| Renungan hari ini dari bacaan Kisah Para Rasul 13:44-52; Yohanes 14:7-14 “Semua orang yang ditentukan untuk hidup yang kekal, menjadi percaya” (Kis. 13:48b) |
Pertanyaan tentang hidup kekal rasanya lebih akrab dalam kosa kata orang dulu-dulu. Kita menemukannya dalam kisah-kisah kuno, dalam film-film lama, dalam legenda-legenda tentang manusia yang mencari rahasia hidup abadi. Di sana selalu ada drama, ada pencarian, ada harga yang harus dibayar. Orang bertanya: bagaimana caranya hidup kekal? Di zaman ini, apakah pertanyaan itu masih tinggal dalam kosa kata kita? Atau jangan-jangan ia sudah tergeser oleh urusan lain yang lebih gaduh, lebih dekat, lebih mendesak? Orang sekarang lebih sering bicara soal harga BBM, MBG, KMP, Trump, perang, dan aneka kecemasan harian. Di kalangan kristiani pun obrolan kita sering berputar pada isu-isu hangat, tokoh-tokoh besar, dan hiruk-pikuk dunia. Tetapi, di tengah semua itu, masih adakah ruang untuk bertanya: apakah aku sungguh merindukan hidup kekal?
Bacaan hari ini dari Kisah Para Rasul dan Injil Yohanes sebenarnya menarik. Kalau dibaca menurut kronologinya, mestinya Injil Yohanes lebih dulu, baru Kisah Para Rasul. Namun, sesuai urutan liturgi hari ini, kita tetap bisa merenungkannya sebagaimana disajikan. Lukas, dalam Kisah Para Rasul, menghidupkan kembali peristiwa Paulus dan Barnabas di Antiokhia pada hari Sabat. Banyak orang datang mendengarkan pewartaan mereka. Tetapi, justru ketika kerumunan membesar, muncul emosi yang sangat manusiawi: iri hati. Dan iri hati ini bukan barang baru. Ia sudah ada sejak dulu, bahkan dalam ruang-ruang religius. Ia muncul juga ketika Yesus berada di tengah para pemimpin agama. Iri hati rupanya sangat dekat dengan hati manusia, terutama ketika orang lain menerima perhatian, kasih, atau pengaruh yang tidak kita miliki.
Dari reaksi Paulus dan Barnabas, kita bisa menangkap inti persoalannya: keselamatan Allah ternyata tidak eksklusif. Keselamatan bukan milik segelintir orang, bukan hak istimewa satu kelompok. Para nabi sudah lama mengatakan itu. Allah membuka keselamatan-Nya bagi semua bangsa. Hidup kekal bukan monopoli siapa pun. Ia adalah tawaran Allah bagi semua orang, termasuk kita hari ini. Persoalannya bukan apakah Allah mau memberi, melainkan apakah kita masih merasa membutuhkannya. Yang kita kejar sekarang sering kali bukan hidup kekal, melainkan hidup nyaman: makan enak, uang cukup, kuasa besar, rasa aman, dan kenikmatan tanpa batas. Tidak salah, tetapi itu belum tentu sama dengan kerinduan akan hidup kekal.
Karena itu, pertanyaannya menjadi sangat pribadi: apakah cara hidupku sungguh menggambarkan kerinduan akan hidup kekal? Apakah relasiku dengan Allah memperlihatkan bahwa aku sedang menuju ke sana? Atau jangan-jangan hidup beragamaku hanya rutinitas yang rapi, tetapi tidak mengubah hati? Kita tahu, orang bisa rajin ke gereja, bahkan tiap hari hadir dalam ibadat, rosario, dan Ekaristi, tetapi hidupnya tetap melukai orang lain. Orang bisa tampak saleh, tetapi perilakunya justru menjadi batu sandungan. Di situlah Injil menelanjangi kita: hidup kekal bukan soal seberapa religius penampilan kita, melainkan apakah hidup kita sungguh memancarkan Allah.
Dalam Injil Yohanes, Filipus berkata kepada Yesus, “Tuhan, tunjukkanlah Bapa itu kepada kami.” Pertanyaan itu terasa sangat dekat. Filipus sudah lama bersama Yesus, tetapi masih bertanya tentang Bapa. Bukankah itu juga pertanyaanku? Aku pun sudah lama berdoa, sudah lama beribadat, sudah lama menyebut nama Tuhan, tetapi tetap ada saat-saat ketika aku bertanya lagi: Tuhan, di mana Engkau? Tunjukkanlah diri-Mu. Ada hari-hari ketika iman terasa mantap. Ada juga hari-hari ketika iman goyah dan meminta peneguhan ulang. Dan mungkin justru di situlah kejujuran iman kita: bukan berpura-pura selalu yakin, melainkan terus datang dan meminta Tuhan meneguhkan hati.
Maka pertanyaan penting untuk kita hari ini sederhana, tetapi tajam: dalam keseharianku, apakah orang dapat menemukan Allah melalui kehadiranku? Apakah perjumpaan denganku membuat orang melihat harapan akan hidup kekal? Apakah hidupku menghadirkan Allah, atau justru menutupi wajah-Nya? Bersama Yohanes, kita belajar berdoa agar hidup kita menjadi terang, menjadi garam, menjadi tanda harapan. Supaya di tengah zaman yang ribut dan gaduh ini, hidup kita tetap mengingatkan dunia bahwa manusia tidak hanya diciptakan untuk bertahan hidup, tetapi untuk hidup dalam kepenuhan Allah—untuk hidup kekal.
