Engkaulah Mesias – Engkaulah Petrus (29 Juni 2025)

Renungan hari ini dari bacaan Kis. 12:1-11 dan Matius 16 : 13 – 19. “Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!” (Mat. 16:16)

Pertanyaan “siapakah Aku” merupakan pertanyaan mendasar bagi semua orang, bahkan Yesus pun menanyakan pertanyaan serupa kepada para murid-Nya. Namun, pertanyaan yang dilotarkan Yesus dan pertanyaan yang kita lontarkan tentu tidak memiliki makna yang sama, meskipun kata-katanya sama. Yesus bertanya bukan karena Ia tidak tahu siapa diri-Nya, melainkan karena Ia ingin mengetahui bagaimana pandangan mereka tentang diri-Nya dan sejauh mana mereka telah mengenal Dia.

Pertama-tama Ia menanyakan kepada murid-murid-Nya pendapat umum tentang diri-Nya: “Kata orang, siapakah Anak Manusia itu?”Jawabannya beragam: ada yang mengatakan Yohanes Pembaptis, Elia, dan salah seorang dari para nabi. Dewasan ini pandangan umum tentang Yesus seperti itu adalah  pandangan doktriner, pandangan yang diajarkan oleh Gereja dan bukan pandangan pribadi yang dibangun  berdasarkan pengalaman dan relasi pribadi dengan Dia. Pendapat umum itu hanyalah “kata orang”, tergantung dari penangkapan beragam orang dan bagaimana seseorang membangun “personal brandingnya”.  Di era digital dewasa ini, pandangan umum itu tergantung dari “personal brandingnya” seseorang yang dibangun melalui postingannya di youtube, tik tok, instagram, atau melalui jumlah followers atau prestasinya.  Dalam kaitannya dengan iman kepada Yesus, pandangan umum tidak terlalu mempengaruhi hidup seseorang. Dari sebab itu, Yesus mengalihkan pertanyaan kepada para murid: “Menurut kamu, siapakah Aku ini?”

Mewakili para murid Simon menjawab, “Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!” Jawabannya dibuat berdasarkan pengalaman pribadinya bersama Yesus, relasinya dengan Yesus selama Yesus melakukan pelayanan di Galilea dan berdasarkan pemahamannya tentang Mesias yang diwarisi dari tradisi nenek moyangnya. Inilah ungkapan imannya dan pegenalan pribadinya akan Yesus.

Simon memberi nama Mesias kepada Yesus, dan sebagai balasannya, Yesus memberi nama Petrus kepada Simon: Engkau adalah Petrus. Ia disebut bukan lagi Simon melainkan Petrus. Dengan memberi Yesus sebutan Mesias, Simon lalu mengenal dirinya melalui pemberian nama oleh Yesus, sebagai Petrus, yang berarti batu karang (Yunani petra). Demikianlah nyata bagi kita betapa pentingnya mengenal Allah, memberi Dia nama berdasarkan relasi pribadi yang intim dan pengalaman akan Dia. Sebab, melalui pengenalan itu, kita akhirnya mengenal siapa diri kita. Dengan mengenal Yesus sebagai Mesias, Simon lalu  mengenal dirinya sebagai Petrus. Selanjutnya, ia pun mengetahui apa yang Tuhan kehendaki dari Dia, apa rencara besar Allah terhadap dia: menjadi dasar Gereja: “Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya” (Mat. 16:18). 

Relasi pribadi dan pengenalan akan Allah jauh lebih penting dari pengetahuan doktrin atau pengetahuan agama. Yang paling mempengaruhi arah hidup kita bukanlah pengetahuan doktriner melainkan pengalaman pribadi akan Allah hingga kita mampu memberi nama kepada Dia. Pengenalan inilah yang mengubah dan mengarahkan hidup seseorang. Namun, tidak berarti pengetahuan doktrin atau pengetahuan objektif tidak perlu. Pengetahuan doktriner dibutuhkan untuk mengendalikan agar pengetahuan subjektif kita tidak sesat.

Di era Google atau masa digital dewasa ini kita mudah mengenal Yesus melalui media sosial, tetapi bukan secara pribadi. Gelar-gelar yang diberikan kepada Yesus banyak dan beragamnya, bahkan beberapa di antaranya bertentangan. Tidak jarang gelar-gelar itu  bukannya membangun iman seseorang melainkan dijadikan bahan perdebatan yang mendatangkan bukan kedamaian hati melainkan permusuhan. Sesungguhnya bukan pengenalan seperti itu yang paling penting, melainkan pengenalan melalui relasi pribadi, pengalaman iman yang mendalam. Pengalaman seperti inilah yang membentuk seseorang, membuat ia mengenal dirinya, dan mengetahui apa yang harus ia lakukan sesuai dengan kehendak Allah.

Simon telah mengenal Yesus sebagai Mesias dan dia lalu mengenal dirinya sebagai Petrus dan mengetahui panggilan pribadinya sebagai orang yang dipilih untuk menjadi dasar Gereja. Sudahkah kita mengenal Yesus berdasarkan pengalaman pribadi kita ataukah kita mengenal Dia baru sebatas pengetahuan doktriner? Apakah rencana Tuhan dan yang Tuhan kehendaki dari kita berdasarkan pengalaman pribadi itu?

Penulis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *