Hidup di Hadapan Allah, Bukan di Pentas Sandiwara ( 4 Februari 2026 )

Renungan hari ini dari bacaan 2 Samuel 24:2,9-17; Matius 6:1-6
“Bapamu melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu” (Mat. 6:4b)

Dalam Matius 6:1–6, Yesus menyentuh satu persoalan rohani yang berbahaya: kesalehan yang dipertontonkan. Teks ini adalah bagian dari Khotbah di Bukit, di mana Yesus mengajarkan bagaimana hidup sebagai warga negara Kerajaan Surga kepada para pengikut-Nya. Yesus tidak hanya mengajarkan bahwa untuk menjadi bagian dari Kerajaan Allah orang harus memiliki perilaku yang benar, tetapi Yesus juga mengoreksi motivasi terdalam hati manusia di hadapan Allah. Perilaku anak-anak Allah haruslah selaras antara apa yang tampak dengan kebenaran batiniah.

Yesus membuka dengan peringatan keras, “Ingatlah, jangan kamu mengamalkan kesalehanmu di depan umum supaya dilihat orang, karena jika melakukan demikian, kamu tidak memperoleh upah dari Bapamu yang di surga” (Mat. 6:1). Yesus tidak sedang menentang perbuatan baik, pemberian sedekah, atau ibadah. Sebaliknya, yang Ia kritik adalah tujuan dan movasi hati di balik perbuatan itu.

Yesus lalu memberi contoh tentang sedekah. Ia berkata bahwa jika kita memberi sesuatu, tidaklah perlu mengumumkannya. Yesus menyebut pelaku seperti ini sebagai “orang munafik” (hypokritēs), sebuah istilah yang pada zaman itu merujuk pada aktor panggung. Dengan kata lain, Yesus menuduh mereka sedang bermain sandiwara, bukan kehidupan rohani yang sesungguhnya.

Kata-kata kuncinya adalah, “Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya.” Upah yang dimaksud bukanlah berkat rohani, melainkan pengakuan manusia. Tepuk tangan, pujian, reputasi, kehormatan, perhatian atau kekaguman dari orang lain, itulah ganjaran mereka. Tidak ada yang tersisa untuk Allah, karena Allah tidak menjadi audiens utama.

Sebaliknya, Yesus berkata, “Namun, jika engkau memberi sedekah, janganlah diketahui tangan kirimu apa yang diperbuat tangan kananmu” (ay. 3). Ini jelas hiperbola, tetapi maknanya dalam: bahkan diri kita sendiri tidak perlu sibuk menghitung dan mengagungkan kesalehan kita. Kebaikan yang timbul dari hati yang tulus tidak membutuhkan penonton, bahkan jika penonton itu adalah ego kita sendiri.

Yesus kemudian menegaskan karakter Allah, “Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu” (ay. 4). Di sini muncul kontras penting antara Allah yang melihat yang tersembunyi dan manusia yang hanya melihat yang tampak. Allah tidak tertipu oleh penampilan. Ia melihat niat, ketulusan, dan relasi, bukan sekadar tindakan.

Pola yang sama diulang dalam pengajaran tentang doa (ay. 5–6). Yesus kembali mengkritik orang yang “suka mengucapkan doanya dengan berdiri dalam rumah-rumah ibadat dan pada tikungan-tikungan jalan raya.” Masalahnya bukan berdiri atau berdoa di tempat umum, melainkan “supaya dilihat orang.” Doa, yang seharusnya menjadi perjumpaan intim dengan Allah, berubah menjadi sarana pamer demi eksistensi diri.

Yesus mengajarkan sebaliknya, “Masuklah ke dalam kamarmu, tutuplah pintu dan berdoalah kepada Bapamu yang ada di tempat tersembunyi” (ay. 6). Kata “kamar” (tameion) menunjuk pada ruang terdalam rumah, tempat penyimpanan, tidak publik. Di sanalah relasi dengan Allah dibentuk, di tempat yang privasi.

Di zaman ini ketika segala sesuatu mudah dipublikasikan, pelayanan di gereja, pelayanan di masyarakat. Budaya media sosial, dan tekanan untuk “terlihat baik” dapat secara halus menggeser motivasi kita. Kita bisa melayani, memberi, dan berdoa, namun perlahan kehilangan keheningan batin bersama Allah.

Atau mungkin ketika berbuat kebaikan kita tidak mempertontonkan itu, namun jauh di lubuk hati, kita berharap orang yang menerima kebaikan itu berbuat sesuatu untuk membalas jasa kepada kita. Bahkan ada orang yang tersinggung ketika orang yang dia tolong tidak melakukan apa yang dia mau, seolah dengan membantu orang lain, ia berhak mengatur hidup orang tersebut. Ini adalah penjajahan secara psikologis. Jika kita berbuat seperti ini, sebetulnya kita tidak sedang melakukan kemunafikan rohani, seolah berbuat baik, tapi sebetulnya tidak tulus ikhlas, melainkan hendak melakukan jual-beli, membeli hormat atau ketertundukan orang lain, dengan harga pemberian atau korban yang kita lakukan.

Renungan ini membawa kita untuk memeriksa, siapa pusat gravitasi hidup kita, apa motivasi kita dalam berbuat sesuatu, apa yang menggerakkan hidup kita. Allah atau manusia? Siapa audiens utama hidup kita? Yesus tidak memanggil kita menjadi sok rohani. Ia mengundang kita untuk kembali ke kesederhanaan: hidup yang mungkin tidak selalu terlihat hebat, tetapi jujur, utuh, dan berakar dalam relasi dengan Allah yang melihat yang tersembunyi. Di sanalah upah sejati itu berada, perkenanan Bapa di surga, persekutuan dengan pribadi-Nya, kehidupan yang agung dan mulia yang penuh dengan kasih Allah.

Penulis
Bible Learning Loving The Truth

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *