Renungan hari ini dari bacaan Kitab Keluaran 1:8-14. 22 dan Injil Matius 10:34 – 11:1 “Aku datang bukan untuk membawa damai, melainkan pedang” (Mat. 10:34) |
Mungkin kita masih ingat lagu Sekolah Minggu yang berjudul “Mengikut Yesus Keputusanku”. Liriknya sebagai berikut: Mengikut Yesus keputusanku (3x), Kutak ingkar (2x), tetap kuikut walau sendiri (3x). Kutakingkat (2x), salib di depan, duna di b’lakang (3x), kutak ingkar (2x). Lagu ini merupakan salah satu lagu tertua yang masih tetap dinyanyikan sampai sekarang. Liriknya diambil dari kata-kata terakhir yang diucapkan seorang lelaki dari Assam, sebuah desa di Timur Laut India, tempat dia bersama keluarganya memutuskan untuk mengikut Tuhan Yesus pada pertengahan abad ke 19. Kepala suku Assam memaksanya untuk meninggalkan imannya, tetapi ia berkata, “I have decided to follow Jesus” = “Aku telah memutuskan untuk mengikut Yesus”. Walaupun kepala suku dan penduduk mengancam akan memenggal kepalanya, ia tidak gentar dan tetap berkata, “Tetap Kuikut Walau Sendiri”. Istrinya telah dibunuh karena iman dan pada akhirnya lelaki itu pun dieksekusi ketika sedang menyanyikan “The cross before me, the world behind me”. Akhirnya, iman lelaki ini membawa kepala suku dan semua penduduk desa itu bertobat dan mengikut Yesus.
Salah satu sabda Yesus yang sulit dipahami adalah bahwa Ia datang tidak membawa damai, melainkan pedang dan bahwa Ia membawa pemisahan antara anggota keluarga. Beberapa penafsir menafsirkan pedang sebagai penghakiman Allah atau kehancuran dan kekalahan lawan. Bila kita memahami pedang ini dari kacamata Perjanjian Lama, sangat mungkin pedang mengacu ke pemisahan yang dibawa Yesus, pemisahan antara orang percaya dan tidak. Yesus menyatakan bahwa kedatangan-Nya akan memisahkan orang dari keluarganya sendiri, bukan karena Ia ingin memicu konflik, tetapi karena iman kepada-Nya bisa menimbulkan perbedaan pendapat dan bahkan perlawanan dari orang-orang yang tidak percaya.
Kita juga perlu memahami bahwa damai yang dibawa oleh Yesus merupakan hasil dari misi penebusan-Nya. Dalam misi-Nya itu, Ia membawa “pedang” untuk mengalahkan maut dan iblis.
Bila kita memilih untuk mengikut Yesus, tentu ada harga yang harus dibayar, konsekwensi yang menyertai. Sebab, mengikut Yesus menuntut nilai yang harus dihidupi, pola dan standar hidup yang harus dipegang sebagi bukti pilihan hati kita. Memang mengikuti Yesus akan menuntun kita kepada kebahagiaan dan keselamatan, tetapi untuk mencapainya orang harus melewati jalan-jalan yang terjal, yang penuh dengan kesulitan bahkan penderitaan.
“Kehidupan Kristiani bukanlah apa-apa selain perjuangan abadi melawan diri sendiri. Tidak ada perkembangan jiwa menuju keindahan kesempurnaan kecuali dengan harga penderitaan.” (St. Pio dari Pietrelcina).
Orang yang beriman kepada Yesus Kristus akan menjadi terpisah dari dunia dan dari orang-orang berdosa, yang tidak percaya kepada Kristus. Ada banyak contoh kasus dimana seseorang yang beriman kepada Kristus malah dimusuhi oleh keluarga dan dibuang jauh-jauh, serta tidak diakui sebagai bagian dari keluarga itu. Bahkan di beberapa kasus, orang yang telah percaya kepada Yesus Kristus malah menjadi korban pembunuhan karena keluarga yang tidak dapat menerima keputusannya itu. Ketika seseorang memutuskan untuk hidup sesuai dengan standard kebenaran Kristus, maka ejekan dan cemoohan serta permusuhan akan muncul dari orang-orang dunia.
Namun, Yesus menasihati murid-murid-Nya untuk tidak takut. Ia meyakinkan mereka bahwa Allah memerhatikan mereka lebih dari burung pipit, yang dianggap sebagai burung yang tidak berharga. Yesus mendorong mereka untuk percaya pada Allah dan tidak takut pada orang-orang yang dapat membunuh tubuh, tetapi tidak dapat membunuh jiwa.
Menjadi pengikut Kristus, memiliki risiko yang perlu dihadapi. Risiko ini bisa berupa penolakan dari orang lain, tantangan dalam menjalani kehidupan sehari-hari, dan godaan untuk menyimpang dari ajaran Kristus. Untuk menghadapi godaan- godaan iman, kita harus memperdalam dan memperkuat iman kita dengan membaca Kitab Suci, mengikuti ajaran Gereja, berdoa secara teratur, dan menerima sakramen-sakramen. Pemahaman yang benar tentang ajaran Gereja yang benar terutama tentang iman, moralitas, dan etika, akan membantu pengikut Kristus untuk memahami alasan di balik ajaran tersebut dan menolak ajaran yang salah.
Dukungan dari komunitas Kristiani akan memberikan dukungan sosial dan spiritual dalam menghadapi tantangan hidup. Akhirnya sebagai Pengikut Kristus kita diharapkan untuk terus berjuang dalam iman, menjadi saksi Kristus yang tangguh dalam kehidupan sehari-hari, dan menunjukkan kasih kepada sesama. Amin. Berkah Dalem.
“Seseorang yang ingin mengasihi Allah tidak benar-benar mencintai-Nya jika orang tesebut memiliki tidak memiliki keinginan dan semangat untuk terus-menerus menderita bagi Dia.” – St. Aloysius Gonzaga
Penulis


6 Responses
Terimakasih sis Lucia, sudah mengingatkan untuk.terus berjuang dalam Iman, Menjadi saksi Kristus yang tangguh.
” 𝘐 𝘩𝘢𝘷𝘦 𝘥𝘦𝘤𝘪𝘥𝘦𝘥, 𝘵𝘰 𝘧𝘰𝘭𝘭𝘰𝘸 𝘑𝘦𝘴𝘶𝘴…!!
𝘕𝘰 𝘵𝘶𝘳𝘯𝘪𝘯𝘨 𝘣𝘢𝘤𝘬….
𝘕𝘰 𝘵𝘶𝘳𝘯𝘪𝘯𝘨 𝘣𝘢𝘤𝘬…
Trm kaksib remungannya sist Lucia. Sangat memberkati kami
I will follow Him…
I will follow Him….
Sis Lucia, Terima kasih renungannya yang sangat meneguhkan untuk tetap setia mengikut Yesus Kristus…
🙏🏻😇🥰😍😘💝🌺😇🙏🏻
Terimakasih sudah mengingatkan bahwa mengikuti Yesus , ada harga yang harus dibayar dengan segala konsekwensi yang dapat terjadi. Berkah Dalem
Terima kasih renungan yang sangat bagus dan sangat memberkati🙏🏿🙏🏿🙏🏿
Terima kasih Sis Lucia buat renungannya yang sangat meneguhkan. Berani menderita karena mengikuti Yesus sebuah harga yang harus kita bayar, namun percayalah jika kita tetap percaya dan setia padaNya, kelak kehidupan abadi bersamaNya di Surga menanti kita saat harus kembali pada-Nya. GBU always Sis Lucia 🙏🩷😇🥰💞💐