Hidup dalam Kebimbangan (13 Mei 2025)

Renungaan dari Bacaan: Kis 11 : 19 – 26 dan Yohanes 10 : 22 – 30
“Domba-domba-Ku mendengarkan suara-Ku dan Aku mengenal mereka dan mereka mengikut Aku”(Yoh. 10:27)

Yesus sedang berjalan-jalan di Bait Allah, tepatnya di Serambi Salomo. Tiba-tiba orang-orang Yahudi bertanya kepada-Nya, “Berapa lama lagi Engkau membiarkan kami dalam kebimbangan? Jikalau Engkau Mesias, katakanlah terus terang kepada kami” (Yoh. 10:24). Tentu tidak mengherankan bahwa orang Yahudi bertanya seperti itu. Mereka sudah sejak lama menantikan Mesias, dan hingga saat itu belum ada kepastian siapa Mesias itu. Memang hidup dalam kebimbangan, dalam ketidakpastian atau keraguan, sangat tidak nyaman. Di negeri kita tercinta, Indonesia ini, kita kerap juga merasa tidak nyaman, dibuat geregetan, karena tidak ada kepastian hukum. Hal yang sepertinya sudah jelas salah, malah dikatakan benar, dan sebaliknya.

Kita juga geregetan menanti kepastian apakah ijazah Pak Jokowi itu palsu atau asli? Kita pasti ingin kebimbangan itu segera diakhiri. Namun, benarkah Yesus belum menyatakan kepada mereka dengan terus terang bahwa Ia Mesias sehingga mereka masih berada dalam kebimbangan? Menurut Yesus, Ia sudah mengatakannya, tetapi mereka tidak percaya? Lho, kok bisa? “Karena kamu tidak termasuk domba-domba-Ku” (Yoh. 10:26).Ternyata untuk mengenal dan mengakui Yesus sebagai Mesias dibutuhkan relasi yang dekat dengan Dia seperti relasi gembala dan domba. Salah satu ciri khas hubungan gembala dan domba adalah saling mengenal: “Aku mengenal domba-domba-Ku dan domba-domba-Ku mengenal Aku” (Yoh. 10:14). Pengenalan ini akan membuat domba-domba itu mendengarkan suara Gembala dan mengikut Dia (Yoh. 10:16.27).

Relasi yang dekat inilah yang belum dimiliki oleh orang-orang Yahudi. Mereka belum pernah tinggal bersama Yesus. Mereka datang kepada Yesus hanya sebatas ingin tahu. Akibatnya, walaupun mereka telah melihat pekerjaan-pekerjaan yang dilakukan Yesus dalam nama Bapa-Nya, mereka tidak mampu mengenali Yesus sebagai Mesias.Banyak pekerjaan yang telah dilakukan Yesus dalam kehidupan kita. Misalnya, Ia menolong, menguatkan, dan menghibur kita ketika kita ditimpa kesusahan dan malapetaka. Namun, pertolongan-Nya mungkin tidak kita kenali karena tidak tampak secara kasat mata. Kita tidak mengenali kata-kata penghiburan-Nya, karena tidak biasa mendengarkan Dia, dan perhatian kita ke hal-hal lain.

Saya ingat suatu berita yang pernah menghebohkan tentang seorang sopir mobil HRV yang tidak memberi jalan bagi ambulans karena merasa sudah berada di jalur yang benar. Dia mendengar suara ambulas itu, tetapi tidak seperti pengendara lainnya yang memberi jalan kepada ambulan itu, ia ngotot tidak memberi jalan, karena merasa sudah benar. Ia tidak mencoba mengenali bagaimana posisi ambulans itu dan mengapa orang harus memberi jalan sebisa mungkin kepadanya. Mungkin itu pulalah yang terjadi dengan orang-orang Yahudi. Ia sudah mendengar kata-kata Yesus, tetapi mereka tidak memiliki telinga seekor domba, yang mau dituntun. Mereka tidak mau terbuka untuk mengubah cara pikir mereka, konsep mereka tentang Mesias.

Akibatnya, mereka tidak bisa mengenali Yesus sebagai Mesias.Hal serupa juga bisa terjadi pada kita. Cara pikir kita yang kaku, konsep-konsep tertentu yang sudah terpateri dalam pikiran kita, misalnya: Kalau Allah Gembalaku Ia harus seperti ini atau seperti itu. Ketika Ia hadir dalam cara lain, kita sulit memahaminya. Sebab utamanya, tentu karena kita kurang akrab dengan Dia, seperti domba dan gembala sejati. Mari kita lebih mengakrabkan diri dengan Dia dengan membiasakan diri mendengarkan kata-kata-Nya yang banyak tertulis dalam Alkitab sehingga tidak sering hidup dalam kebimbangan.

Penulis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *