Renungan hari ini dari bacaan Kitab Ulangan 30:10-14 dan Injil Lukas 10:25-37. “Guru, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?” (Luk.10:25). |
Perikop injil hari ini, Luk.10:25-37, merupakan perikop yang terkenal. Ada kelompok atau bahkan organisasi yang menggunakan nama Samaria. Kata yang tadinya merupakan sesuatu yang dijauhi menjadi suatu kata yang ditulis dengan bangga. Di kota Batam bahkan ada sekelompok orang muda menamai dirinya sebagai The Samaritans.
Kalau dibaca lagi, memang perikop ini menggambarkan kemanusiaan kita. Seorang ahli Taurat mencobai Yesus. Seorang ahli Taurat bukanlah orang sebarangan. Pertanyaan yang diajukannya pun bukan pertanyaan sepele melainkan pertanyaan orang berkelas, terdidik, dan memang belum ada jawabannya: “Guru, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?” (Luk.10:25). Pertanyaan ini juga ditanyakan dalam budaya yang lebih tua di tempat lain, misalnya di kebudayaan Tiongkok, Mesir, Sumeria, Mesopotamia. Pada zaman Yesus, para ahli Taurat mengetahui bahwa yang punya hidup kekal hanyalah Allah (Dan. 4:34, 12:7). Apakah pertanyaan ini juga pertanyaan yang kita ajukan di zaman ini? Bila melihat pasar obat, kita juga tahu ada obat panjang umur yang dijual. Ketika merayakan ulang tahun, memujikan dan mendoakan orang orang yang berulang tahun agar panjang umur merupakan bagian dari dari ucapan itu.
Setelah membaca kelanjutan kisah dalam injil, ketahuanlah bahwa pertanyaan ini merupakan pertanyaan pancingan, pertanyaan untuk mencobai Yesus. Namun, pertanyaan ini tetap relevan bagi kita di zaman ini: Bagaimanakah cara memperoleh hidup kekal?
Ahli Taurat itu ternyata sudah mengetahui jawabannya. Sebab, sudah tertulis dalam Imamat 19:18 dan Ulangan 6:5: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu, dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” (Luk.10:27). Ia bertanya hanya untuk menjebak Yesus, untuk mencobai Dia. Jawabannya menuntut pemahaman yang baik tentang Perjanjian Lama dan ternyata Yesus pun tidak kalah pandai dari dia. Yesus membenarkan jawabannya: “Jawabanmu itu benar. Perbuatlah demikian, maka engkau akan hidup” (Luk. 10:28). Ia menegaskan bahwa ahli Taurat itu memiliki pengetahuan yang tepat, tetapi pengetahuan saja tidaklah cuku. Ia harus juga melaksanakan apa yang ia ketahui itu: mengasihi Tuhan dan sesama.
Ahli Taurat yang mungkin kecewa karena tidak berhasil menjebak Yesus, ingin membenarkan diri dan mengajukan pertanyaan lanjutan: “Siapakah sesamaku manusia?” (Luk.10:29). Pertanyaan ini pun merupakan pertanyaan abadi, pertanyaan yang relevan bagi kita di zaman ini, apalagi di zaman Indonesia yang sedang tidak baik-baik saja ini.
Dalam rangka menjawab pertanyaan inilah kisah terkenal tentang orang Samaria itu diceritakan oleh Yesus. Kita semua tahu rendahnya posisi orang Samaria di mata orang-orang Israel di zaman Yesus. Dalam istilah kita zaman ini, mereka adalah warga kelas dua, tidak dipandang, dan tidak dianggap. Kisahnya ini merupakan kritik sosial Yesus terhadap imam, orang Lewi, dan ahli Taurat di zaman itu. Yesus tidak hanya mengkritik melainkan juga menunjukkan bagaimana belas kasih harus diungkapkan secara kongkrit.
Tergerak oleh belas kasihan (Luk.10:33), orang Samaria itu pergi kepada orang yang setengah mati karena dirampok. Ia membalut luka-lukanya, menyiraminya dengan minyak dan anggur, menaikkan ke keledai tunggangannya (berarti orang Samaria itu yang berjalan), membawa ke tempat penginapan, dan merawatnya (Luk.10:34). Orang Samaria itu menuntaskan aksi kasihnya itu dengan menyerahkan dua dinar, dan memberi pesan untuk merawat serta berjanji mengganti biayanya (Luk. 10:35).
Kisah kasih seperti yang ditunjukkan orang Samaria ini tetaplah menjadi cerita yang jarang terjadi di zaman ini. Kisah seperti ini tetaplah menjadi undangan dan panggilan bagi kita yang menjadi pengikut Kristus. Apakah kita berani setotal itu dalam mengasihi sesama untuk memperoleh hidup kekal? Apakah kita berani melaksanakan firman yang sudah ada di mulut kita masing-masing dan di dalam hati kita masing-masing (Ul.30:14)?
Allah, berilah aku kekuatan untuk melaksanakan firman-Mu yang ada di dalam mulut dan hatiku dalam bentuk kasih sehabis-habisnya kepada sesamaku tanpa syarat apa pun juga. Amin.
Penulis

