Habis Gelap Terbitlah Terang (30 April 2025)

Renungan dari Bacaan : Kis. 5:17-26; Yoh. 3:16-21
“Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang Tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal” (Yoh. 3:16)

            Perbincangan Yesus dengan Nikodemus dalam Injil Yohanes ini sampai pada bagian terakhir. Dalam percakapan ini, Yesus menjelaskan bahwa diri-Nya bukan hanya sebagai utusan atau perwujudan cinta Allah, tetapi Ia adalah terang yang menerangi seluruh diri manusia. Terang yang senantiasa menerangi jalan hidup manusia kepada Allah.

            Dalam Yoh. 3: 19 “Terang itu telah datang di dunia”, meskipun terang itu ditolak olah banyak orang. Nikodemus yang memulai petualangannya dari kegelapan malam akhirnya menemukan Terang yang sesungguhnya. Injil Yohanes banyak memakai kiasan ‘terang’ dan ‘gelap’. Terang dan gelap ini sebenarnya sudah ada sejak awal mula penciptaan. Kej 1:3, Allah berfirman, “Jadilah terang”, lalu terang itu jadi.

Mengapa Nikodemus datang pada waktu malam? Hal ini sering terjadi dalam diri kita manusia: hati kita lebih mengasihi kegelapan dan membenci terang. Memang tidak semua orang menolak dan menjauhi terang. Ada juga yang datang kepada terang itu. Mereka adalah orang-orang yang giat berbuat baik dan terus melakukan yang benar. Hati yang selalu terbuka sehingga dapat merasakan Kasih Allah dalam peristiwa hidup ini. Seperti Kasih antara Bapa dan Anak, bahkan seperti kasih Bapa kepada dunia, Bapa yang dengan sukarela memerikan anak-Nya bagi dunia. “Karena begitu besar Kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang Tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal” (Yoh. 3: 16).

            Dalam kisah ini, Nikodemus untuk sementara waktu hilang dalam kegelapan malam. Tetapi, ia kemudian menemukan terang iman sejati yang menuntunnya keluar dari kegelapan malam. Kita mungkin pernah hilang dan tinggal dalam kegelapan seperti Nikodemus. Namun, kegelapan tidak selamanya menjadi penghalang bagi kita untuk menemukan terang. Marilah kita jadikan kebenaran sebagai orientasi hidup dan terang sebagai pusat pewartaan.        

Penulis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *