Gila Hormat dan Kerendahan Hati ( 23 Agustus 2025 )

Renungan hari ini dari bacaan Rut 2: 1 – 3 ; 8 – 11; 4: 13 – 17 dan Matius 23 : 1 – 12
“Siapa saja yang meninggikan diri, ia akan direndahkan dan siapa saja yang merendahkan diri, ia akan ditinggikan” (Mat. 23:12).

Pada zaman para hakim terjadilah kelaparan di tanah Israel. Ada seorang bernama Elimelekh dan istrinya Naomi pergi dan menetap di Moab sebagai pendatang bersama kedua anaknya Yaitu Mahlon dan Kilyon yang datang dari Bethlehem di Yehuda. Di sinilah awal mula penderitaan Naomi. Dia kehilangan suaminya yang meninggal  sehingga ia tinggal hanya dengan kedua anaknya. Kedua anaknya kemudian menikah masing-masing dengan Orpa dan Rut. Tetapi, setelah sepuluh tahun Mahlon dan Kilyon meninggal. Naomi kembali harus merasakan getirnya kehilangan orang yang dicintainya.  Kematian Mahlon dan Kilyon membuat Naomi dan kedua menantunya memutuskan untuk kembali ke Moab. Ia dituntun oleh Roh Kudus dan mengalami belaskasih Tuhan yang selalu memerhatikan umat-Nya.  Ia dipertemukan dengan Boas, seorang yang kaya raya dan murah hati. Boas bisa merasakan betapa besarnya penderitaan Naomi. Ia lalu memberikan pekerjaan kepada Rut, menantunya, yang tetap setia bersamanya di ladang milik Boas. Akhirnya Boas menjadikan Rut sebagai istrinya (Rut 4: 13 ) dan mempunyai anak bernama Obed yang kelak menjadi kakek Daud.

Apa yang dapat kita pelajari dari kisah di atas? Penderitaan Naomi sangat berat. Ia harus kehilangan suami dan kedua anaknya sampai Ia mengatakan, “Tuhan memulangkan aku dengan tangan kosong” (ay. 21). Ia bahkan berkata bahwa Tuhan telah mendatangkan malapetaka buat Naomi. Tuhan mendengar keluh kesah Naomi dan menunjukkan jalan agar ia kembali ke Moab dan mempertemukan dia dengan Boas yang murah hati. Boas memberi Rut kesempatan untuk bekerja di ladangnya.

Tuhan mempunya rencana besar di mana akhirnya Rut diperistri oleh Boas dan keturunannya inilah yang akan melahirkan Daud. Sebagai pengikut Kristus kita pun harus percaya akan Tuhan yang selalu menyertai kita setiap saat dan Ia yang merancang rencana-Nya untuk kita. Tuhan ingin kita selamat. Dengan memikul salib dan menghadapi pergulatan hidup yang tidak mudah Tuhan menempa kita agar tetap teguh dalam Iman kepada Tuhan.  Justru melalui salib-Nya kita diselamatkan. Sebab, segala penderitaan memang harus kita lalui dengan siap menyangkal diri, memikul salib dan mengikuti Dia.  Inilah yang diinginkan oleh Allah dari kita: menjadi contoh dan teladan bagi sesama seperti Anak Manusia yang rela mati di salib untuk menyelamatkan kita semua.  

Menanggapi kesombongan dan ke-egois-an orang Farisi dan Ahli-ahliTaurat (Mat 23 : 1 – 12)  Yesus berkata kepada para murid dan orang banyak, “Ahli-ahli Taurat dan orang Farisi telah menduduki kursi Musa, sebab itu lakukan dan peliharalah segala sesuatu yang mereka ajarkan kepadamu, tetapi jangan turuti perbuatan-perbuatan mereka, karena mereka mengajarkannya tetapi tidak melakukannya” (23:1.2). Semua yang mereka lakukan hanya untuk dilihat orang.

Begitu juga yang sering terjadi di dalam komunitas kita. Banyak orang yang baru masuk haus akan pujian. Mereka melakukan kebaikan hanya untuk menyatakan dirinya yang paling terampil. Mereka lupa bahwa semua itu adalah pelayanan bagi sesama dan bukan sarana untuk menonjolkan diri. Mereka belum sepenuhnya mengenal Allah, belum menyadari bahwa yang pertama menjadi yang terakhir dan yang terakhir menjadi yang pertama. Orang yang sombong biasanya egois dan tidak mendengarkan orang lain. Ia menganggap hanya  dirinya yang paling benar. Namun, pada akhirnya ia akan menemui kekecewaan dan akhirnya menghilang.  Apakah kita termasuk orang yang demikian?

Penulis
Bible Learning Loving The Truth

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *