Berjaga-jaga dengan Saling Menguatkan ( 2 September 2025 )

Renungan hari ini dari bacaan 1Tesalonika 5:1-6. 9-11; Lukas 4:31-37   “Karena itu kuatkanlah seorang akan yang lain dan saling membangunlah kamu, seperti yang memang kamu lakukan (1Tes. 5:11).

Rumah ibadat adalah bangunan yang dikhususkan oleh pemeluk agama tertentu untuk melaksanakan kegiatan keagamaan, seperti beribadah, bersembahyang, juga kegiatan sosial dan pendidikan keagamaan. Mengingat fungsinya yang demikian, tentunya rumah ibadat diharapkan menjadi tempat yang bersih dari aktifitas atau gangguan roh jahat. Namun, ternyata Injil Lukas kali ini, mengisahkan hal yang mengejutkan. 

Di Kota Kapernaum yang terletak di Galilea, terdapat rumah ibadat orang Yahudi. Yesus biasa mengajar di sana pada hari-hari Sabat. Mereka yang mendengar pengajaran-Nya merasa takjub, sebab perkataan-Nya penuh kuasa (Luk. 4:31-32). Yesus mewartakan Injil Kerajaan Allah, berarti salah satu tujuan utama-Nya adalah membinasakan segala pekerjaan Iblis (1Yoh. 3:8). Hal ini dipahami benar oleh si jahat. Suatu ketika, roh jahat yang najis merasuki seseorang di dalam rumah ibadat itu, lalu berteriak dengan suara keras, “Hai Engkau, Yesus orang Nazaret, apa urusan-Mu dengan kami?  Apakah Engkau datang untuk membinasakan kami?” (Luk. 4:34a). Jadi, setan merasuki seseorang di rumah ibadat, lalu berkonfrontasi dengan Yesus!

Biasanya, Yesus tidak memperbolehkan setan-setan berbicara, sebab mereka mengenal Dia (Mrk. 1:34). Yesus merasa belum saatnya untuk mengungkap jati diri-Nya. Yesus ingin agar orang-orang terlebih dulu memusatkan perhatian kepada karya pelayanan dan pewartaan-Nya. Sengaja menggagalkan rencana itu, roh najis berkata, “Aku tahu siapa Engkau: Yang Kudus dari Allah” (Luk. 4:34b). Memang dia mengungkap kebenaran jati-diri Yesus. Namun, segala sesuatu ada waktunya. Suatu kebenaran sekalipun, jika diungkap pada saat yang tidak tepat, akan berpotensi menimbulkan polemik dan menghambat pewartaan Injil. Itulah sebabnya Yesus membentaknya, “Diam! Keluarlah dari dia!” Kemudian setan menghempaskan orang yang dirasukinya itu ke tengah-tengah orang banyak, lalu keluar dan tidak menyakitinya (bdk. Luk. 4:35). Semua orang takjub, lalu berkata seorang kepada yang lain, “Alangkah hebatnya perkataan ini!  Dengan penuh wibawa dan kuasa, Ia memberi perintah kepada roh-roh jahat dan mereka pun keluar.” (Luk. 5:36). Lalu tersebarlah berita tentang Yesus, ke mana-mana.

Sekarang pun, Gereja tidak luput dari penyisipan kekuatan si jahat, yang bermaksud untuk menggagalkan segala upaya karya kasih Allah melalui Gereja-Nya. Roh najis merasuki pikiran orang beriman, sehingga timbul rasa iri, curiga, kesombongan, pertengkaran, dan perpecahan. Mereka yang lengah, menjadi sasaran empuk si jahat, untuk dirasuki.  Gereja digerogoti dan dilemahkan dari dalam. Seringkali orang akan kuat dalam menghadapi kemalangan, tetapi lengah terhadap efek samping dari pujian, jabatan, kekuasaan dan limpahan materi. Terkadang orang segera melupakan hasil kerja keras dan kebaikan seseorang, hanya karena suatu kesalahan yang dilakukannya, atau bahkan fitnah yang ditujukan padanya. Maka rasul Paulus mengingatkan bahwa sebagai anak-anak terang, sudah selayaknya orang beriman senantiasa berjaga-jaga, saling menguatkan dan saling membangun (bdk. 1Tes. 5:11). Karena hari Tuhan, saat penghakiman itu datang seperti pencuri pada waktu malam dan tidak ada yang tahu kapan waktunya.

Penulis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *