Renungan hari ini dari bacaan Sirakh 44:1.10-15 dan Matius 13:16-17. “Berbahagialah matamu karena melihat dan telingamu karena mendengar. Sebab, sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Banyak nabi dan orang benar ingin melihat apa yang kamu lihat, tetapi tidak melihatnya, dan ingin mendengar apa yang kamu dengar, tetapi tidak mendengarnya” (Mat. 13:16-17) |
Dua indra yang sangat berperan dalam hidup kita adalah penglihatan dan pendengaran. Mata tidak pernah kenyang melihat, dan telinga tidak pernah puas mendengar. Keinginan untuk melihat dan keinginan untuk mendengar sangat besar dalam diri manusia, dan kedua berperan besar dalam membangun rasa bahagia. Menyadari pentingnya kedua indra ini, Yesus pun memuji para murid-Nya: “Berbahagialah matamu karena melihat dan telingamu karena mendengar. Sebab, sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Banyak nabi dan orang benar ingin melihat apa yang kamu lihat, tetapi tidak melihatnya, dan ingin mendengar apa yang kamu dengar, tetapi tidak mendengarnya” (Mat. 13:16-17)
Apa yang dilihat dan didengar para murid sehingga mereka dikatakan berbahagia? Mengapa banyak nabi dan orang benar ingin melihatnya, tetapi tidak melihatnya? Dari konteksnya, kita bisa mengetahuinya. Yesus sedang mewartakan Kerajaan Allah dengan perumpamaan tentang seorang penabur (Mat. 13:1-23). Ia membedakan empat jenis tanah yang menjadi tempat ditaburnya benih: tanah di pinggir jalan, yang berbatu-batu, di tengah semak duri, dan tanah yang baik. Tidak semuanya menerima benih itu dan menghasilkan buah, melainkan hanya tanah yang baik. Kemudian Yesus juga mengutip kata-kata Yesaya yang menekankan bahwa “sekalipun melihat, mereka tidak melihat; sekali pun mendengar, mereka tidak mendengar” (Mat. 13:13) untuk menyindir orang-orang yang keras hati. Para murid termasuk tanah yang baik, yang diberi karunia istimewa sehingga mampu memahami Sabda Yesus, dan melihat Yesus sebagai kehadiran Kerajaan Allah. Banyak orang melihat dan mendengar pewartaan-Nya, tetapi tidak mampu sampai pada pemahaman akan Yesus sebagai kehadiran Kerajaan Allah. Mengapa? Karena mereka berkeras hati?
Seorang anak yang buta sejak kecil rindu sekali melihat wajah ibunya, yang dia rasakan sangat mencintai dia. Dari sapaan ibunya yang begitu lembut ia bisa membayangkan betapa cantiknya ibunda. Berkat kemurahan hati seseorang, anak ini berhasil menjalani operasi mata dan dapat melihat. Namun, ibunya khawatir anak ini akan menolak dia apabila melihat betapa buruk wajahnya. Dari sebab itu, ia selalu berusaha menutupi wajahnya. Si anak yang mencurigai tindakan ibunya bertanya, “Ibu, mengapa Ibu menutupi wajahmu. Aku ingin memangdang dan menciumnya”. Perlahan-lahan, dengan penuh rasa cemas, si ibu membuka cadarnya. Si anak terkejut memandang wajah ibunya yang penuh cacat. Kini ia mengerti mengapa ibunya selalu menutupi wajahnya. Ia pun menangis dan dengan penuh haru memeluk dan mencium ibunya. “Ibu tidak usah khawatir. Aku dapat melihat wajah cantik, dan wajah Tuhan yang penuh kasih di balik wajahmu”. Pengalaman akan kasih ibunya memungkinkan ia melihat wajah Allah yang penuh kasih.
Apa saja yang kita lihat di dunia ini sejak membuka mata di pagi hari hingga menutupnya di malam hari? Apakah kita termasuk orang yang berbahagia seperti para murid dan anak itu, yang mampu melihat Kristus dan Kerajaan-Nya dalam wajah orang-orang di sekitar kita, dalam peristiwa sehari-hari. Mungkin kita sibuk melihat HP, konten-konten yang menarik, yang sepertinya tidak ada hubungannya sama sekali dengan Yesus Kristus. Inilah tantangannya: mengasah mata hati dan mata iman, agar dalam segala hal dan segala peristiwa kita mampu melihat kehadiran Kristus dan Kerajaan-Nya. Syarat lain yang tidak boleh dilupakan tentu saja membuang segala bentuk kekerasan hati agar kita bisa lebih rendah hati dan terbuka dalam mendengar sapaan-Nya.
Penulis