Pertanyaan dan upaya mencari kehidupan kekal ada dalam kosa kata orang dulu-dulu. Adanya dalam film-film atau dalam Sejarah kuno. Di dalam tulisan itu terbaca apa resep dan drama sekitar pencarian hidup kekal. Zaman ini, apakah hidup kekal masih jadi kosa kata kita?
Zaman ini obrolan orang terkait dengan harga BBM, MBG, KMP, Trump, perang. Di kalangan kristiani ada obrolan kelompok kecil tentang Pak Th. Sumartana, Paus Leo & Barack Obama yang menghebohkan dengan donasi 12 juta dollar untuk mengatasi kemiskinan.
Bacaan dari Kis. 13:44-52 dan Yoh. 14:7-14 merupakan bacaan yang kalau dibaca kronologisnya terbalik. Baca injil Yohanes dulu baru Kisah Rasul. Namun… kita tetap bisa merenungkan sesuai urutan munculnya.
Lukas yang menulis Kisah Para Rasul menghidupkan kembali peristiwa Paulus dan Barnabas di kota Antiokhia pada hari Sabat (Kis. 13:44). Terekam emosi iri hati di kerumunan itu. (Kis. 13:45). Ini perasaan yang muncul juga ketika Yesus berada di Bait Allah. Perasaan iri hati ini erat dalam manusia, terutama mereka yang beragama. Di Indonesia juga kita menyaksikan atau bahkan sudah mengalaminya langsung, entah seiman atau berbeda iman.
Tidak jelas perbantahannya secara rinci, namun dari bantahan Paulus dan Barnabas dapat tergambar apa yang dipermasalahkan. Ini juga yang diperdebatkan oleh Yesus dan para ahli Taurat. Bagi yang sudah membaca Perjanjian Lama, sebenarnya ini bukan lagi topik yang perlu diperbantahkan. Keselamatan memang tidak hanya khas untuk bangsa Yahudi. Itu kata nabi. Bukan lagi hak eksklusif Israel.
Hidup kekal merupakan tawaran Allah untuk
semua bangsa, termasuk untuk kita zaman ini. Persoalan kita, apakah hidup kekal telah menjadi kebutuhan yang kita rasakan? Yang kita kejar bukan lagi sekadar kenyamanan hidup, makan enak, uang berlimpah, kekuasaan tak terbatas, dan kenikmatan yang tiada tara.
Apakah cara hidup kita menggambarkan ini? Cara hidup berupa kerinduan akan hidup kekal? Apakah relasi kita dengan Allah sudah menggambarkannya? Atau seperti yang diobrolin dalam diskusi Child Grooming di Keuskupan Agung Jakarta, tentang orang yang rajin ke Gereja, bahkan setiap hari, namun kelakuannya brengsek? Bahkan melecehkan anak-anak dan orang dewasa yang rentan di lingkungan Gereja.
Dalam perikop di Kisah Para Rasul ini, kita mendapatkan gambaran kegembiraan umat yang tidak mengenal Allah. Bayangkanlah orang yang mendapatkan hadiah luar biasa besar. Namun, juga tergambar bagaimana orang Yahudi menghasut perempuan terkemuka yang takut Allah dan pembesar di kota, yang mengakibatkan penganiayaan terhadap Paulus dan Barnabas. Bukankah ini juga gambaran yang bisa kita jumpai zaman ini, entah di dalam gereja kita sendiri atau di Masyarakat kita: Iri hati, menghasut, penganiayaan? Memang jadi bahan cermin bagi kita, terutama para pemimpin agama, apakah sudah hidup sebagai orang yang menerima karunia hidup kekal?
Di perikop Yoh. 14:7-14, Yohanes tua mengisahkan percakapan Yesus dengan Filipus. Filipus sudah kenal Yesus, namun punya pertanyaan tentang Bapa (Yoh. 14:8). Apakah ini juga pertanyaanku? Bagaimana relasiku dengan Yesus? Bagaimana relasiku dengan Bapa? Tidak kenal? Apakah orang-orang dapat mengenali Bapa ketika berjumpa denganku?
Ketika membaca perikop ini berulang-ulang, pertanyaan Filipus ini menggambarkan ketidakpercayaanku juga. Ketika menggali ulang relasiku dengan Yesus dan pengalaman-pengalaman intim bersama Allah di sepanjang hidupku, mestinya pertanyaan seperti ini tidak muncul. Ada saat yang tidak meragukan, namun ada juga saat ragu, bertanya lagi. Aku memerlukan konfirmasi ulang kehadiran Allah, walaupun aku sudah berdoa, sudah mengikuti ibadat, merayakan perayaan Ekaristi harian, doa rosario, dan brevir. Itu bagian pergulatan pribadiku, yang aku yakin orang lain pun mengalaminya.
Pertanyaan pentingnya bagiku dan bagi kita semua: apakah dalam rutinitas keseharianku orang-orang menemukan Allah melalui kehadiranku? Apakah kehadiranku membuat orang-orang juga melihat harapan hidup kekal? Apakah perjumpaan-perjumpaanku mengarusutamakan kosa kata hidup kekal sebagai dambaan hidup zaman ini?
Bersama Yohanes, aku mendoakan kalimat yang Yesus pesankan, memintanya kepada Bapa, agar hidupku menjadi terang, garam, dan harapan akan kehidupan kekal.
