita untuk mengikuti arus, mencari yang mudah, mengorbankan nilai demi keuntungan pribadi. Tetapi, Yesus mengajak kita untuk berdiri teguh, berani tampil beda, bukan karena ingin hebat, tetapi karena ingin setia kepada-Nya.

Menjadi berbeda tidak selalu populer. Tetapi, berbeda karena Kristus adalah tanda bahwa kita berjalan dalam terang dan kebenaran. Ketika kita berjalan dalam terang dan kebenaran, kita tidak akan mudah tersesat, terpeleset atau terjatuh, sekalipun jalannya penuh dengan tantangan dan rintangan serta tampaknya berkelok-kelok, berlubang-lubang, turun dan naik, serta tidak mudah untuk dilalui.

Marilah kita menilik kembali sikap kita: apakah kita sudah berani tampil beda? Apakah kita sudah cukup cerdik menghadapi dunia, tanpa kehilangan ketulusan? Lebih dari itu, apakah kita sungguh percaya bahwa dalam setiap langkah hidup kita, Tuhan ada di pihak kita? “Sebab itu apakah yang akan kita katakan tentang semuanya itu? Jika Allah di pihak kita, siapakah yang akan melawan kita?” (Roma 8:31).

Penulis

satu Respon

  1. Terimakasih untuk renungan Pak Wiryawan. Semoga dengan pertolongan Roh Kudus kita mampu setia pada Kristus dan tidak ikut arus dunia yang mengagungkan kekuatan dan kekuasaan duniawi. 🙏🙏

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *