| Renungan hari ini dari bacaan Yesaya 55:10-11; Matius 6:7-15 “Jadi janganlah kamu seperti mereka, karena Bapamu mengetahui apa yang kamu perlukan, sebelum kamu minta kepada-Nya.” (Matius 6:8) |
Pernahkah Anda merasa canggung saat harus berbicara dengan seseorang yang jabatannya jauh lebih tinggi, seperti bos besar di kantor atau pejabat penting? Biasanya, kita akan sibuk menyusun kata-kata agar terlihat pintar, menggunakan bahasa yang sangat formal, dan mungkin sedikit berbasa-basi agar maksud kita tersampaikan dengan baik. Terkadang, kita membawa pola yang sama saat kita datang kepada Tuhan dalam doa. Kita merasa bahwa doa harus menggunakan bahasa yang “sangat rohani”, harus panjang lebar, atau diulang-ulang agar Tuhan mau mendengarkan kita.
Namun, dalam Matius 6:7-15, Yesus memberikan sebuah “rahasia” yang sangat melegakan. Ia mengatakan bahwa kita tidak perlu bertele-tele dalam berdoa. Tuhan bukan seperti berhala yang perlu disuap dengan rangkaian kata-kata indah atau mantra yang panjang. Yesus memperkenalkan Tuhan dengan sapaan yang sangat hangat: “Bapa”. Bayangkan seorang anak kecil yang berlari kepada ayahnya setelah pulang sekolah. Anak itu tidak butuh pidato pembukaan; ia hanya perlu bercerita dengan jujur tentang apa yang ia rasakan. Inilah inti dari pesan Yesus: doa adalah hubungan antara anak dan ayahnya, bukan sekadar kewajiban agama yang melelahkan.
Dalam kehidupan sehari-hari, sering kali kita terjebak pada jumlah “jam doa” atau berapa kali kita mengulang sebuah permohonan. Seolah-olah, jika kita berdoa selama dua jam, Tuhan akan lebih cepat menjawab daripada jika kita berdoa lima menit. Padahal, Yesus menegaskan bahwa Bapa kita sudah tahu apa yang kita perlukan sebelum kita mengucapkannya. Jika demikian, mengapa kita masih harus berdoa? Doa bukan untuk memberi informasi kepada Tuhan yang Maha Tahu, melainkan untuk menyelaraskan hati kita yang sering kali berantakan dengan hati Tuhan yang penuh damai.
Yesus kemudian mengajarkan doa “Bapa Kami” sebagai pola. Perhatikan bahwa di baris-baris awal, Yesus tidak langsung mengajar kita meminta berkat atau uang. Ia memulai dengan: “Dikuduskanlah nama-Mu, datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu.” Ini adalah contoh praktis bagi kita. Sering kali, doa kita isinya hanya daftar belanjaan: “Tuhan, beri saya mobil baru,” “Tuhan, buat saya naik jabatan,” atau “Tuhan, lancarkan urusan saya.” Tidak salah meminta, tetapi Yesus ingin kita belajar mendahulukan apa yang Tuhan mau. Misalnya, sebelum mengeluh soal kemacetan di jalan, kita berdoa, “Tuhan, jadilah kehendak-Mu hari ini, berikan aku kesabaran untuk tidak marah-marah di jalan.” Dengan begitu, doa mengubah fokus kita dari “saya” menjadi “Tuhan”.
Contoh lain yang sangat manusiawi adalah soal makanan dan kebutuhan hidup. Yesus mengajar kita meminta “makanan kami yang secukupnya”. Di dunia yang serba kompetitif ini, kita sering ingin “lebih” bukan “cukup”. Kita ingin tabungan yang meluap, stok makanan yang menumpuk untuk setahun, dan jaminan keamanan yang berlebihan. Namun, meminta yang “secukupnya” mengajarkan kita untuk percaya setiap hari kepada Tuhan. Ini seperti seorang karyawan yang belajar bersyukur atas gaji yang ada, sambil percaya bahwa Tuhan akan mencukupkan kebutuhan mendesak yang datang tiba-tiba. Hidup menjadi lebih tenang saat kita tidak lagi terobsesi menimbun rasa aman dalam bentuk materi.
Bagian yang mungkin paling menantang dari perikop ini adalah soal pengampunan. Yesus berkata bahwa kita harus meminta ampun kepada Tuhan sama seperti kita juga mengampuni orang lain. Ini adalah alarm bagi hati kita. Bayangkan Anda sedang berdoa dengan khusyuk, tetapi di saat yang sama, Anda masih menyimpan dendam kesumat kepada rekan kerja yang mengkhianati Anda atau kerabat yang meminjam uang tapi tidak pernah kembali. Yesus mengingatkan bahwa hubungan kita dengan Tuhan (atas-bawah) sangat berkaitan dengan hubungan kita dengan sesama (kiri-kanan). Kita tidak bisa menerima damai dari Tuhan jika hati kita sendiri penuh dengan racun kebencian. Mengampuni memang sulit, tetapi itu adalah kunci agar doa kita tidak terhalang.
Menutup renungan ini, mari kita sadari bahwa doa bukan cara untuk mengatur Tuhan agar menuruti kemauan kita, melainkan cara agar kita diatur untuk mengikuti kemauan Tuhan. Jangan lagi merasa terbebani untuk merangkai kata-kata yang hebat. Bicaralah kepada Tuhan dengan jujur tentang kegagalan Anda, ketakutan Anda, dan rasa syukur Anda hari ini. Tuhan lebih tertarik pada ketulusan hati Anda daripada kefasihan lidah Anda. Melangkahlah hari ini dengan keyakinan bahwa Anda punya Bapa yang sangat baik, yang mendengarkan setiap bisikan hati Anda, bahkan sebelum kata-kata itu keluar dari bibir Anda.
“Doa bukan tentang seberapa panjang kata-katanya, tapi seberapa tulus hatinya. Bapa di surga bukan mencari mantra, melainkan mencari hubungan. Jangan lupa: hubungan kita dengan Tuhan akan tercermin dari cara kita mengampuni sesama.”
