| Renungan hari ini dari bacaan Mrk 8:11-13. “Mengapa angkatan ini meminta tanda? Aku berkata kepadamu, sesungguhnya kepada angkatan ini sekali-kali tidak akan diberi tanda.” (Markus 8:12) |
Dalam Injil Markus, kita melihat bagaimana orang-orang Farisi datang kepada Yesus Kristus dengan maksud yang tersembunyi. Mereka tidak datang sebagai pencari kebenaran, melainkan sebagai penguji. Mereka meminta tanda dari surga, bukan karena iman, tetapi karena ketidakpercayaan. Permintaan ini tampak rohani di permukaan, namun sesungguhnya merupakan bentuk penolakan yang halus. Mereka telah menyaksikan banyak mukjizat, mendengar pengajaran yang penuh kuasa, dan melihat kasih Allah dinyatakan secara nyata. Namun hati mereka tetap tertutup. Hal ini menunjukkan bahwa masalah utama bukanlah kurangnya tanda, melainkan kurangnya keterbukaan hati. Iman sejati tidak lahir dari bukti yang memaksa, tetapi dari hati yang rendah dan mau percaya.
Keluhan Yesus dalam hati-Nya mengungkapkan kedalaman kesedihan-Nya. Ia tidak marah karena ditantang, tetapi sedih karena manusia lebih mengandalkan tanda daripada membangun relasi iman. Tanda dapat memukau mata, tetapi tidak selalu mengubah hati. Bahkan mukjizat terbesar pun tidak akan berarti bagi mereka yang telah memutuskan untuk tidak percaya. Sikap ini menjadi peringatan bagi kita. Terkadang kita juga menuntut tanda dari Tuhan sebelum kita mau percaya atau taat. Kita berkata, “Tuhan, jika Engkau menjawab doaku dengan cara ini, maka aku akan percaya.” Sikap seperti ini menjadikan iman sebagai hasil dari bukti, bukan sebagai tanggapan atas kasih Allah. Padahal, iman sejati adalah kepercayaan yang tetap teguh, bahkan ketika tanda yang diharapkan tidak terlihat.
Yesus meninggalkan mereka dan menyeberang ke tempat lain. Tindakan ini memiliki makna rohani yang mendalam. Tuhan tidak memaksa diri-Nya kepada hati yang menolak-Nya. Ia hadir dan berkarya, tetapi Ia juga menghormati kebebasan manusia. Ini menjadi undangan bagi kita untuk memeriksa diri: apakah kita percaya karena tanda, atau karena kita mengenal dan mengasihi Tuhan? Kedewasaan iman terlihat ketika kita tetap setia, bukan karena mukjizat, tetapi karena kita percaya pada pribadi Tuhan itu sendiri. Renungan ini mengajak kita untuk tidak menjadi orang yang selalu menuntut bukti, tetapi menjadi pribadi yang percaya dengan hati yang tulus. Sebab iman yang dewasa tidak bergantung pada tanda, melainkan pada keyakinan bahwa Tuhan selalu hadir, bekerja, dan setia, bahkan dalam keheningan.
