| Renungan hari ini dari bacaan 1 Raja-raja 11:29 – 32, 12:19; Markus 7:31 – 37 “Ia melakukan segala-galanya dengan baik; yang tuli dijadikan-Nya mendengar, yang bisu dijadikan-Nya berkata-kata.” (Mrk. 7: 37) |
Injil hari ini mengisahkan perjalanan Yesus meninggalkan Tirus, melewati Sidon, dan menuju Danau Galilea di wilayah Dekapolis, daerah yang mayoritas dihuni oleh orang-orang bukan Yahudi. Di sana orang-orang membawa kepada-Nya seorang yang tuli dan gagap. Mereka memohon agar Yesus meletakkan tangan atasnya.
Namun, Yesus tidak langsung bertindak di tengah keramaian. Ia membawa orang itu menjauh dari orang banyak. Tindakan ini penting: sebelum menyembuhkan, Yesus lebih dahulu membangun relasi pribadi. Orang yang selama ini hidup dalam kesunyian dan keterasingan, tidak mampu mendengar dengan jelas dan sulit berbicara, kini dipulihkan melalui sentuhan pribadi Sang Guru.
Yesus memasukkan jari-Nya ke telinga orang itu, lalu meludah dan menyentuh lidahnya. Lalu, sambil menengadah ke langit Ia mendesah dan berkata kepadanya,“Efata!”artinya: Terbukalah! Seketika itu juga telinganya terbuka dan lidahnya pulih, lalu ia berkata-kata dengan baik (Mrk. 7:33-35).
Peristiwa ini bukan sekadar mukjizat fisik. Markus dengan jelas menghubungkannya dengan nubuat Yesaya: “Pada waktu itu telinga orang-orang tuli akan dibuka… dan mulut orang bisu akan bersorak-sorai” (Yes. 35:5–6). Dalam diri Yesus, janji keselamatan Allah menjadi nyata. Allah sungguh hadir dan bekerja memulihkan manusia secara utuh.
Orang tuli dan gagap dalam Injil ini melambangkan kondisi rohani manusia. Kita bisa saja memiliki telinga yang sehat, tetapi hati yang tertutup. Kita mendengar firman Tuhan, tetapi tidak sungguh-sungguh menyimaknya. Kita membaca Kitab Suci, berdoa, bahkan melayani, namun tetap bertanya dalam hati: “Apakah Allah sungguh hadir? Mengapa aku tidak merasakan-Nya?”
Sering kali kita lebih peka terhadap suara media sosial, opini publik, dan kekhawatiran dunia daripada terhadap suara Tuhan. Kita juga bisa menjadi “gagap” dalam iman, tidak berani bersaksi, tidak mampu mengungkapkan kebenaran dengan kasih, atau bahkan memilih diam ketika keadilan dan kebenaran dipertaruhkan.
Menarik bahwa Yesus terlebih dahulu membuka telinga orang itu, baru kemudian melonggarkan lidahnya. Iman lahir dari pendengaran (Rm. 10:17). Kita hanya dapat berbicara dengan benar jika lebih dahulu mendengarkan dengan benar. Lidah yang benar mengalir dari hati yang telah disentuh sabda Allah.
“Ya Yesus, teguhkan imanku dan pakailah lidahku untuk berbicara dengan tepat. Amin”.
