Bertahan Sampai Akhir ( 26 Desember 2025 )

Renungan hari ini dari bacaan : Kisah Para Rasul 6 :8-10 ; 7: 54-59; Matius 10:17-22.”Kamu akan dibenci semua orang oleh karena nama-Ku; namun, orang yang bertahan sampai pada kesudahannya akan diselamatkan” (Mat. 10:22).

Ketika Yesus mengutus keduabelas murid-Nya untuk memberitakan kabar sukacita-Nya, Dia memberitahukan apa yang akan mereka alami dalam pelayannya. Akan banyak tantangan, penolakan, bahkan juga penganiayaan, seperti yang dialami oleh Stefanus dalam bacaan pertama hari ini. Stefanus diseret dan dilempari sampai mati.

 Yesus mengingatkan, “Tetapi waspadalah terhadap semua orang, karena ada yang akan menyerahkan kamu kepada majelis agama dan mereka akan mencambuk kamu di rumah ibadatnya. Karena Aku, kamu akan digiring ke hadapan penguasa-penguasa dan raja-raja sebagai kesaksian bagi mereka dan bagi orang-orang yang tidak mengenal Allah” (Mat. 10 :17-18).

Bagaimana hati para murid mendengar apa yang akan mereka hadapi ? Pasti mereka  merasa takut dan kuatir.

Yesus mengingatkan tetapi juga menyertai mereka: “Apabila mereka menyerahkan kamu, janganlah khawatir tentang bagaimana dan apa yang harus kamu katakan, karena semuanya itu akan dikaruniakan kepadamu pada saat itu juga” (ay. 19).

Ia tidak meninggalkan para murid-Nya sendirian, “Sebab, bukan kamu yang berkata-kata, melainkan Roh Bapamu; Dia yang akan berkata-kata di dalam kamu” (ay. 20). Itulah yang terjadi pada Stefanus. Ia dipenuhi Roh Kudus, sehingga mampu bertahan hingga akhir hidupnya.

Apa yang dialami para murid Yesus, ketika diutus pada zaman itu, jauh lebih sulit dan menderita dibandingkan dengan pengalaman para pelayan Tuhan saat ini.

Beberapa tahun yang lalu, saya melayani dalam dewan keuangan paroki (DKP) sebagai bendahara. Saya sempat mendengar banyak omongan yang membuat hati kesal, ada yang bilang bendahara pelit, tidak bisa kompromi urusan RAB kepanitiaan dan banyak hal lain yang mereka lontarkan. Padahal setiap anggaran yang diajukan pasti diputuskan oleh rapat dewan keuangan bukan oleh saya sendiri. Dalam rapat saya sampaikan kepada Pastur Paroki bahwa melayani Tuhan ternyata upahnya hanya celaan dan tuduhan.

Pastur itu menjawab, “Kalau melayani Tuhan tidak memikul salib, itu bukan pelayanan”. Nah, kata-kata pastur itu sungguh mengena di hati saya.  Berkat  pertolongan Roh Kudus, saya dimampukan untuk terus bertahan melayani Tuhan.

Ketika saya merefleksikan bacaan injil hari ini, apa yang saya alami belum seberapa dibandingkan dengan apa yang dihadapi dan dialami para murid Yesus.

Perkataan Tuhan sangat jelas bagi para utusan-Nya: “Kamu akan dibenci semua orang oleh karena nama-Ku. Namun, orang yang bertahan sampai pada kesudahannya akan diselamatkan” (Mat. 10: 22).

Tuhan tidak akan membiarkan utusan-Nya mengadapi tantangan sendirian. Ia selalu mengaruniakan Roh Kudus-Nya untuk menolong dan berkarya bagi para utusan-Nya.

Ya Roh Kudus  berkuasalah dalam diri kami agar dapat setia melayani Tuhan sampai akhir hidup ini, Amin. Tuhan Yesus Memberkati.

Penulis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *